Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw
Nama lengkap beliau: Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, lahir di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud) tahun Gajah , atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi...
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Jumat, 29 April 2016
LOLONGAN TANGIS ALMARHUMAH MANTAN PEMILIK AKUN FACEBOOK AKIBAT MENGUNGGAH FOTO-FOTO TIDAK SENONOH
Kamis, 28 April 2016
Berhati-hatilah Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain
Licik Dibalas Licik
Pada suatu sore ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, ada dua orang tamu datang ke rumahnya. yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."
Murid murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.
Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas, "Hai kalian semua, pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah, merusak rumah Tuan Kadi?", gumam murid-muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini. Barang siapa yang mencegahmu, jangan kau pedulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh. Barang siapa yang hendak melempar kalian maka pukullah mereka dan lemparilah batu..," kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya.
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakuan mereka. Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah tersebut. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian menghancurkan rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami."
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak ada orang yang berani membelanya.
"Dasar Abu Nawas provokator, Orang gila... Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap baginda, ia ditanya, "Hai Abu Nawas, apa sebabnya engkau merusak rumah Tuan Kadi."
"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi itu maka hamba merusaknya." jawab Abu Nawas.
Baginda berkata, "Hai Abu Nawas, bolehkan hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku".
Mendengar perkataan Abu Nawas, seketika wajah Tuah Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu basa.
"Hai Kadi, benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?", tanya Baginda.
Tuan Kadi tidak menjawab, tubuhnya gemetar karena takut.
"Abu Nawas, jangan membuatku pusing. Jelaskan mengapa ada peristiwa ini," perintah baginda.
"Baiklah...Baginda, Beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda mesir itu tidak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Tetapi Tuan Kadi bersikeras dan merampas semua harta benda milik pemuda mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya sepenuhnya, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si Pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir, ceritakanlah hal ikhwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sesuai dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yang Pak Tua pemilik tempat penginapan dimana dia menginap.
"Kurang ajar, ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejat moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampaas dan diberikan kepada si Pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, pulanglah si pemuda Mesir dan Abu nawas ke rumah Abu Nawas. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
"Jangan engkau berikan barang sesuatupun kepada ku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun juga." jawab Abu Nawas
Pemuda mesir itu sangat mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
Rabu, 27 April 2016
Wasiat Rasulullah saw: Memperbanyak Sujud Mengantarkan Engkau Ke Syurga
Dari Abu Abdullah, konon: Abu Abdurrahman, yaitu Tsauban budak Rasulullah saw dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Tetaplah kamu memperbanyak sujud, sesungguhnya kamu tidak bersujud kepada Allah dengan satu sujudan melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan melebur dari kamu satu dosa." Hadits Riwayat Muslim.
Jernihnya Sebuah Kedermawanan
Seorang laki-laki dari kaum Quraisy bercerita:
Suatu ketika, Muhammad bin Al-Munkadir dari Bani Taim bin Murrah, seorang penduduk Madinah yang ahli hadits dan sangat zuhud, pergi untuk berhaji bersama kawan-kawannya.
Sebelum berangkat, ia bersedekah kepada orang-orang, hingga semua barang miliknya habis, yang tersisa hanyalah baju yang dipakainya.
Dalam Perjalanan, rombongan Muhammad bin Al-Munkadir itu singgah di sebuah telaga yang mata airnya sangat jernih.
"Kita sudah tidak memiliki apa-apa, sisa uang kita hanya tinggal satu dirham saja, " kata pimpinan rombongan itu.
Mengetahu hal itu, Muhammad bin Al-Munkadir meneriakkan talbiyah yang kemudian diikuti oleh semua kawan-kawannya, bahkan juga semua orang yang singgah di telaga itu.
Di antara orang yang singgah itu ada Muhammad bin Hisyam, seorang yang pernah diangkat oleh Hisyam bin Abdul Malik sebagai gubernur di Mekkah dan Thaif pada tahun 114 H. Ketika Al Walid berkuasa, Muhammad bin Hisyam dipecat dan diturunkan jabatannya.
setelah mendengar suara talbiyah menggema, Muhammad bin Hisyam berkata:
"Demi Allah aku yakin di sekitar telaga ini ada Muhammad bin Al-Munkadir. Cobalah kalian cari dia."
Beberapa anak buah Muhammad bin Hisyam kemudian mendekati rombongan yang meneriakkan talbiyah, dan kenyatannya memang benar di sana ada Muhammad bin Al Munkadir.
Orang-orang yang diberi tugas itu kemudian kembali dan melapor kepada Muhammad bin Hisyam, bahwa Muhammad bin Al Munkadir memang benar ada di tempat itu.
"Aku kira dia telah kehabisan bekal dan uang. Bawalah uang sebanyak 400 dirham dan berikan padanya," perintah Muhammad bin Hisyam kepada anak buahnya.
Seorang Pendosa Yang Lebih Dekat di Sisi Allah daripada Ahli Ibadah
Senin, 25 April 2016
Sabtu, 23 April 2016
Daftar Nama dan Riwayat Kaum Sufi
Di bawah ini adalah daftar nama para sufi yang diambil dari Kitab Tadzkirotul Auliya ( Warisan Para Auliya) Karya Fariduddin Attar. Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama para sufi yang terkenal, namun secara pelan-pelan kami akan memuatnya satu persatu sedaya yang kami bisa. Fariduddin Attar sendiri sebenarnya adalah termasuk kaum sufi juga, dan menurut suatu riwayat, beliau terbunuh ketika kaum mongolia menjajah negeri Irak. Di kesempatan lain kami juga berencana mengusung artikel mengenai tokoh pengarang kitab ini, supaya lebih lengkap.
Berikut ini adalah nama-nama tokoh sufi yang terdapat pada kitab Tadzkirotul Auliya karangan Fariduddin Attar. Silahkan Klik daftar nama sufi yang ingin anda baca:
1. Hasan Al Bashri
2. Malik bin Dinar
3. Habib al-‘Ajami
4. Rabi’ah al-Adawiyah
5. Al-Fuzail bin Iyaz
6. Ibrahim bin Ad-ham
7. Bisyr bin Harits
8. Dzun Nun al-Mishri
9. Abu Yazid al-Busthami
10. Abdullah bin Mubarak
11. Sofyan ats-Tsauri
12. Syaqiq al-Balkh
13. Daud ath-Tha’i
14. Al Muhasibi
15. Ahmad bin Harb
16. Hatim al-Asham
17. Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari
18. Ma’ruf al-Karkhi
19. Sari as-Saqathi
20. Ahmad bin Khazruya
21. Yahya bin Mu’adz
22. Syah bin Syuja’
23. Yusuf bin al-Husain
24. Abu Hafshin al-Haddad
25. Abul Qasim al-Junaid ( Junaid Al-Baghdadi)
26. Amr bin ‘Utsman
27. Abu Sa’id al-Kharraz
28. Abul Husain an-Nuri
29. Abu ‘Utsman al-Hiri
30. Ibnu Atha’
31. Sumnun
32. At-Tirmidzi
33. Khair an-Nassaj
34. Abu Bakar al-Kattani
35. Ibnu Khafif
36. Al-Khallaj
37. Ibrahim al-Khauwah
38. Asy-Syibli
Tags:
kisah sufi, kisah para sufi, kaum sufi, riwayat sufi, cerita sufi, cerita kaum sufi, para sufi, cerita para sufi, hikayat sufi, hikayat para sufi, jalan para sufi, kisah teladan para sufi, kisah teladan sufi, paham sufisme, arti kata sufi, sufi, orang-orang sufi, daftar sufi, daftar para sufi, teladan sufi, cerita teladan sufi, cerita teladan para sufi, cerita teladan kaum sufi, kaum sufi jaman dahulu, wali allah, para wali allah, kisah wali allah, cerita wali allah, cerita wali-wali allah, kisah teladan wali-wali allah, kisah teladan wali allah, nama-nama wali Allah, wali allah zaman dulu, cerita teladan jaman dahulu, kisah orang sholeh, orang sholeh, kisah teladan orang sholeh, orang soleh jaman dulu, kisah orang soleh, cerita teladan orang soleh, cerita orang soleh, nama nama orang soleh, daftar orang sholeh jaman dulu. cerita orang soleh.
Takut Kepada Allah, Menjaga Lidah, dan Selektif Terhadap Makanan
Diriwayatkan bahwa terdapat seorang dari Bani Israil akan pergi menuntut ilmu. Berita itupun telah sampai kepada Nabi mereka saat itu. Lalu ia dipanggil menghadap nabinya, dan di depan orang itu, sang Nabi itu pun bersabda:
"Wahai pemuda! Sesungguhnya aku akan menasehati engkau dengan tiga perkara yang di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang-orang zaman akhir, yaitu takutlah kepada Allah, baik dalam situasi sepi dan ramai, jagalah lisan engkau, janganlah membicarakan sesuatupun tentang orang lain melainkan yang baik, dan perhatikan roti yang akan engkau makan, sehingga jelas kehalalannya."
Setelah menerima nasehat dari sang nabi, pemuda tersebut tidak jadi pergi keluar negeri untuk menuntut ilmu.
Kitab Nashoihul 'ibad karya Muhammad Nawawi Al Jawi
Kamis, 21 April 2016
Mutiara: Kios Ibadah, Modal dan Labanya
"Ibadah adalah sebuah perniagaan, kiosnya menyepi diri dan modalnya adalah taqwa"
Menyepi ( al-khalwah) ibarat tokonya ibadah yaitu berkontemplasi di kesepian agar hati dapat dengan tenang berhadapan langsung dengan Allah tanpa ada seorangpun yang tahu.
Taqwa adalah modalnya, taqwa di sini adalah dalam arti menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan siksa, baik sesuatu itu berupa melakukan perbuatan maupun meninggalkan perbuatan. Tanpa taqwa, ibadah tidak akan membawa untung besar.
Mutiara: Tangkis Tiga Keburukan dengan Tiga Kebaikan
"Tangkislah tiga perbuatan tercela dengan tiga perbuatan terpuji, agar engkau termasuk orang-orang yang benar-benar beriman. Cegahlah sikap sombong dengan tawadhu', cegahlah sikap rakus ( selalu merasa kurang dan berusaha menambah kekayaan, kedudukan, dll ) dengan sikap qana'ah ( merasa cukup dengan apa yang ada ) dan cegahlah sikap dengki dengan nasehat."
Antara Berbuat Dosa Sambil Tertawa dan Berbuat Taat Sambil Menangis
Ahli zuhud dimaksud adalah orang-orang yang memandang rendah dunia dan tidak mempedulikannya. Mereka mengambilnya hanya sekadar keperluan yang sangat dibutuhkan saja.
Barang siapa berbuat dosa sambil tertawa, yakni menanggung dosa dengan perasaan gembira dan bangga atas dosa yang dilakukannya itu - seharusnya dia bersedih dan beristighfar kepada Allah SWT agar diampuni dosanya - maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis.
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah, sambil menangis, karena merasa malu kepada Allah dan takut kepada-Nya, jangan jangan dia termasuk orang yang kurang memperhatikan dalam menjalankan ketaatannya itu, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan penuh kegembiraan, karena tercapainya apa yang diinginkan, yaitu pengampunan Allah swt.
Nashoihul Ibad Karya Muhammad Nawawi Al Jawi
Minggu, 17 April 2016
Abul Husein An-Nuri
Abul Husain Ahmad bin Muhammad an-Nuri, lahir di Baghdad dan keluarganya berasal dari Khurasan. Ia adalah murid Sari as-Saqathi dan sahabat karib al-Junaid. Sebagai seorang tokoh sufi terkemuka di kota Baghdad ia telah mengubah berbagai syair mistis yang indah. Ia meninggal pada tahun 295H/908 M.
DISIPLIN DIRI ABDUL HUSAIN AN-NURI
Abul Husain Ahmad an-Nuri melakukan disiplin diri seperti yag dilakukan oleh Al-Junaid. Ia dijuluki Nuri (Manusia yang memperoleh cahaya) karena setiap kali ia berbicara di suatu ruangan pada malam yang gelap, dari mulutnya keluar cahaya sehingga seluruh ruangan tersebut menjadi terang.Alasan lain mengapa ia dijuluki demikian adalah karena ia menjelaskan rahasia-rahasia yang paling pelik dengan cahaya intuisi. Tetapi versi yang ketiga mengatakan bahwa ia mempunyai sebuah tempat menyepi di tengah padang pasir, di mana ia biasa shalat di sepanjang malam dan apabila ia berada di tempat itu, orang-orang dapat menyaksikan cahaya yang memancar dari tempat tersebut.
Pada awal kehidupan sufinya, setiap hari ia keluar rumah pagi-pagi sekali dan pergi ke tokonya untuk mengambil beberapa potong roti untuk dibagi-bagikannya sebagai sedekah. Setelah itu barulah ia pergi ke masjid untuk shalat Shubuh dan tetap di situ sampai tengah hari. Kemudian ia baru pergi ke tokonya. Orang-orang di rumah menyangka bahwa ia telah makan di toko dan orang-orang di toko menyangka bahwa ia telah makan di rumah. Yang demikian dilakukannya secara terus menerus selama dua puluh tahun tanpa seorang pun yang mengetahui perihal yang sesungguhnya.
Mengenai dirinya sendiri, Abul Husain Ahmad an-Nuri berkisah sebagai berikut :
Bertahun-tahun aku berjuang, mengekang diri dan meninggalkan pergaulan ramai. Betapapun aku telah berusaha keras, namun jalan belum terbuka bagiku.
“Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki diriku.” Aku berkata di dalam hati. “Jika tidak, biarlah aku mati terlepas dari hawa nafsu ini.”
“Wahai jasmaniku,” aku berkata. “Bertahun-tahun sudah engkau menuruti hawa nafsumu sendiri, makan, melihat, mendengar, berjalan-jalan, mengambil, tidur, bersenang-senang dan memuaskan hasratmu. Sungguh, semua itu akan mencelakakanmu. Sekarang masuk lah ke dalam penjara, akan ku belenggu dirimu dan kukalungkan kepada lehermu segala kewajiban kepada Allah. Jika engkau sanggup bertahan dalam keadaan seperti itu, engkau pasti meraih kebahagiaan. Tapi jika kau tak sanggup maka setidaknya engkau akan mati di atas jalan Allah.”
Maka, berjalanlah aku di atas jalan Allah. Pernah kudengar bahwa hati para sufi merupakan alat yang amat awas dan mengetahui rahasia segala sesuatu yang terlihat dan terdengar oleh mereka. Karena aku sendiri tak memiliki hati yang seperti itu, maka aku pun berkata kepada diriku sendiri : “Ucapan-ucapan para Nabi dan manusa-manusia suci adalah benar. Mungkin sekali aku telah bersikap munafik dalam usahaku selama ini, dan kegagalanku ini adalah karena kesalahanku sendiri. Di sini tak ada tempat untuk berbeda pendapat. Sekarang aku ingin merenungi diriku sendiri sehingga aku benar-benar mengenalnya.”
Maka, aku merenungi diriku sendiri. Ternyata kesalahanku adalah bahwa hati dan hawa nafsuku bersatu. Bila hati dan hawa nafsu berpadu, celakalah! Karena jika ada sesuatu yang menyinari hati, maka hawa nafsu akan menyerap sebagian daripadanya. Sadarlah aku bahwa hal inilah yang menjadi sumber dilema yang ku hadapi selama ini. Segala sesuatu yang datang dari hadirat Allah ke dalam hatiku, sebagian diserap oleh hawa nafsuku.
Sejak saat itu, segala perbuatan yang diperkenankan oleh hawa nafsuku tidak kulakukan. Yang aku lakukan adalah hal-hal lain yang tak disukainya. Misalnya, apabila hawa nafsuku berkenan jika aku shalat, berpuasa, bersedekah, menyepi atau bergaul dengan sahabat-sahabatku, maka aku melakukan hal yang sebaliknya. Akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsuku dapat ku buang dan rahasia-rahasia mistik mulai terbuka di dalam diriku.
“Siapakah engkau,” aku bertanya..
“Aku adalah mutiara dari Lubuk Tanpa Hasyrat.” Terdengar jawaban. “Katakan kepada murid-muridmu, lubukku adalah Lubuk Tanpa Hasyrat dan mutiaraku adalah Mutiara dari Lubuk Tanpa maksud.”
Keudian aku turun ke sungai Tigris dan berdiri di antara dua buah biduk.
“Aku tidak akan beranjak dari tempat ini,” aku berkata. “sebelum ikan terjerat ke dalam jalaku.”
Akhirnya masuklah seekor ikan ke dalam jalaku. Ketika ku angkat jalaku itu, akupun berseru :
“Alhamdulillah, perjuanganku telah berhasil.”
Aku mengunjungi Junaid dan berkata kepadanya : “Sebuah karunia telah dilimpahkan kepadaku.”
“Abul Husain Ahmad an-Nuri, Junaid menjawab, “Jika yang terjerat oleh jalamu itu adalah seekor ular, bukan seekor ikan, itulah pertanda sebuah karunia. Karena engkau sendiri telah campur tangan. Hal itu hanyalah sebuah tipuan, bukan sebuah karunia. Tanda dari suatu karunia adalah bahwa engkau sama sekali tidak ada di sana lagi.”
NURI DI DEPAN KHALIFAH
Ketika Ghulam Khalil menyatakan perang terhadap para sufi, ia pergi menghadap khalifah dan mencela mereka.“Orang-orang telah menyaksikan beberapa kelompok sufi berdendang-dendang, menari-nari dan menghujjah Allah. Sepanjang hari mereka berjalan hilir mudik, dan di malam hari mereka bersembunyi di dalam kuburan-kuburan di bawah tanah, dan berkhotbah. Sufi-sufi ini adalah manusia-manusia bid’ah. Seandainya pangeran kaum Muslimin bersedia mengeluarkan perintah agar sufi- sufi ini dibunuh, niscaya doktrin bid’ah akan musnah, karena sesungguhnya mereka itulah pemimpin-pemimmpin para bid’ah. Jika hal ini dilakukan oleh pangeran kaum Muslimin, aku jamin bahwa ia akan memperoleh pahala yang berlimpah.”
Khalifah segera memerintahkan agar Abul Hamzah, Raqqam, Syibli, Nuri dan Junaid dibawa ke hadapannya. Setelah semuanya berkumpul, khalifah memerintahkan agar mereka dibunuh. Algojo mula-mula hendak memancung Raqqam tetapi nuri meloncat, menerjang maju dan berdiri menggantikan Raqqam.
“Bunuhlah aku yang sedang tertawa-tawa bahagia ini terlebih dahulu,” kata Nuri.
“Belum tiba giliranmu.” Jawab si algojo, “ sebuah pedang bukanlah sebuah senjata yang harus dipergunakan secara tergesa-gesa.”
“Jalanku ini berdasarkan kecintaan,” Nuri menjelaskan, “Aku lebih mencintai sahabatku daripada diriku sendiri. Yang paling berharga di atas dunia ini adalah kehidupan. Aku ingin memberikan beberapa saat kehidupan kepada Saudara-saudaraku ini, karena itulah aku ingin mengorbankan hidupku sendiri, walau aku berpendapat bahwa sesaat di atas dunia adalah jauh lebih berharga daripada seribu tahun di akhirat. Dunia ini adalah tempat berbakti di akhirat adalah tempat yang dekat kepada Allah, sedang untuk menghampiri-Nya harus berbakti kepada-Nya.”
Ucapan-ucapan Nuri ini disampaikan kepada khalifah yang menjadi sangat kagum karena ketulusan dan kejujuran Nuri itu. Maka diperintahkannya agar hukuman itu ditangguhkan dan persoalan mereka diserahkan kepada qadhi.
“Mereka tak dapat dituntut tanpa bukti-bukti,” si qadhi menjelaskan. Sesungguhnya si qadhi telah mendengarkan khotbah-khotbah Nuri dan mengetahui keahlian Nuri dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Maka berpalinglah ia kepada Syibli. “Akan ku tanyakan orang gila ini mengenai sesuatu bidang yang tidak akan sanggup dijawabnya,” ia berkata dalam hati.
“Berapakah yang dizakatkan seseorang bila ia memiliki uang dua puluh dinar?.” Si qadhi bertanya kepada Sybli.
“Dua puluh setengah dinar,” jawab Sybli.
“Siapakah yangmenetapkan zakat yang sebesar itu?.” Si qadhi menanya.
“Abu Bakar yang agung,” Jawab Sybli, “Ia memberikan semua yang dimilikinya sebanyak empat puluh ribu dinar sebagai zakat.” Jawab Sybli.
“Ya, tetapi mengapakah engkau tadi menambahkan setengah dinar?.
“Sebagai denda.” Jawab Sybli, “Ia telah menyimpan uang dua puluh dinar dan oleh karena itu ia harus membayar setengah dinar sebagai dendanya.”
Kemudian si qadhi berpaling kepada Nuri dan mempertanyakan sebuah masalah hukum. Nuri segera memberi sebuah jawaban yang membuat si qadhi bingung, Nuri memberi penjelasan.
“Qadhi, engkau telah mengajukan semua pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi tak satu pun di antaranya yang penting. Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang berdiri karena Dia, yang berjalan dan beristirahat karena Dia, yang hidup karena Dia dan berdiam diri merenungi-Nya. Apabila sesaat saja mereka berhenti merenungi-Nya nisaya binasalah mereka. Melalui Dia mereka tidur, melalui Dia mereka makan, melalui Dia mereka menerima, berjalan, melihat, mendengar dan melalui Dia mereka ada. Inilah ilmu yang sesungguhnya, bukan yang engkau pertanyakan itu.”
Si qadhi terbungkam tak dapat berkata apa-apa. Kemudian ia mengirim surat kepada khalifah.
“Jika orang-orang seperti mereka ini dianggap sebagai orang yang tiada bertuhan dan bid’ah, maka keputusanku adalah bahwa seluruh dunia ini tiada seorang pun yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa.”
Khalifah memerintahkan agar tahanan-tahanan itu di bawa ke hadapannya.
“Adakah sesuatu hal yang kalian inginkan?.” Khalifah bertanya kepada mereka.
“Ada” mereka menjawab. “Kami ingin agar engkau melupakan kami. Kami ingin agar engkau tidak memuliakan kami dengan restumu dan tidak mengusir kami dengan murkamu, karena bagi kami, kemurkaanmu itu sama dengan restumu, dan restumu itu sama dengan kemurkaanmu.”
Khalifah menangis dengan hati yang tersayat dan membebaskan mereka dengan segala hormat.
ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI NURI
Pada suatu hari beliau melihat seseorang yang sedang shalat sambil memutar-mutar kumisnya.“Janganlah engkau sentuh kumis Allah,” Nuri menghardiknya.
Seruan itu dilaporkan orang kepada Khalifah. Ahli-ahli hukum sudah sepakat bahwa ucapan seperti itu, berarti Nuri telah tergelincir ke dalam kekafiran. Oleh karena itu, Nuri dihadapkan kepada khalifah.
“Benarkah engkau telah mengucapkan kata-kata seperti itu?.” Tanya khalifah.
“Benar,” jawab Nuri.
“Mengapa engkau berkata demikian?.” Tanya khalifah lagi.
“Siapakah yang memilik hamba Allah?.” Nuri balik bertanya kepada khalifah.
“Allah,” jawab khalifah.
“Siapakah yang memiliki kumis hamba-Nya itu?,” Nuri melanjutkan.
“Dia yang memiliki si hamba,” jawab khalifah.
Di kemudian hari khalifah berkata : “Aku bersyukur kepada Allah karena Dia telah mencegahku untuk membinasakan Nuri.”
“Di kejauhan yang tak terlihat, nampaklah oleh ku sebuah cahaya,” Nuri berkata, “aku tersu menatapnya hingga aku sendirilah yang menjadi cahaya itu.”
oooOOOooo
Pada suatu hari Junaid mengunjungi Abul Husain Ahmad an-Nuri. Sesampainya di rumah Abul Husain Ahmad an-Nuri, Abul Husain Ahmad an-Nuri menyambut kedatangannya denga merebahkan diri di depan Junaid. Kemudian Nuri mengeluh karena ia telah diperlakukan secara tidak adil.
“Perjuanganmu semakin berat, sedangkan engkau sudah kehabisan tenaga. Selama tiga puluh tahun ini. apabila Dia ada, maka akupun tiada, dan apabila aku ada, maka Dia pun tiada. Ada-Nya adalah tiadaku. Semua permohonan-permohonanku dijawab-Nya dengan ‘Aku sajalah yang ada, atau engkau saja.”
Junaid berkata kepada sahabat-sahabatnya : “Saksikanlah oleh kalian seorang manusia yang telah mengalami percobaan yang semakin beratnya dan telah bingung dibau Allah.”.
Kemudian Junaid berpaling kepada Nuri dan berkata :
“Memang begitulah seharusnya. Dia tertutup oleh engkau. Apabila Dia terlihat melalui engkau meka engkau menjadi tiada dan segala yang ada adalah Dia.
oooOOOooo
Beberapa sahabat mengunjungi Junaid dan berkata : “Telah beberapa hari ini, baik siang maupun malam, dengan membawa sebuah batu di tangannya Abul Husain Ahmad an-Nuri berjalan hilir mudik sambil berteriak-teriak : “Allah, Allah,” Dan selama itu ia tidak makan, tidak minum dan tidak tidur tetapi ia tetap melakukan shalat tepat pada waktunya dan tidak pernah melalaikannya.”
Kemudian mereka berkata :
“Ia masih waras dan belum beralih ke dalam keadaan lupa diri. Hal ini terbukti karena ia masih ingat kapan harus melakukan shalat dan masih dapat melakukannya. Itulah tanda bahwa ia masih sadar dan belum lupa diri. Seseorang yang telah lupa diri takkan sadar akan sesuatu pun.”
“Bukan demikian halnya,” Junaid menjawab, “Semuanya yang kalian katakan itu tidak benar. Sesungguhnya manusia-manusia yang memuji-muji Allah, mereka akan dipelihara , dan di jaga Allah agar mereka tidak lalai beribadah kepada-Nya, apabila tiba saatnya bagi mereka untuk beribadah.
Junaid kemudian pergi mengunjungi Nuri.
“Abul Husain” ia berkata kepada Abul Husain Ahmad an-Nuri, “Jika engkau memang tahu bahwa dengan berteriak-teriak itu Allah berkenan kepadamu, katakanlah kepadaku agar aku akan berteriak-teriak pula. Jika engkau memang tahu bahwa kepuasan bersama Dia adalah lebih baik, maka pergilah menyepi sehingga bathinmu memperoleh damai.”
Abul Husain Ahmad an-Nuri segera menghentikan teriak-teriakannya itu. “engkau memang seorang guru sejati,” katanya kepada Junaid.
oooOOOooo
Sybli sedang berkhotbah ketika Abul Husain Ahmad an-Nuri masuk dan berdiri di sisinya.
“Sejahteralah engkau wahai Abu Bakar!.” Abul Husain Ahmad an-Nuri mengucap salam kepada Sibli.
“Semoga engkau pun memperoleh sejahtera, wahai pangeran di antara manusia-manusia yang murah hati,” Sibli membalas salamnya.
Abul Husain Ahmad an-Nuri berkata : “Allah Yang Maha Besar tidak senang terhadap seorang berilmu yang mengajarkan ilmunya sedang ia sendiri tidak melaksanakannya. Jika engkau melaksanakan hal-hal yang engkau ajarkan ini, tetaplah di atas mimbar itu. Jika tidak, turunlah.”
Sybli merenung. Ternyata ia sendiri tidak melaksanakan hal-hal yang dikhotbahkannya itu. Oleh karena itu ia pun turun dari atas mimbar itu. Selama empat bulan ia mengunci diri dan tak pernah keluar dari rumahnya. Kemudian dengan berbondong-bondong orang mendatangi Sybli, membawa dan menyuruhnya berbicara di atas mimbar. Hal ini terdengar oleh Abul Husain Ahmad an-Nuri dan ia pun segera ke tempat itu.
“Abu Bakar,” Nuri berseru kepada Sybli. “Engkau menyembunyikan kebenaran dari mereka, jadi wajarlah apabila mereka menyuruhmu berbicara di atas mimbar. Aku sendiri dengan setulus hati telah mencoba manasehati mereka tetapi mereka mengusirku dengan lontaran batu dan melemparkanku ke termpat sampah.”
“Wahai pangeran di antara manusia-manusia yang murah hati. Apakah nasehat yang hendak kau sampaikan itu dan apakah kebenaran yang aku sembunyikan itu?.” Sybli bertanya kepada Nuri.
“Nasehatku,” Abul Husain Ahmad an-Nuri menjawab, “biarkanlah manusia pergi kepada Tuhannya. Rahasia yang engkau sembunyikan adalah bahwa engkau menjadi sebuah tirai yang memisahkan Allah dari manusia. Siapakah engkau ini sebenarnya sehingga engkau menjadi penengah di antara Allah dengan ummat manusia sedangkan menurut pandanganku engkau belum patut dimuliakan seperti itu?.”
oooOOOooo
Abul Husain Ahmad an-Nuri duduk bersama seseorang. Keduanya menangis tersedu-sedu. Ketika orang itu telah pergi, Abul Husain Ahmad an-Nuri berpaling kepada sahabat-sahabatnya dan bertanya :
“Tahukah kalian siapakah orang tadi?.”
“Tidak,” jawab mereka.
“Dia itu Iblis,” Abul Husain Ahmad an-Nuri menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya. “Tadi ia mengisahkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya dan riwayat hidupnya, kemudian ia meratapi kedukaan hatinya karena telah berpisah dari Allah. Seperti yang telah kalian saksikan si Iblis menangis dan aku pun turu menangis beserta dia.”
oooOOOooo
Ja’far al-Khuldi berkisah, Abul Husain Ahmad an-Nuri sedang berdoa di suatu tempat yang terpencil. Aku dapat mendengar apa-apa yang diucapkannya.
“Ya Allah,” Abul Husain Ahmad an-Nuri berkata di dalam doanya, “Engkau menghukum penghuni-penghuni neraka. Semua mereka adalah ciptaan-Mu, melalui ke Maha-Tahuan-Mu, Kemahakuasaan-Mu dan Kehendak -Mu, sejak sedia kala. Jika Engkau memang menghendaki manusia ke dalam neraka, Engkaulah yang berkuasa untuk melemparkan mereka ke dalam neraka dan mengantarkan mereka ke dalam surga.”
Aku takjub mendengar kata-kata itu. Kemudian pada suatu malam aku bermimpi. Dalam mimpi itu seseorang datang menjumpaiku dan berkata :
“Allah memerintahkan : “Katakanlah kepada Abul Husain, sesungguhnya Aku telah memuliakan dan menaruh belas kepadamu karena doamu itu.”
oooOOOooo
Abul Husain Ahmad an-Nuri meriwayatkan, pada suatu malam ketika kulihat tidak seorang pun yang berada di sekitar Ka’bah aku pun berjalan mengelilingi. Setiap kali melalui Hajarul Aswad aku melakukan shalat dan beroda :
“Ya Allah, berikanlah kepadaku suatu kehidupan dan suatu sifat yang kekal.”
Kemudian pada suatu hari terdengarlah olehku sebuah suara dari dalam Ka’bah :
“Abul Husain, apakah engkau hendak menyamai-Ku? Aku tidak berubah dari sifat-Ku tetapi aku membuat hamba-hamba-Ku bergerak dan berubah. Hal itu Kulakukan agar Ketuhanan menjadi jelas berbeda dari penghambaan. Hanya Aku sajalah yang kekal di dalam satu sifat sedang sifat manusia senantiasa berubah.”
oooOOOooo
Sybli meriwayatkan : Aku pergi mengunjungi Abul Husain Ahmad an-Nuri. Aku dapati ia sedang bermeditasi dan tak sehelai rambutnya pun yang bergerak.
“Dari siapakah engkau belajar meditasi yang seperti ini?,” aku bertanya kepadanya.
“Dari seekor kucing yang duduk di lobang tikus,” jawab Abul Husain Ahmad an-Nuri. Binatang itu malah lebih tenang daripada aku.”
oooOOOooo
Pada suatu malam penduduk Qadisiyah gempar mendengar berita :
“Seorang sahabat Allah terkurung di Lembah Singa. Selamatkanlah dia!.”
Semua orang bergegas ke Lembah Singa. Di sana mereka menemui Nuri sedang duduk di pinggir lobang kuburan yang telah di galinya sendiri, sedang singa-singa duduk mengurung dirinya. Orang-orang menyelamatkan Nuri dan membawanya kembali. Sesampainya di Wadisiyah mereka bertanya kepadanya apakah sebenarnya yang telah terjadi.
“Setelah beberapa lama aku berpuasa,” Nuri mengisahkan. “Ketika aku berjalan di padang pasir itu terlihatlah olehku sebuah pohon kurma. Aku ingin sekali mencicipi buah kurma yang segar itu. Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri : “Ternyata masih ada hasrat di dalam hatimu. Akan kumasuki Lembah Singa ini agar engkau dicabik-cabiknya sehingga engkau tidak bisa menginginkan kurma lagi.”
oooOOOooo
Nuri mengisahkan, suatu hari ketika aku sedang mandi di sebuah telaga, seorang pencuri melarikan pakaianku. Belum sempat aku keluar dari telaga itu, si pencuri telah kembali untuk menyerahkan pakaian itu kepadaku lagi. Ternyata tangannya terkena sampar. Aku berseru : “Ya Allah, karena ia telah mengembalikan pakaianku, maka sembuhkan pulalah tangannya!.”
Sesaat itu juga tanganya sembuh.
oooOOOooo
Pasar budak di kota Baghdad terbakar dan banyak orang yang terbakar hidup-hidup. Di dalam sebuah toko, dua orang budak yahudi yang tampan terkurung api.
Pemilik budak itu berteriak-teriak : “Siapa saja yang dapat menyelamatkan mereka, akan kuberi seribu keping dinar emas.”
Tetapi tak seorang pun berani mencoba menyelamatkan budak-budak itu. Pada saat itu muncullah Nuri dan terlihat olehnya kedua budak yang masih muda itu berteriak-teriak meminta tolong.
Sambil mengucap “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” Nuri mencebur ke dalam lautan api itu dan menyelamatkan keduanya. Kemudian pemilik budak-budak itu hendak memberi seribu dinar emas seperti yang telah dijanjikannya, kepada Nuri.
“Simpanlah emas-emasmu itu,” Nuri menolak,” Berterimakasihlah kepada Allah. Sesungguhnya kemuliaan yang telah diberikan kepadaku ini adalah karena aku tidak mau menerima emas dan menukar akhirat dengan dunia.”
oooOOOooo
Pada suatu hari ada seorang buta mengeluh : “Ya Allah, Ya Allah.” Nuri lalu menghampiri orang buta itu dan berkata :
“Apakah yang engkau ketahui tentang Allah? Seandainya pun engkau telah mengenal-Nya mengapakah engkau masih hidup?.”
Setelah berkata demikian kesadaran Nuri hilang dan dadanya dipenuhi oleh hasrat mistis. Maka berjalanlah ia menuju padang pasir melalui padang alang-alang yang baru ditebas sehingga aku dan tubuhnya penuh luka. Daai setiap tetes darahnya yang tertumpah ke atas tanah terdengar suara : Ya Allah, Ya Allah.”
Abu Nasr bin Sarraj mengatakan ketika orang-orang membawa Nuri pulang dari padang alang-alang itu mereka berkata kepadanya : “Katakanlah, tiada Tuhan selain Allah.”
Nuri menjawab : “Aku justru sedang menuju kepada-Nya,”
Dan tidak lama kemudian ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya - Fariduddin At-Tar..
Senin, 11 April 2016
Tafakur : Bumi Adalah Sebuah Titik Super Kecil di Angkasa Raya
Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit & bumi, & silih bergantinya malam & siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring & mereka memikirkan tentang penciptaan langit & bumi (seraya berkata):
'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.' "
(Ali Imran 190-191)
Susunan planet yang mengelilingi Matahari dari terdekat hingga terjauh ; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto.
Mari kita bandingkan :
1. Besar Bumi vs Jupiter :
7. Cluster Galaksi tidak sendirian. Ada banyak lagi Cluster galaksi ribuan bahkan milyaran membentuk kelompok Super Cluster Galaksi,,,, Subahaanallaah dan begitu seterusnya hingga terbentuklah jagat raya.
Subhanallah.. Sarang Burung Penenun (Weaver) Yang Menakjubkan











Tujuh Hal Tentang Dunia

Nabi saw bersabda:
"Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, harta bagi orang yang tidak berharta, hanya orang yang tidak berakal yang selalu menumpuk-numpuknya. Orang yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang dunia, ia akan sibuk memperturutkan hawa nafsu dengannya, dan orang yang tak berilmulah yang gelisah karenanya, dan orang yang dengki dalam urusan dunia, dialah orang yang tidak memiliki hati nurani, dan orang yang tidak mempunyai keyakinan, akan terus berusaha keras untuk mencarinya."
Nabi saw juga bersabda:
"Jika seseorang berusaha mencari harta demi memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia berusaha demi kelangsungan hidup kedua orang tuanya yang sudah tua, maka dia termasuk di jalan Allah. Jika dia berusaha untuk dirinya sendiri agar tidak meminta-minta pada orang lain, maka dia juga berada di jalan Allah. Jika dia pergi mencari harta karena riya' dan berbangga-banggaan, maka di berada di jalan syetan." (HR Thabrani).
Nasihat Buat Hamba Allah - Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi
Minggu, 10 April 2016
Perang Badar
Perang Badar

Pertempuran Badar / perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.
Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Perang Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan itu. Nabi Muhammad saw saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.
Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.
Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Perang Uhud.
Latar Belakang Peperangan Badar
Nabi Muhammad saw
Pada awal peperangan, Jazirah Arab dihuni oleh suku-suku yang berbicara dalam bahasa Arab. Beberapa diantaranya adalah suku Badui; bangsa nomad penggembala yang terdiri dari berbagai macam suku; beberapa adalah suku petani yang tinggal di oasis daerah utara atau daerah yang lebih subur di bagian selatan (sekarang Yaman dan Oman). Mayoritas bangsa Arab menganut kepercayaan politeisme. Beberapa suku juga memeluk agama Yahudi, Kristen (termasuk paham Nestorian), dan Zoroastrianisme.Nabi Muhammad saw lahir di Mekkah sekitar tahun 570 Masehi dari keluarga Bani Hasyim dari suku Quraisy. Ketika berumur 40 tahun, ia mengalami pengalaman spiritual yaitu menerima wahyu ketika sedang menyepi di suatu gua, yakni Gua Hira di luar kota Mekkah. Ia mulai berdakwah kepada keluarganya dan setelah itu baru berdakwah kepada umum. Dakwahnya ada yang diterima dengan baik tapi lebih banyak yang menentangnya. Pada periode ini, Nabi Muhammad saw dilindungi oleh pamannya Abu Thalib. Ketika pamannya meninggal dunia sekitar tahun 619 Masehi, kepemimpinan Bani Hasyim diteruskan kepada salah seorang musuh Nabi Muhammad saw, yaitu Amr bin Hisyam Abu Jahal) yang menghilangkan perlindungan kepada Nabi Muhammad saw serta meningkatkan penganiayaan terhadap komunitas Muslim.
Pada tahun 622 Masehi, dengan semakin meningkatnya kekerasan terbuka yang dilakukan kaum Quraisy kepada kaum Muslim di Mekkah, Nabi Muhammad saw dan banyak pengikutnya hijrah ke Madinah. Hal ini menandai dimulainya kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin suatu kelompok dan agama.
Ghazawāt (serangan)
Setelah kejadian hijrah, ketegangan antara kelompok masyarakat di Mekkah dan Madinah semakin memuncak dan pertikaian terjadi pada tahun 623 ketika kaum Muslim memulai beberapa serangan (sering disebut ghazawāt dalam bahasa Arab) pada rombongan dagang kaum Quraisy Mekkah. Madinah terletak di antara rute utama perdagangan Mekkah. Meskipun kebanyakan kaum Muslim berasal dari kaum Quraisy juga, mereka yakin akan haknya untuk mengambil harta para pedagang Quraisy Mekkah tersebut, karena sebelumnya mereka telah menjarah harta dan rumah kaum muslimin yang ditinggalkan di Mekkah (karena hijrah) dan telah mengeluarkan mereka dari suku dan kaumnya sendiri, sebuah penghinaan dalam kebudayaan Arab yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Kaum Quraisy Mekkah jelas-jelas mempunyai pandangan lain terhadap hal tersebut, karena mereka melihat kaum Muslimin sebagai penjahat dan juga ancaman terhadap lingkungan dan kewibawaan mereka.Pada akhir tahun 623 dan awal tahun 624, aksi ghazawāt semakin sering dan terjadi di mana-mana. Pada bulan September 623, Nabi Muhammad saw memimpin sendiri 200 orang kaum Muslim melakukan serangan yang gagal terhadap rombongan besar kafilah Mekkah. Tak lama setelah itu, kaum Quraisy Mekkah melakukan "serangan balasan" ke Madinah, meskipun tujuan sebenarnya hanyalah untuk mencuri ternak kaum Muslim. Pada bulan January 624, kaum Muslim menyerang kafilah dagang Mekkah di dekat daerah Nakhlah, hanya 40 kilometer di luar kota Mekkah, membunuh seorang penjaga dan akhirnya benar-benar membangkitkan dendam di kalangan kaum Quraisy Mekkah. Terlebih lagi dari sudut pandang kaum Quraisy Mekkah, penyerangan itu terjadi pada bulan Rajab; bulan yang dianggap suci oleh penduduk Mekkah. Menurut tradisi mereka, dalam bulan ini peperangan dilarang dan gencatan senjata seharusnya dijalankan. Berdasarkan latar-belakang inilah akhirnya Pertempuran Badar terjadi.
Pertempuran
Pergerakan pasukan menuju Badar.
Di musim semi tahun 624, Nabi Muhammad saw mendapatkan informasi dari mata-matanya bahwa salah satu kafilah dagang yang paling banyak membawa harta pada tahun itu, dipimpin oleh Abu Sufyan dan dijaga oleh tiga puluh sampai empat puluh pengawal, sedang dalam perjalanan dari Suriah menuju Mekkah. Mengingat besarnya kafilah tersebut, atau karena beberapa kegagalan dalam penghadangan kafilah sebelumnya, Nabi Muhammad saw mengumpulkan pasukan sejumlah lebih dari 300 orang, yang sampai saat itu merupakan jumlah terbesar pasukan Muslim yang pernah diterjunkan ke medan perang.Pergerakan menuju Badar
Nabi Muhammad saw memimpin pasukannya sendiri dan membawa banyak panglima utamanya, termasuk pamannya Hamzah dan para calon Khalifah pada masa depan, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Kaum Muslim juga membawa 70 unta dan 3 kuda, yang berarti bahwa mereka harus berjalan, atau tiga sampai empat orang duduk di atas satu unta. Namun, banyak sumber-sumber kalangan Muslim pada awal masa itu, termasuk dalam Al-Qur'an sendiri, tidak mengindikasikan akan terjadinya suatu peperangan yang serius, dan calon khalifah ketiga Utsman bin Affan juga tidak ikut karena istrinya sakit.Ketika kafilah dagang Quraisy Mekkah mendekati Madinah, Abu Sufyan mulai mendengar mengenai rencana Nabi Muhammad saw untuk menyerangnya. Ia mengirim utusan yang bernama Damdam ke Mekkah untuk memperingatkan kaumnya dan mendapatkan bala bantuan. Segera saja kaum Quraisy Mekkah mempersiapkan pasukan sejumlah 900-1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang tersebut. Banyak bangsawan kaum Quraisy Mekkah yang turut bergabung, termasuk di antaranya Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Umayyah bin Khalaf. Alasan keikut-sertaan mereka masing-masing berbeda. Beberapa ikut karena mempunyai bagian dari barang-barang dagangan pada kafilah dagang tersebut, yang lain ikut untuk membalas dendam atas Ibnu al-Hadrami, penjaga yang tewas di Nakhlah, dan sebagian kecil ikut karena berharap untuk mendapatkan kemenangan yang mudah atas kaum Muslim. Amr bin Hisyam (Abu Jahal) juga disebutkan menyindir setidak-tidaknya seorang bangsawan, yaitu Umayyah ibn Khalaf, agar ikut serta dalam penyerangan ini.
Di saat itu pasukan Nabi Muhammad saw sudah mendekati tempat penyergapan yang telah direncanakannya, yaitu di sumur Badar, suatu lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang sedang dalam rute perdagangan dari Suriah. Akan tetapi, beberapa orang petugas pengintai kaum Muslim berhasil diketahui keberadaannya oleh para pengintai kafilah dagang Quraisy tersebut dan Abu Sufyan kemudian langsung membelokkan arah kafilah menuju Yanbu.
Rencana pasukan Muslim
"Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir". Al-Anfal: 7Pada saat itu telah sampai kabar kepada pasukan Muslim mengenai keberangkatan pasukan dari Mekkah. Nabi Muhammad saw segera menggelar rapat dewan peperangan, disebabkan karena masih adanya kesempatan untuk mundur dan di antara para pejuang Muslim banyak yang baru saja masuk Islam (disebut kaum Anshar atau "Penolong", untuk membedakannya dengan kaum Muslim Quraisy), yang sebelumnya hanya berjanji untuk membela Madinah. Berdasarkan pasal-pasal dalam Piagam Madinah, mereka berhak untuk menolak berperang serta dapat meninggalkan pasukan. Meskipun demikian berdasarkan tradisi Islam (sirah), dinyatakan bahwa mereka pun berjanji untuk berperang. Sa'ad bin Ubadah, salah seorang kaum Anshar, bahkan berkata "Seandainya engkau (Muhammad) membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu." Akan tetapi, kaum Muslim masih berharap dapat terhindar dari suatu pertempuran terbuka, dan terus melanjutkan pergerakannya menuju Badar.
Pada tanggal 15 Maret, kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari Badar. Beberapa pejuang Muslim (menurut beberapa sumber, termasuk Ali bin Abi Thalib) yang telah berkuda di depan barisan utama, berhasil menangkap dua orang pembawa persedian air dari pasukan Mekkah di sumur Badar. Pasukan Muslim sangat terkejut ketika mendengar para tawanan berkata bahwa mereka bukan berasal dari kafilah dagang, melainkan berasal dari pasukan utama Quraisy. Karena menduga bahwa mereka berbohong, para penyelidik memukuli kedua tawanan tersebut sampai mereka berkata bahwa mereka berasal dari kafilah dagang. Akan tetapi berdasarkan catatan tradisi, Nabi Muhammad saw kemudian menghentikan tindakan tersebut. Beberapa catatan tradisi juga menyatakan bahwa ketika mendengar nama-nama para bangsawan Quraisy yang menyertai pasukan tersebut, beliau berkata "Itulah Mekkah. Ia telah melemparkan kepada kalian potongan-potongan hatinya." Hari berikutnya Nabi Muhammad saw memerintahkan melanjutkan pergerakan pasukan ke wadi Badar dan tiba di sana sebelum pasukan Mekkah.
Sumur Badar terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama "Yalyal". Bagian barat lembah dipagari oleh sebuah bukit besar bernama "'Aqanqal". Ketika pasukan Muslim tiba dari arah timur, Nabi Muhammad saw pertama-tama memilih menempatkan pasukannya pada sumur pertama yang dicapainya. Tetapi, beliau kemudian tampaknya berhasil diyakinkan oleh salah seorang sahabat, untuk memindahkan pasukan ke arah barat dan menduduki sumur yang terdekat dengan posisi pasukan Quraisy. Nabi Muhammad saw kemudian memerintahkan agar sumur-sumur yang lain ditimbuni, sehingga pasukan Mekkah terpaksa harus berperang melawan pasukan Muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa.
Rencana pasukan Mekkah
"Semua suku Arab akan mendengar bagaimana kita akan maju ke depan dengan segala kemegahan kita, dan mereka akan mengagumi kita untuk selama-lamanya." - Abu Jahal dengan kesombongannya.Di sisi lain, meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai perjalanan pasukan Quraisy sejak saat mereka meninggalkan Mekkah sampai dengan kedatangannya di perbatasan Badar, beberapa hal penting dapat dicatat: adalah tradisi pada banyak suku Arab untuk membawa istri dan anak-anak mereka untuk memotivasi dan merawat mereka selama pertempuran, tetapi tidak dilakukan pasukan Mekkah pada perang ini. Selain itu, kaum Quraisy juga hanya sedikit atau sama sekali tidak menghubungi suku-suku Badui sekutu mereka yang banyak tersebar di seluruh Hijaz. Kedua fakta itu memperlihatkan bahwa kaum Quraisy kekurangan waktu untuk mempersiapkan penyerangan tersebut, karena tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang mereka.
Ketika pasukan Quraisy sampai di Juhfah, sedikit di arah selatan Badar, mereka menerima pesan dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagang telah aman berada di belakang pasukan tersebut, sehingga mereka dapat kembali ke Mekkah. Pada titik ini, menurut penelitian Karen Armstrong, muncul pertentangan kekuasaan di kalangan pasukan Mekkah. Amr bin Hisyam (Abu Jahal) ingin melanjutkan perjalanan, tetapi beberapa suku termasuk Bani Zuhrah dan Bani 'Adi, segera kembali ke Mekkah. Armstrong memperkirakan suku-suku itu khawatir terhadap kekuasaan yang akan diraih oleh Amr bin Hisyam (Abu Jahal), dari penghancuran kaum Muslim. Sekelompok perwakilan Bani Hasyim yang juga enggan berperang melawan saudara sesukunya, turut pergi bersama kedua suku tersebut. Di luar beberapa kemunduran itu, Amr bin Hisyam (Abu Jahal) tetap teguh dengan keinginannya untuk bertempur, dan bersesumbar "Kita tidak akan kembali sampai kita berada di Badar". Pada masa inilah Abu Sufyan dan beberapa orang dari kafilah dagang turut bergabung dengan pasukan utama.
Hari pertempuran
Peta pertempuran. Pasukan Mekkah (Hitam) mendekati dari arah barat, sedangkan pasukan Muslim (Merah) mengambil posisi-posisi di depan sumur-sumur Badar.Di saat fajar tanggal 17 Maret, pasukan Quraisy membongkar kemahnya dan bergerak menuju lembah Badar. Telah turun hujan pada hari sebelumnya, sehingga mereka harus berjuang ketika membawa kuda-kuda dan unta-unta mereka mendaki bukit 'Aqanqal (beberapa sumber menyatakan bahwa matahari telah tinggi ketika mereka berhasil mencapai puncak bukit). Setelah menuruni bukit 'Aqanqal, pasukan Mekkah mendirikan kemah baru di dalam lembah. Saat beristirahat, mereka mengirimkan seorang pengintai, yaitu Umair bin Wahab, untuk mengetahui letak barisan-barisan Muslim. Umair melaporkan bahwa pasukan Muhammad berjumlah kecil, dan tidak ada pasukan pendukung Muslim lainnya yang akan bergabung dalam peperangan. Akan tetapi ia juga memperkirakan akan ada banyak korban dari kaum Quraisy bila terjadi penyerangan (salah satu hadits menyampaikan bahwa ia melihat "unta-unta (Madinah) yang penuh dengan hawa kematian"). Hal tersebut semakin menurunkan moral kaum Quraisy, karena adanya kebiasaan peperangan suku-suku Arab yang umumnya sedikit memakan korban, dan menimbulkan perdebatan baru di antara para pemimpin Quraisy. Meskipun demikian, menurut catatan tradisi Islam, Amr bin Hisyam (Abu Jahal) membungkam semua ketidak-puasan dengan membangkitkan rasa harga diri kaum Quraisy dan menuntut mereka agar menuntaskan hutang darah mereka.
Pertempuran diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding. Tiga orang Anshar maju dari barisan Muslim, akan tetapi diteriaki agar mundur oleh pasukan Mekkah, yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan Muslim Quraisy. Karena itu, kaum Muslim kemudian mengirimkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan Hamzah. Para pemimpin Muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin Mekkah dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun Ubaidah mendapat luka parah yang menyebabkan ia wafat.
Selanjutnya kedua pasukan mulai melepaskan anak panah ke arah lawannya. Dua orang Muslim dan beberapa orang Quraisy yang tidak jelas jumlahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung, Nabi Muhammad saw telah memberikan perintah kepada kaum Muslim agar menyerang dengan senjata-senjata jarak jauh mereka, dan bertarung melawan kaum Quraisy dengan senjata-senjata jarak pendek hanya setelah mereka mendekat. Segera setelah itu beliau saw memberikan perintah untuk maju menyerbu, sambil melemparkan segenggam kerikil ke arah pasukan Mekkah; suatu tindakan yang mungkin merupakan suatu kebiasaan masyarakat Arab, dan berseru "Kebingungan melanda mereka!" Pasukan Muslim berseru "Ya manshur, amit!!" dan mendesak barisan-barisan pasukan Quraisy. Besarnya kekuatan serbuan kaum Muslim dapat dilihat pada beberapa ayat-ayat al-Qur'an, yang menyebutkan bahwa ribuan malaikat turun dari Surga pada Pertempuran Badar untuk membinasakan kaum Quraisy. Haruslah dicatat bahwa sumber-sumber Muslim awal memahami kejadian ini secara harfiah, dan terdapat beberapa hadits mengenai Nabi Muhammad saw yang membahas mengenai Malaikat Jibril dan peranannya di dalam pertempuran tersebut. Apapun penyebabnya, pasukan Mekkah yang kalah kekuatan dan tidak bersemangat dalam berperang segera saja tercerai-berai dan melarikan diri. Pertempuran itu sendiri berlangsung hanya beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari.
Setelah pertempuran
Korban dan tawanan
Imam Bukhari memberikan keterangan bahwa dari pihak Mekkah tujuh puluh orang tewas dan tujuh puluh orang tertawan. Hal ini berarti 15%-16% pasukan Quraisy telah menjadi korban. Kecuali bila ternyata jumlah pasukan Mekkah yang terlibat di Badr jauh lebih sedikit, maka persentase pasukan yang tewas akan lebih tinggi lagi. Korban pasukan Muslim umumnya dinyatakan sebanyak empat belas orang tewas, yaitu sekitar 4% dari jumlah mereka yang terlibat peperangan. Sumber-sumber tidak menceritakan mengenai jumlah korban luka-luka dari kedua belah pihak, dan besarnya selisih jumlah korban keseluruhan antara kedua belah pihak menimbulkan dugaan bahwa pertempuran berlangsung dengan sangat singkat dan sebagian besar pasukan Mekkah terbunuh ketika sedang bergerak mundur.Selama terjadinya pertempuran, pasukan Muslim berhasil menawan beberapa orang Quraisy Mekkah. Perbedaan pendapat segera terjadi di antara pasukan Muslim mengenai nasib bagi para tawanan tersebut. Kekhawatiran awal ialah pasukan Mekkah akan menyerbu kembali dan kaum Muslim tidak memiliki orang-orang untuk menjaga para tawanan. Sa'ad dan Umar berpendapat agar tawanan dibunuh, sedangkan Abu Bakar mengusulkan pengampunan. Nabi Muhammad saw akhirnya menyetujui usulan Abu Bakar, dan sebagian besar tawanan dibiarkan hidup, sebagian karena alasan hubungan kekerabatan (salah seorang adalah menantu Nabi Muhammad saw), keinginan untuk menerima tebusan, atau dengan harapan bahwa suatu saat mereka akan masuk Islam (dan memang kemudian sebagian melakukannya). Setidak-tidaknya dua orang penting Mekkah, Amr bin Hisyam (Abu Jahal) dan Umayyah, tewas pada saat atau setelah Pertempuran Badar. Demikian pula dua orang Quraisy lainnya yang pernah menumpahkan keranjang kotoran kambing kepada Nabi Muhammad saw saat ia masih berdakwah di Mekkah, dibunuh dalam perjalanan kembali ke Madinah. Bilal, bekas budak Umayyah, begitu berkeinginan membunuhnya sehingga bersama sekumpulan orang yang membantunya bahkan sampai melukai seorang Muslim yang ketika itu sedang mengawal Umayyah.
Beberapa saat sebelum meninggalkan Badar, Nabi Muhammad saw memberikan perintah agar mengubur sekitar dua puluh orang Quraisy yang tewas ke dalam sumur Badar. Beberapa hadits menyatakan kejadian ini, yang tampaknya menjadi penyebab kemarahan besar pada kaum Quraisy Mekkah. Segera setelah itu, beberapa orang Muslim yang baru saja ditangkap sekutu-sekutu Mekkah dibawa ke kota itu dan dibunuh sebagai pembalasan atas kekalahan yang terjadi.
Berdasarkan tradisi Mekkah mengenai hutang darah, siapa saja yang memiliki hubungan darah dengan mereka yang tewas di Badar, haruslah merasa terpanggil untuk melakukan pembalasan terhadap orang-orang dari suku-suku yang telah membunuh kerabat mereka tersebut. Pihak Muslim juga mempunyai keinginan yang besar untuk melakukan pembalasan, karena telah mengalami penyiksaan dan penganiayaan oleh kaum Quraisy Mekkah selama bertahun-tahun. Akan tetapi selain pembunuhan awal yang telah terjadi, para tawanan lainnya yang masih hidup kemudian ditempatkan pada beberapa keluarga Muslim di Madinah dan mendapat perlakuan yang baik; yaitu sebagai kerabat atau sebagai sumber potensial untuk mendapatkan uang tebusan.
Dampak selanjutnya
Pertempuran Badar sangatlah berpengaruh atas munculnya dua orang tokoh yang akan menentukan arah masa depan Jazirah Arabia pada abad selanjutnya. Tokoh pertama adalah Nabi Muhammad saw, yang dalam semalam statusnya berubah dari seorang buangan dari Mekkah, menjadi salah seorang pemimpin utama. Menurut Karen Armstrong, "Selama bertahun-tahun Nabi Muhammad saw telah menjadi sasaran pencemoohan dan penghinaan; tetapi setelah keberhasilan yang hebat dan tak terduga itu, semua orang di Arabia mau tak mau harus menanggapinya secara serius." Marshall Hodgson menambahkan bahwa peristiwa di Badar memaksa suku-suku Arab lainnya untuk "Menganggap umat Muslim sebagai salah satu penantang dan pewaris potensial terhadap kewibawaan dan peranan politik yang dimiliki oleh kaum Quraisy." Kemenangan di Badar juga membuat Nabi Muhammad saw dapat memperkuat posisinya sendiri di Madinah. Segera setelah itu, ia mengeluarkan Bani Qainuqa' dari Madinah, yaitu salah satu suku Yahudi yang sering mengancam dakwah beliau. Pada saat yang sama, Abdullah bin Ubay, seorang munafiq pemimpin Bani Khazraj dan penentang Nabi Muhammad saw, menemukan bahwa pengaruhnya di Madinah benar-benar melemah. Selanjutnya, ia hanya mampu memberikan penentangan dengan pengaruh terbatas kepada Nabi Muhammad saw.Tokoh lain yang mendapat keberuntungan besar atas terjadinya Pertempuran Badar adalah Abu Sufyan. Kematian Amr bin Hisyam (Abu Jahal), serta banyak bangsawan Quraisy lainnya telah memberikan Abu Sufyan peluang, yang hampir seperti direncanakan, untuk menjadi pemimpin bagi kaum Quraisy. Sebagai akibatnya, saat pasukan Nabi Muhammad saw bergerak memasuki Mekkah enam tahun kemudian, Abu Sufyan menjadi tokoh yang membantu merundingkan penyerahannya secara damai. Abu Sufyan pada akhirnya menjadi pejabat berpangkat tinggi dalam Kekhalifahan Islam, dan anaknya Muawiyah kemudian melanjutkannya dengan mendirikan Kekhalifahan Umayyah.
Keikutsertaan dalam pertempuran di Badar pada masa-masa kemudian menjadi amat dihargai, sehingga Ibnu Ishaq memasukkan secara lengkap nama-nama pasukan Muslim tersebut dalam biografi Nabi Muhammad saw yang dibuatnya. Pada banyak hadits, orang-orang yang bertempur di Badar dinyatakan dengan jelas sebagai sebentuk penghormatan, bahkan kemungkinan mereka juga menerima semacam santunan pada tahun-tahun belakangan. Meninggalnya veteran Pertempuran Badar yang terakhir, diperkirakan terjadi saat perang saudara Islam pertama. Menurut Karen Armstrong, salah satu dampak Badar yang paling berkelanjutan kemungkinan adalah kegiatan berpuasa selama Ramadan, yang menurutnya pada awalnya dikerjakan umat Muslim untuk mengenang kemenangan pada Pertempuran Badar. Meskipun demikian pandangan ini diragukan, karena menurut catatan tradisi Islam, pasukan Muslim saat itu sedang berpuasa ketika mereka bergerak maju ke medan pertempuran.
Sumber sejarah
Badar dalam al-Qur'an
Perang Badar adalah salah satu dari sedikit pertempuran yang secara eksplisit dibicarakan dalam al-Qur'an. Nama perang ini bahkan disebutkan pada Surah Ali 'Imran: 123, sebagai bagian dari perbandingan terhadap Perang Uhud."Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." Ali 'Imran: 123-125
Menurut Yusuf Ali, istilah "syukur" dapat merujuk kepada disiplin. Di Badar, barisan-barisan Muslim diperkirakan telah menjaga disiplin secara ketat; sementara di Uhud mereka keluar barisan untuk memburu orang-orang Mekkah, sehingga membuat pasukan berkuda Mekkah dapat menyerang dari samping dan menghancurkan pasukan Muslim. Gagasan bahwa Badar merupakan "pembeda" (furqan), yaitu menjadi kejadian mukjizat dalam Islam, disebutkan lagi dalam surah yang sama ayat 13.
"Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." Ali 'Imran:13
Badar juga merupakan pokok pembahasan Surah kedelapan Al-Anfal, yang membahas mengenai berbagai tingkah laku dan kegiatan militer. "Al-Anfal" berarti "rampasan perang" dan merujuk pada pembahasan pasca peperangan dalam pasukan Muslim mengenai bagaimana membagi barang rampasan dari pasukan Quraisy. Meskipun surah tersebut tidak menyebut Badar, isinya menggambarkan peperangan tersebut, serta beberapa ayat yang umumnya dianggap diturunkan pada saat atau segera setelah peperangan tersebut terjadi.
Catatan tradisi Islam
Sesungguhnya seluruh pengetahuan mengenai Peperangan Badar berasal dari catatan-catatan tradisi Islam, baik berupa hadits maupun biografi Nabi Muhammad saw, yang dituliskan beberapa puluh tahun setelah kejadiannya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, banyak suku-suku Arab yang hidup di jazirah Arabia buta huruf dan tradisi oral (lidah) merupakan cara mereka untuk menyampaikan informasi. Pada saat Balatentara Islam dapat menaklukkan suku-suku Arab yang lebih berpendidikan di Suriah dan Irak, dapat dikatakan seluruh kaum Quraisy telah masuk Islam, sehingga menghilangkan peluang adanya catatan-catatan non-Muslim mengenai peperangan tersebut. Kedua, dengan tersusunnya berbagai kompilasi hadits, maka naskah-naskah catatan aslinya menjadi tidak dibutuhkan lagi, dan menurut Hugh Kennedy kemudian dimusnahkan dengan "kecepatan yang menyedihkan". Terakhir, umumnya umat Muslim yang taat beranggapan bahwa para Muslim yang tewas di Badar adalah para syahid yang mulia, sehingga besar kemungkinan menjadi kendala bagi usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan penggalian arkeologis di Badar.Sumber : id.Wikipedia.org dengan berbagai editan penyesuaian bahasa.






























