Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw

Nama lengkap beliau: Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, lahir di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud) tahun Gajah , atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi...

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Wasiat Rasulullah saw: Memperbanyak Sujud Mengantarkan Engkau Ke Syurga



Dari Abu Abdullah, konon: Abu Abdurrahman, yaitu Tsauban budak Rasulullah saw dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Tetaplah kamu memperbanyak sujud, sesungguhnya kamu tidak bersujud kepada Allah dengan satu sujudan melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan melebur dari kamu satu dosa." Hadits Riwayat Muslim.

Seorang Pendosa Yang Lebih Dekat di Sisi Allah daripada Ahli Ibadah



Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Seorang pendosa yang sangat mengharap rahmat Allah lebih dekat di sisi Allah, daripada ahli ibadah yang putus asa akan rahmat Allah”

Zaid bin Aslam mendengar kisah yang diceritakan Umar ra:
Pada masa lalu, hiduplah seorang hamba yang tekun ibadahnya. Namun sayang ia tak pernah mengharap rahmat Allah.

Ketika meninggal hamba itu bertanya kepada Allah:

“Ya Tuhan, apa yang Engkau berikan padaku?”

“Neraka!” jawab Tuhan.

“Neraka? Lalu kemana ibadah dan amal baikku semasa aku masih hidup dulu?” protesnya.


“Ketika di dunia engkau selalu putus asa dengan rahmat-Ku, maka hari ini tak Kuberikan rahmat-Ku.”

Sabtu, 23 April 2016

Takut Kepada Allah, Menjaga Lidah, dan Selektif Terhadap Makanan



Diriwayatkan bahwa terdapat seorang dari Bani Israil akan pergi menuntut ilmu. Berita itupun telah sampai kepada Nabi mereka saat itu. Lalu ia dipanggil menghadap nabinya, dan di depan orang itu, sang Nabi itu pun bersabda:

"Wahai pemuda! Sesungguhnya aku akan menasehati engkau  dengan tiga perkara yang di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang-orang zaman akhir, yaitu takutlah kepada Allah, baik dalam situasi sepi dan ramai, jagalah lisan engkau, janganlah membicarakan sesuatupun tentang orang lain melainkan yang baik, dan perhatikan roti yang akan engkau makan, sehingga jelas kehalalannya."

Setelah menerima nasehat dari sang nabi, pemuda tersebut tidak jadi pergi keluar negeri untuk menuntut ilmu.

Kitab Nashoihul 'ibad karya Muhammad Nawawi Al Jawi

Kamis, 21 April 2016

Mutiara: Kios Ibadah, Modal dan Labanya


"Ibadah adalah sebuah perniagaan, kiosnya menyepi diri dan modalnya adalah taqwa"

Menyepi ( al-khalwah) ibarat tokonya ibadah yaitu berkontemplasi di kesepian agar hati dapat dengan tenang berhadapan langsung dengan Allah tanpa ada seorangpun yang tahu.

Taqwa adalah modalnya, taqwa di sini adalah dalam arti menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan siksa, baik sesuatu itu berupa melakukan perbuatan maupun meninggalkan perbuatan. Tanpa taqwa, ibadah tidak akan membawa untung besar.

Mutiara: Tangkis Tiga Keburukan dengan Tiga Kebaikan

Malik bin Dinar r.a berkata:
"Tangkislah tiga perbuatan tercela dengan tiga perbuatan terpuji, agar engkau termasuk orang-orang yang benar-benar beriman. Cegahlah sikap sombong dengan tawadhu', cegahlah sikap rakus ( selalu merasa kurang dan berusaha menambah kekayaan, kedudukan, dll ) dengan sikap qana'ah ( merasa cukup dengan apa yang ada ) dan cegahlah sikap dengki dengan nasehat."

Antara Berbuat Dosa Sambil Tertawa dan Berbuat Taat Sambil Menangis

Sebagian Ahli zuhud berkata, "Barang siapa yang berbuat dosa sambil tertawa, maka Allah akan mencampakkannya ke neraka dalam keadaan menangis. Dan barangsiapa berbuat taat sambil dalam keadaan menangis, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga sambil tertawa ( gembira ria )."

Ahli zuhud dimaksud adalah orang-orang yang memandang rendah dunia dan tidak mempedulikannya. Mereka mengambilnya hanya sekadar keperluan yang sangat dibutuhkan saja.

Barang siapa berbuat dosa sambil tertawa, yakni menanggung dosa dengan perasaan gembira dan bangga atas dosa yang dilakukannya itu - seharusnya dia bersedih dan beristighfar kepada Allah SWT agar diampuni dosanya - maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis.

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah, sambil menangis, karena merasa malu kepada Allah dan takut kepada-Nya, jangan jangan dia termasuk orang yang kurang memperhatikan dalam menjalankan ketaatannya itu, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan penuh kegembiraan, karena tercapainya apa yang diinginkan, yaitu pengampunan Allah swt.

Nashoihul Ibad Karya Muhammad Nawawi Al Jawi

Senin, 11 April 2016

Tujuh Hal Tentang Dunia


Nabi saw bersabda:
"Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, harta bagi orang yang tidak berharta, hanya orang yang tidak berakal yang selalu menumpuk-numpuknya. Orang yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang dunia, ia akan sibuk memperturutkan hawa nafsu dengannya, dan orang yang tak berilmulah yang gelisah karenanya, dan orang yang dengki dalam urusan dunia, dialah orang yang tidak memiliki hati nurani, dan orang yang tidak mempunyai keyakinan, akan terus berusaha keras untuk mencarinya."

Nabi saw juga bersabda:
"Jika seseorang berusaha mencari harta demi memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika dia berusaha demi kelangsungan hidup kedua orang tuanya yang sudah tua, maka dia termasuk di jalan Allah. Jika dia berusaha untuk dirinya sendiri agar tidak meminta-minta pada orang lain, maka dia juga berada di jalan Allah. Jika dia pergi mencari harta karena riya' dan berbangga-banggaan, maka di berada di jalan syetan." (HR Thabrani).

Nasihat Buat Hamba Allah - Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi

Minggu, 10 April 2016

Enam Perkara Penyebab Kerusakan hati

Enam Perkara Penyebab Kerusakan hati

Hasan Al-Basyri pernah berkata: "Sesungguhnya kerusakan amal itu disebabkan oleh enam perkara, yaitu: Pertama, orang-orang yang sengaja melakukan dosa dengan berharap akan bertaubat. Kedua, mereka berilmu tapi tidak mengamalkannya. Ketiga, Apabila mereka beramal, tidak ikhlas. Keempat, mereka makan rezeki Allah tetapi tidak bersyukur. Kelima, tidak redho dengan pembagian rezeki Allah. Keenam, mereka mengebumikan mayit, tapi tidak mau mengambil pelajaran."

Rabu, 03 Februari 2016

Kelembutan Hati dan Kejernihan Akal

Dikatakan : "Barangsiapa meninggalkan dosa-dosa, niscaya hatinya menjadi lembut, dan barangsiapa yang meninggalkan perkara yang haram, memakan makanan yang halal maka pikirannya menjadi jernih."

Hati yang lembut adalah hati yang mau menerima nasehat agama dan mematuhinya, serta melaksanakan dengan khusyu'. Keharaman yang mesti ditinggalkan meliputi makanan, pakaian yang haram dan lain sebagainya.

Sementara pikiran yang jernih dan sempurna ialah pikiran yang didayagunakan untuk memikirkan dan merenungkan ciptaan-ciptaan Allah, yang menunjukkan atas ke-Maha-Kuasaan Allah Sang Pencipta yang akan menghidupkan makhluk setelah kematian. Dan jelaslah pula baginya akan ke-Maha-Esaan, Kekusaan dan Ilmu Allah swt.

Yang demikian itu dapat diperoleh melalui perenungan dengan pikiran dan akal, sesungguhnya Allah menciptakan manusia bermula dari setetes air mani (nuthfah) dengan sel telur yang menyatu di dalam rahim, setelah melalui proses pembuahan berubah menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, lalu bertulang dan berotot, saraf sampai terbentuknya telinga, mata, serta anggota badan lainnya. Selanjutnya Allah memudahkan janin keluar dari rahim dengan adanya kontraksi yang begitu kuat yang membuatnya terdorong keluar (lahir). Kemudian Allah memberikan ilham kepadanya bagaimana cara menetek dan menyusu pada sang ibu. Bayi yang lahir belum memiliki gigi, atas kekuasaan Allah swt ditumbuhkan giginya. Kemudian ditanggalkan giginya ketika berumur 7 tahun, kemudian ditumbuhkan lagi (berganti gigi) sekali lagi.

Allah swt menjadikan manusia dalam keadaan berubah dari kecil menjadi dewasa, kemudian tua. dan dari sehat menjadi sakit. Dia juga menjadikan hamba-Nya tidur dan bangun setiap hari. Begitu pula rambut dan kukunya, ketika ada yang rontok ditumbuhkannya kembali.

Malam dan Siang Silih Berganti, bila salah satunya pergi, datanglah yang lain.Begitu pula matahari, bulan, bintang gemintang, mendung dan hujan, yang kesemuanya datang dan silih berganti. rembulan setiap bulan terbenam lalu muncul berangsung-angsur hingga paripurna. Ketika terjadi gerhana sinar matahari hilang.

Dari tanah yang basah Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, kemudian hilang dari tanah itu, lalu Allah menjadikan tanah itu dalam kondisi basah lagi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan kembai, begitu seterusnya.

Dengan demikian, jelaslah bagi kita, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa atas semua itu, tentu Maha Kuasa menghidupkan semua yang telah mati, setelah mereka rusak di alam kubur. Oleh sebab itu, memperbanyak berpikir dalam hal tersebut menjadi sebuah keharusan bagi seorang hamba, sehingga keimanannya terhadap adanya hari berbangkit setelah mati menjadi kuat, dan dia menjadi tahu bahwa Allah akan menjadikan kebangkitan dan perhitungan seluruh amal perbuatannya. Jadi, sesuai dengan kadar kekuatan imannya akan hal tersebut, niscaya akan timbul semangat dan kesungguhan mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi perbuatan yang berlawanan dengan syariat.

Sumber Kitab Nashoihul Ibad , Muhammad Nawawi Al Jawi

Antara Lidah dan Hati

Dari Abu Bakar As-Shiddiq ra, bahwa beliau berkata mengenai penafsiran firman Allah SWT yang artinya,

"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan ... " (QS. Ar-Ruum: 41)

Abu Bakar berkata dalam penafsirannya mengenai ayat tersebut bahwa al-barru adalah lisan, sedangkan al-bahru adalah hati. Apabila lisan (lidah) rusak, dengan memaki misalnya, maka pribadi manusia menangisinya, dan apabila hari rusak, dengan riya' misalnya, maka para malaikat menangisinya."

Ada yang mengatakan bahwa hikmah lidah diciptakan hanya satu adalah untuk mengingatkan hamba Allah SWT agar dia tidak mengatakan sesuatu pun selain perkataan yang penting dan dalam hal ini kebaikan. Adapula yang mengatakan, bahwa sesungguhnya ucapan berzikir dalam berbagai bahasa hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Esa. Begitu pula halnya dengan hati. Berbeda dengan mata dan telinga yang jumlahnya berpasangan. Karena ada yang mengatakan bahwa kebutuhan untuk mendengarkan dan melihat lebih banyak daripada keperluan untuk berbicara.

Penyerupaan hati dengan lautan hanyalah karena adanya kesamaan dalam kedalaman dan keluasannya yang amat sangat.

Sumber: Nashoihul 'ibaad, Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi

Minggu, 24 Januari 2016

Lima Golongan Manusia Penghuni Syurga



Dari Umar ra bahwa ia berkata mengenai hadits mauquf ( hadits yang diriwayatkan para sahabat namun tidak sampai kepada Rasulullah saw), atau hadits marfu' (hadits yang diberitakan oleh para sahabat dari sabda Rasulullah saw), sebagai berikut:

"Seandainya tiada kekhawatiran tuduhan akan mengetahui hal yang ghaib, niscaya aku bersaksi bahwa lima golongan berikut adalah penghuni syurga, yaitu: Orang fakir yang mempunyai keluarga, istri yang diridhai suaminya, istri yang menyedekahkan mahar kepada suaminya, orang yang diridhai kedua orangtuanya, dan yang bertaubat dari dosa."

Yakni lima golongan calon penghuni syurga sebagaimana tersebut di atas adalah:

  1. Orang fakir yang mempunyai keluarga, berupa hamba sahaya, istri dan anak kecil lalu dia menanggung kewajiban nafkahnya,
  2. Istri yang diridhai suaminya,
  3. Istri yang menyedekahkan mahar kepada suaminya,
  4. Orang yang diridhai kedua orang tuanya,
  5. Dan yang bertaubat dari dosa.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak mempunyai dosa" (HR. Al-Baihaqi).

Diriwayatkan pula Nabi saw bersabda; "Setiap anak Adam banyak berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat". (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmizi).

Dalam riwayat lain Nabi saw juga bersabda: "Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat seseorang daripada gembiranya orang yang kehausan yang mendapat air minum, dari pada orang mandul yang kemudian beranak, dan orang yang sesat di perjalanan lalu bisa menemukan jalan yang benar. Dan barang siapa yang bertaubat kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, maka Allah menjadikan para malaikat pencatat amal, anggota badannya dan tempat-tempat yang digunakan berbuat dosa lupa akan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya." (HR. Abul Abas).

Dari Kitab Nashoihul Ibad , Nasihat buat Hamba Allah, Karya Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi.

Kamis, 10 Desember 2015

Terhadap Dosa Kecil, Jangan Meremehkan



Sebagian Hukama berkata, "Jangan meremehkan dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu akan membengkak menjadi dosa besar".

Para Hukama dimaksud adalah para kekasih Allah. Jangan berasumsi dengan menghitung dosa-dosa kecil itu sebagai sesuatu dosa yang remeh, karena daripadanya akan terkumpul menjadi dosa besar. Lebih dari itu, bisa jadi kemurkaan Allah swt, disebabkan dosa-dosa kecil itu.

Dikutip dari Kitab Nashoihul Ibad karya Syeikh Nawawi bin Umar Al Jawi.

Rabu, 09 Desember 2015

Empat Nasehat Rasulullah saw. Kepada Abu Dzar Al Ghifari


Dari Rasulullah saw, beliau bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari ra. Sebagai berikut:

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu, karena laut itu begitu dalam. Bawalah bekal yang sempurna (cukup), karena perjalanan menuju akhirat itu amat jauh. Peringanlah beban, karena jalan pendakian itu amat melelahkan. Ikhlaslah dalam beramal, karena sesungguhnya Sang Korektor (Peneliti) amat jeli dan teliti.”

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu, karena laut itu begitu dalam.” Yakni memperbaiki niat, agar apa yang akan engkau lakukan dan hindari, semua bernilai ibadah, sehingga mendapat pahala dan selamat dari siksa Allah.

Imam Umar bin Khattab Al Faruq mengirim surat kepada Abu Musa Al Asy’ari (semoga Allah meredhai keduanya):

Ketahuilah wahai Abu Musa, bahwa pertolongan Allah terhadap seorang hamba itu tergantung pada niatnya. Barangsiapa niatnya ikhlas, maka Allah menyempurnakan pertolongan kepadanya. Sebaliknya barangsiapa yang kurang dan cacat niatnya, maka pertolongan Allah kepadanya pun sesuai dengan kadar niatnya itu.”

Salim bin Abdullah bin Umar Al Khatthab mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz ra. :

“Ketahuilah wahai Umar, sesungguhnya pertolongan Allah kepada seorang hamba, sesuai dengan kadar niatnya. Barang siapa yang niatnya tulus, maka pertolongan dari Allah sempurna baginya dan barangsiapa yang niatnya kurang, maka pertolongan dari Allah pun kurang baginya, sesuai dengan kadar niatnya itu.”

Sementara Perjalanan Jauh dimaksud , adalah perjalanan menuju akhirat. Sedang beban muatan adalah beban pertanggung jawaban urusan duniawi. Justru perjalanan menuju akhirat diumpamakan dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh penuh dengan pendakian yang terjal, karena sama-sama banyak kesulitan dan rintangannya. Ikhlaskanlah amal, karena sesungguhnya Allah Maha Meneliti, yang meneliti secara cermat segala perbuatan baik dan buruk.

Abu Sulaiman Ad Darani berkata: “Keberuntungan besar bagi orang yang tidak melangkah satu langkah pun selama umurnya, selain kepada Allah SWT.” 

Pernyataan ini berdasarkan sabda Nabi saw: ‘Ikhlaslah dalam beramal, maka yang sedikit pun darinya akan mencukupi anda.”

Seorang Penyair mengatakan”

“Bertaubat bagi manusia itu wajib
Namun meninggalkan dosa-dosa lebih wajib
Sabar menghadapi musibah itu berat
Tapi terlepasnya pahala lebih berat
Perubahan setiap zaman memang mengherankan
Tapi kelalaian manusia justru lebih mengherankan
Siapa yang akan datang itu dekat
Namun kematian yang akan menjemput
Jauh lebih dekat.”

Peristiwa-peristiwa yang di bawa dan ditimbulkan seiring dengan perubahan-perubahan zaman sungguh mengherankan. Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa suatu hari nabi saw keluar sambil memegang tangan Abu Dzar Al Ghifari, seraya bersabda;

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau mengetahui, sesungguhnya di hadapan kita terbentang jalan pendakian yang terjal yang sangat sulit dilalui, di mana tidak akan dapat melakukan pendakian selain oleh orang-orang yang meringankan bebannya.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku ini tergolong orang orang yang ringan atau justru memperberat beban?” Beliau bersabda, “Adakah engkau mempunyai makanan hari ini?”. Dia menjawab, “Ya, saya punya”. Rasulullah saw bertanya lagi, “ Apakah engkau juga mempunyai makanan untuk besok?”. “Ya, saya punya”. Rasulullah saw bertanya lagi, “Apakah anda mempunyai makanan untuk besok lusa?”. “Tidak punya”. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Andaikan engkau telah mempunyai jatah makanan untuk 3 hari, maka engkau tergolong orang-orang yang berbeban berat.’”

oooooOOOOOOooooo

Dikutip dari Kitab Nashoihul Ibad Karya Syeikh Nawawi bin Umar Al Jawi.


Tiga Gudang Allah


Segolongan Hukama berkata:

“Tiga hal termasuk simpanan Allah Ta ‘ala, yaitu: Kefakiran, Sakit, dan Sabar.”

Gudang yang dimaksud merupakan sesuatu yang disimpan oleh Allah, yang tidak akan diberikan selain kepada orang-orang yang dicintai-Nya, yaitu:
  1. Orang Fakir, yaitu orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
  2. Orang Sakit, yaitu penyakit yang menimpa badan, sehingga keluar dari kondisi kelayakan, segala sesuatunya terasa tidak enak dan sakit.
  3. Sabar, yaitu tidak mengeluh kepada yang selain Allah ketika ditimpa musibah. Dia tetap redha dengan qadha’. Keluhannya kepada Allah tidak dikotori dengan unsure ketidak relaan terhadap qadha’Nya. Karena redha terhadap qadha’ yang telah ditentukan Allah menjadi sebuah keharusan bagi hamba Allah. Bukankah seorang hamba sahaya harus redha dengan ketentuan tuannya, sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab At-Ta’rifat, karya Sayid Ali Al Jurjani.

Dikutip dari Kitab Nashoihul ‘Ibad Karya Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi.

Selasa, 01 Desember 2015

Kaya Tanpa Harta, Kuat dan Menang Tanpa Bala Tentara


Dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda;
"Barangsiapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa bala tentara, dan menang tanpa para pembela."

Barangsiapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat dimaksud adalah orang yang meninggalkan maksiat yang menyebabkannya menjadi terhina dan melakukan ketaatan yang membuatnya hidup mulia, maka Allah akan memberinya sifat terpuji, yaitu ia menjadi kaya tanpa harta, sebab mempunyai hati yang tenang walaupun tanpa kekayaan, ia menjadi kuat tanpa bala tentara, karena mendapat kekuatan dari Allah swt, dan ia mampu mengalahkan musuhnya tanpa bantuan orang lain, sebab mendapatkan bantuan secara langsung dari Allah swt.

Dikutip dari Kitab Nashoihul 'ibaad Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi.

Senin, 30 November 2015

Antara Takut, Cinta, dan Bahagia



Dari Abi Al Faidh Dzun Nun Al Misri, ia bernama Tsauban bin Ibrahim. Adapula yang berpendapat bahwa ia adalah Al Faidh bin Ibrahim. Ibrahim adalah seorang yang berbangsa Sudan (Nubiy). Dia merupakan satu-satunya orang paling alim, wara', berperadaban tinggi dan berakhlak mulia ( di daerah dan zamannya). Dzun Nun berbadan kurus berkulit agak kemerahan dan berjenggot yang tidak memutih itu, wafat pada tahun 245 H. Dia berkata dalam maqalahnya sebagai berikut:

"Setiap orang yang takut dari sesuatu, akan lari menjauhinya. Setiap orang yang menyukai sesuatu, tentu dia akan mencarinya, dan setiap orang yang nyaman bersama Allah, tentu dia merasa asing dengan makhluk."

Yakni orang yang takut dari sesuatu, akan lari menjauhinya. Oleh sebab itu, orang yang takut siksa, tentu ia akan berbuat kebaikan agar terjauh dari siksa itu.

Setiap orang yang menyukai sesuatu, tentu dia akan mencarinya. Maka orang yang suka syurga, tentu ia melakukan kebaikan yang dapat mendekatkan dan masuk ke dalam syurga.

Dan orang yang merasa tenteram dan damai dengan Allah, Akan merasa asing bersama manusia. Dalam naskah lain, bahkan dia merasa asing dengan dirinya sendiri.

Dikutip dari kitab Nashoihul 'Ibaad (Nasihat buat hamba Allah) Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi

Jumat, 27 November 2015

TIGA PERKARA PENGUSIR KEGELISAHAN



Sebagian Hukama berkata;
“Tiga perkara dapat menghilangkan kegelisahan, yaitu Mengingat Allah (Zikir kepada Allah), menjumpai wali-wali Allah, mutiara hikmah orang-orang bijak.”

Mengingat Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memperbanyak tahlil (laailaah illallaah), Hauqallah (laa hau la wa laa quwwata illaa billaah) , atau dengan munajat seraya membaca;

“Wahai Tuhan, Penolong orang merana, yang menyeru/meminta tolong kepadaNya, wahai Tuhan yang mengabulkan setiap doa orang terjepit kesengsaraan, wahai Tuhan yang Maha Bijaksana terhadap setiap orang yang bersalah dan durhaka, wahai Tuhan yang mencukupi setiap orang yang mementingkan urusan Tuhannya daripada urusan dunianya, saya memohon kepadaMu untuk dapat mencapai sesuatu yang tidak mungkin dapat aku capai tanpa pertolonganMu, untuk dapat menolak sesuatu yang tidak akan mampu aku menolaknya tanpa kekuatanMu dan aku memohon kepadaMu kebaikan yang penuh sejahtera dan kesejahteraan yang penuh dengan kebaikan, berkah rahmatMu wahai Tuhan yang Maha Pengasih di atas semua para pengasih..”.


Para Hukama dimaksud adalah dokter jiwa, para wali pengobat hati. Adapun para wali Allah, dimaksud adalah para ulama dan orang-orang sholeh. Ucapan hukama ialah petuah mereka yang berisi petunjuk dan kebaikan dunia dan Akhirat.

Dikutip dari kitab Nashoihul 'Ibaad Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi

ANTARA PENGARUH SYAHWAT DAN SABAR

ANTARA PENGARUH SYAHWAT DAN SABAR



Ada yang mengatakan bahwa syahwat itu dapat membuat raja menjadi hamba, sementara kesabaran dapat membuat seseorang hamba menjadi raja. Bukankah anda telah mendengar kisah Nabi Yusuf as dan Siti Zulaikha?

Raja yang memperturutkan hawa nafsunya, maka dia menjadi budak hawa nafsunya yang akan menghancurkannya itu. Karena orang yang senang terhadap sesuatu, maka dia akan menjadi hamba sesuatu yang disenanginya itu. Sementara kesabaran akan mengantarkan seorang hamba menjadi raja. Karena dengan ketabahan dan kesabaran seorang hamba dapat meraih apa yang diinginkannya.

Tidakkah anda mengetahui kisah Nabi Yusuf as dan Zulaikha yang amat mencintai Nabi Yusuf as. Namun Nabi Yusuf as mampu menghadapi segala bujuk rayu dan tipu daya Zulaikha yang selalu berusaha merebut hatinya.

Dikutip dari kitab Nashoihul 'Ibaad Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi

Kamis, 26 November 2015

ANTARA ORANG MULIA DAN ORANG BIJAKSANA

ANTARA ORANG MULIA DAN ORANG BIJAKSANA



Dari Yahya bin Mu’adz ra , ia berkata, ”Orang mulia tidak berani berbuat durhaka kepada Allah dan orang bijaksana tidak akan memprioritaskan urusan dunia atas akhirat”.


Yakni, orang yang mulia adalah orang yang baik laku lampahnya. Dia memuliakan dirinya dengan ketakwaan dan waspada dari kemaksiatan. Sementara orang yang bijaksana adalah orang yang benar tingkah lakunya. Dia senantiasa menghindarkan dirinya dari perbuatan yang berlawanan dengan akal sehat.

Dikutip dari kitab Nashoihul 'Ibaad Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi

TIGA KEKELIRUAN DALAM BERSIKAP YANG MEMBUAT TERSESAT, MELARAT DAN TERHINA


Dari sebagian Hukama berkata;
“Barangsiapa berpegang teguh pada akalnya semata, niscaya dia akan tersesat; barangsiapa mencari kecukupan melalui harta bendanya, niscaya dia akan menjadi kekurangan, dan barangsiapa yang mencari kemuliaan dari makhluk, niscaya dia akan terhina.”


Yakni, orang yang hanya mengandalkan pada akalnya dalam berbagai urusannya, tanpa berpegang teguh kepada tali Allah dan mohon bimbingan-Nya menuju kebenaran, niscaya dia menjadi sesat. Dan orang yang merasa cukup dengan hartanya saja, tentu hal itu tidak akan dapat mencukupinya. Karena yang member kecukupan dan kekayaan itu adalah Allah SWT. Dalam sebuah hadits disebutkan, ‘Barangsiapa merasa cukup dengan Allah, maka Dia akan member kekayaan kepadanya.”

Dikutip dari kitab Nashoihul 'Ibaad Karya Syeikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al Jawi

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More