Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw

Nama lengkap beliau: Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, lahir di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud) tahun Gajah , atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi...

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Pintu Syurga di Bulan Ramadhan

Dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda:



"Sungguh beberapa pintu Syurga dan beberapa pintu langit benar-benar dibuka pada awal malam bulan Ramadhan dan tidak ditutup sampai akhir malamnya, tidak ada dari seorang hamba atau umat yang mendirikan sholat pada malam dari malam-malamnya, kecuali ditetapkan Allah baginya, setiap kali sujud, dengan 1700 kebaikan"


Sabtu, 12 September 2015

Jasad Sahabat Nabi Muhammad Ditemui masih Utuh, Segar dan Berdarah Walau Sudah Lebih 1400 Tahun

Jasad Sahabat Nabi Muhammad Ditemui masih Utuh, Segar dan Berdarah Walau Sudah Lebih 1400 Tahun


Oktober 2013 sewaktu terjadi banjir di Madinah, makam 70 orang keluarga Perang Uhud ikut dilanda banjir. Setelah banjir surut, jenasah para sahabat-pun akhirnya terlihat keluar dalam keadaan masih utuh karena mereka dikuburkan di kawasan padang pasir, darahnya masih mengalir harum.
Jenasah para sahabat dimakamkan kembali seperti semula tapi tidak lagi diberi nama-nama jenasah tersebut  kecuali jenasah Hamzah ra karena diketahui dari luka didadanya, badannya tinggi besar. Jenasahnya masih berdarah dan harum. Bahkan tangannya masih memegang lukanya akibat terkena tombak, yang masih keluar darah. Walaupun sudah beberapa ribu tahun.
Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz ra karena diketahui dari telinga dan hidungnya yang terpotong akibat diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke Gunung Uhud, hanya ada 2 nisan saja.
Berikut adalah sebagian isi dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang peristiwa tersebut. “Syaikh Mahmud Ash-Shawaf telah menyampaikan kepada kami bahwa dia adalah salah seorang yang diundang dari kalangan ulama besar untuk pemakaman semula para sahabat yang gugur syahid di perang Uhud di kompleks makam syuhada Uhud yaitu sebuah kawasan pemakaman yang terkenal.
Sebuah “Kesaksian” Dr Thariq As-Suwaidan dalam kasetnya yang amat berharga “Qisshatun Nihayah” yang dinukil secara langsung dari Syaikh Mahmud Ash-Shawaf menyebutkan peristiwa besar yang dialami oleh sebagian ulama saat penguburan kembali jenasah sahabat yang gugur syahid di perang Uhud. Setelah 1400 tahun jenasah para sahabat tetap utuh, ini sebagai bukti nyata atas berita gembira tentang para syuhada.
Para ulama memang diundang saat pemakaman kembali jenasah para sahabat itu ”Di antara orang yang aku kuburkan adalah Hamzah RA, badannya besar, kedua telinga dan hidungnya terpotong, perutnya terbelah, dia meletakkan tangannya di atas perutnya.
Ketika kami menggerakkannya dan mengangkat tangannya, darahnya mengalir. Aku menguburkannya bersama sahabat-sahabat lainnya yang gugur syahid di Uhud.” Dr Thariq As-suwaidan berkata, ”Ini adalah perkara yang terbukti secara mutawatir dan dengan mata kepala. Semoga Alloh SWT menyampaikan kita semua ke derajat para syuhada.
Syaikh Mahmud telah menyampaikan kepada kami tentang aroma harum misk yang berasal darinya ketika darah mengalir dari jasad Hamzah RA.” Subhanallah, setelah 1400 tahun lebih, betapa agungnya Engkau ya Alloh. Alangkah besarnya kekuasaan-Mu, Maha suci Engkau.
Betapa utamanya, betapa mulianya, Alloh memberikannya kepada para syuhada. Jika seperti itu kemuliaan jasadnya yang terpendam di perut bumi yang tak seorangpun melihatnya, lalu bagaimanakah dengan kemuliannya di surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Selamat bagi yang telah melihat sahabat mulia ini, Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. Jasad Syuhada Yang Tidak Mengalami Pembusukkan Jabir bin Abdillah bercerita, ”Menjelang perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam hari. Ia berkata: ’Aku merasa akan menjadi orang yang paling pertama gugur di antara para sahabat Nabi Saw.
Sungguh aku tidak meninggalkan sesuatupun yang lebih kusayangi selain engkau, disamping Nabi Muhammad Saw. Sesungguhnya aku memiliki hutang, maka lunasilah. Dan bersikap baiklah kepada saudara-saudara perempuanmu.’ Keesokan harinya, ia pun menjadi orang yang pertama gugur.
Ia dimakamkan bersama orang yang lain dalam satu lubang kubur. Tetapi hatiku merasa kurang nyaman membiarkan ayahku satu lubang kubur bersama orang lain. Enam bulan kemudian, aku membongkar makamnya dan mengeluarkannya, jasadnya masih tetap utuh sama seperti pertama kali aku menguburkannya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Fathul Bari, 3/214 )
Petikan hadits di atas membuktikan di mana ayah Jabir ra terbunuh dalam perang Uhud dan ketika enam bulan kemudian makamnya dibongkar, maka jasadnya tetap utuh. Enam bulan adalah waktu yang lama di mana tubuh mayat seharusnya sudah hancur.
Penelitian membuktikan bahwa 24-36 jam pertama mayat dikuburkan, maka bola mata mulai menonjol dan kornea menghitam. Cabang-cabang urat nadi mulai terlihat di perut dan dada. 2-5 hari berikutnya, wajah dan seluruh tubuh menggelembung, dari tubuh mayat keluar bau busuk. Setelah melewati 5-10 hari, kulit mulai rapuh dan tubuh ditutupi larva.
Organ-organ tubuh meleleh ke tanah dan mulai menyisakan tulang saja. (dinukil dari buku Ushuluth Thibbisy Syar’i, Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman)
CATATAN – Dalam buku sejarah bencana banjir pertama kali terjadi pada tahun 46 Hijrah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud yang ceritanya mirip, yaitu jasad jasad mereka mengapung.

Sabtu, 05 September 2015

Yahudi Merebut Makam Nabi Yusuf as - Astaghfirullah

Yahudi Rebut Makam Nabi Yusuf


Sebuah tragedi sejarah kembali terjadi. Makam Nabi Yusuf ‘alaihis salam di Kota Nablus, hari ini (8/4/2015) jatuh ke tangan Yahudi, setelah ratusan pemukim Yahudi dengan pengawalan militer Israel merebut tempat bersejarah itu.
Seperti dikutip Dakwatuna, ratusan orang pemukim Yahudi menguasai makam Nabi Yusuf di kota Nablus, Rabu (8/4/2015) pagi. Mereka menguasai tempat yang sangat dihormati itu di bawah penjagaan ketat militer Israel.
Nablus berada di Tepi Barat bagian utara, Palestina. Di kota itulah terletak makam Nabi Yusuf yang mulia.
Perebutan makam Nabi Yusuf agaknya telah direncanakan dengan rapi. Pasalnya, menurut sumber lokal, militer Israel terlebih dulu menutup total wilayah timur kota itu. Dengan penutupan itu, rombongan pemukim Yahudi yang datang dengan mengendari sejumlah bus bisa leluasa masuk. Militer juga tampak mengawal rombongan bus pemukim Yahudi tersebut untuk menjamin keamanan mereka.
Setelah berhasil menguasai makam Nabi Yusuf, para pemukim Yahudi melakukan ritual keagamaan dan pesta yang berisik. La haula walaa quwwata illa billah… [Ibnu K/bersamadakwah]

Tulang-Tulang Nabi Yusuf? Padahal Bumi Tidaklah Memakan Jasad Para Nabi as


Hadits Pertama:

عن أبي موسى الأشعريّ رضي الله عنه قال: أتى النبي صلى الله عليه وسلم أعرابيا فأكرمه فقال له: ائتنا، فأتاه، (وفي رواية: نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بأعرابي فأكرمه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعهدنا ائتنا، فأتاه الأعرابي) فقال له سول الله صلى الله عليه وسلم): سل حاجتك، فقال: ناقة برحلها وأعنزا يحلبها أهلي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أعجزتم أن تكونوا مثل عجوز بني إسرائيل؟ فقال أصحابه: يا رسول الله وما عجوز بني إسرائيل؟ قال: إن موسى لما سار ببني إسرائيل من مصر، ضلوا لطريق فقال: ما هذا؟ فقال علماؤهم: نحن نحدثك، إن يوسف لما حضره الموت أخذ علينا موثقا من الله أن لا يخرج من مصر حتى ننقل عظامه معنا، قال: فمن يعلم موضع قبره؟ قالوا: ما ندري أين قبر يوسف إلا عجوز من بني إسرائيل، فبعث إليها فأتته فقال: دلوني لى قبر يوسف، قالت: لا والله لا أفعل حتى تعطيني حكمي، قال: وما حكمك؟ قالت: أكون معك في الجنة، فكره أن يعطيها ذلك فأوحى الله إليه أن أعطها حكمها، فانطلقت بهم إلى بحيرة موضع مستنقع ماء، فقالت: انضبوا هذا الماء فأنضبوا، قالت: احفروا واستخرجوا عظام يوسف فلما أقلوها إلى الأرض إذا الطريق مثل ضوء النهار
أخرجه أبو يعلى في مسنده (١/٣٤٤)، والحاكم (٢/٤٠٤-٤٠٥ و ٥٧١-٥٧٢) من ثلاث طرق عن يونس بن أبي إسحاق عن أبي بردة عن أبي موسى -وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة ٣١٣)

Dari Abu Musa al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
Seorang arab badui mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lalu nabi pun bersikap hormat kepadanya. Beliau bersabda kepada lelaki badui itu, “Mendekatlah kau kemari,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. (Redaksi dalam riwayat lain: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– turun dari kendaraannya di depan seorang arab badui. Beliau bersikap hormat kepada lelaki badui itu, lalu berkata kepadanya,“Kemarilah, bergabunglah bersama kami,” maka lelaki badui itu pun mendekati beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sila kaupinta kebutuhanmu!”Lelaki badui itu berkata, “Unta beserta pelananya, juga kambing betina yang bakal diperah oleh keluargaku.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Apakah kalian tak sanggup (memiliki keinginan) seperti (keinginan) perempuan tua Bani Israil?” Maka para shahabat beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun bertanya, “Wahai Rasulullah, memangnya kenapa dengan perempuan tua Bani Israil?” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:
Sesungguhnya tatkala Musa berjalan memimpin Bani Israil (keluar) dari Mesir, mereka tersesat di jalan. Maka Musa pun berkata, “Kenapa begini?” Lalu para ulama Bani Israil berkata, “Akan kami ceritakan kepadamu. Sesungguhnya Nabi Yusuf pada saat menjelang kematiannya telah mengambil perjanjian dari kami dengan persaksian Allah agar tak meninggalkan negeri Mesir kecuali dengan membawa serta ‘izhamun(tulang-tulang) beliau bersama kami.” Nabi Musa lantas bertanya, “Kalau begitu, siapa yang tahu letak kuburan beliau?” Mereka menjawab, “Tidak ada yang mengetahui letak kuburan Nabi Yusuf kecuali seorang perempuan tua Bani Israil.” Maka Nabi Musa mengutus seseorang untuk membawa perempuan tua itu. Perempuan tua itu pun datang menghadap beliau, lalu Nabi Musa berkata, “Tunjukkan kepadaku letak kuburan Yusuf!”Perempuan tua itu menjawab, “Tidak, demi Allah! Aku takkan menunjukkan kuburan Yusuf kepadamu sampai kau menuruti ketentuanku!” Musa pun bertanya, “Apa ketentuanmu?” Perempuan tua itu menjawab, “Jadikan aku bersamamu di surga!” Musa enggan untuk menuruti hal itu, lalu Allah mewahyukan agar beliau menuruti ketentuan perempuan tua itu. Maka perempuan tua itu pun berangkat membawa mereka menujubuhairah (danau), suatu tempat yang dipenuhi dengan air. Perempuan tua itu berkata,“Surutkanlah air danau ini!” Maka mereka pun mengeringkan danau itu. Perempuan tua itu berkata lagi, “Galilah (kuburannya) dan keluarkan ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf!” Tatkala ‘izhamun Yusuf itu diangkat ke permukaan tanah, maka jalan pun menjadi jelas seumpama cahaya siang.
(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya:1/344, juga al-Hakim: 2/404-405 dan 571-572, dari tiga jalan dari Yunus bin Abi Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu; dishahikan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 313).

Hadits Kedua:
عن أوس بن أوس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: إن من أفضل أيامكم يومَ الجمعة؛ فيه خلق آدم، وفيه قبض، وفيه النّفخة، وفيه الصعقة، فأكثروا علي من الصلاة فيه؛ فإن صلاتكم معروضة علي. قال: قالوا: يا رسول الله! وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت؟ -أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ- فقال: إن الله عز وجل حرّم على الأرض أجساد الأنبياء
أخرجه أحمد (٤/٨)، أبو داود (١٠٤٧) النسائي (٣/٢١)، الدارمي (١/٣٦٩) ابن ماجه (١/٣٣٦-٣٣٧ و ٥٠٢)، ابن حبان (٥٥٠)، الحاكم (١/٢٧٨) ، والبيهقي (٣/٢٤٨) وصححه الألباني في صحيح أبي داود (٩٢٥)

Dari Aus bin Aus, dia berkata:
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu pula dia diwafatkan, pada hari itu akan ditiup sangkakala dan pada hari itu pula semesta akan dibinasakan. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat karena sesungguhnya shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku.”Para shahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa shalawat kami diperlihatkan kepadamu sementara kau telah rusak (hancur menjadi tanah)?” Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya Allah –‘azza wa Jalla- mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi.”
(Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad: 4/8, Abu Dawud: 1047, an-Nasa’i: 3/21, ad-Darimi: 1/369, Ibnu Majah: 1/336-337, Ibnu Hiban: 550, al-Hakim: 1/278, al-Baihaqi: 3/248; dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: 925).
Secara zhahir, seakan-akan terdapat pertentangan di antara kedua hadits di atas. Pada hadits pertama dikatakan bahwa Nabi Musa bersama Bani Israil mengangkat ‘izhamun(tulang-tulang) Nabi Yusuf, sementara pada hadits kedua dijelaskan bahwasanya jasad para nabi itu pastilah utuh karena Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi. Padahal sebagaimana kita ketahui, bahwasanya Yusuf –‘alaihis salam– itu adalah seorang nabi. Jadi bagaimana mungkin jasad nabi Yusuf hanya tinggal tulang-tulang belaka jika bumi tidak memakan jasad para nabi? Dan bukankah di dalam suatu permasalahan ilmiyah itu diharuskan adanya tsubut ad-dalil (kukuhnya dalil) dansalamah min al-mu’aridh (selamat dari pertentangan)?
Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua hadits di atas. Terlebih terdapat hadits lain yang bisa dijadikan sebagai penjelas tentang tidak adanya pertentangan di antara kedua hadits di atas, yaitu hadits Ibnu ‘Umar berikut ini:

Hadits Ketiga:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى اللهُ عليه وسلم لَمَّا بدَّن قال له تميم الدّاري ألا أتّخذ لك منبرا يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك قال بلى فاتَّخذ له منبرا مرقاتين
أخرجه أبو داود (١٠٨١) وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة (١/٦٢٤)

Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan mimbar dua tingkat untuk beliau.
(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud: 1081; dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah: 1/624)

Ucapan Tamim ad-Dari –radhiyallah ‘anhu– dalam hadits ketiga tersebut memberikan gambaran bahwa perkataan ‘izhamun bisa dimaksudkan juga sebagai jasad, tubuh, atau badan. Hal itu dikarenakan mimbar tersebut -pada kenyataannya- diperuntukkan bagi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk menopang tubuh beliau. Dengan demikian, makna ‘izhamun dalam hadits pertama dan hadits ketiga adalah jasad atau tubuh atau badan, bukan tulang-tulang atau kerangka … -dan perkataan tersebut termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli (menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), yakni sebagaimana ucapan kita, “Belum terlihat batang hidungnya,” padahal yang dimaksudkan adalah, “Belum terlihat orangnya.”
Mengenai hal ini, Syaikh ‘Umar bin Sulaiman al-Asyqar –rahimahullah-berkata:

لا يناقض هذا الحديث ما صح عن رسولنا من أن الله حرّم على الأرض أكل أجساد الأنبياء، والمراد بعظام يوسف في الحديث جثته، وليس المقصود أنه بلي ولم يبق منه الا عظامه (صحيح القصص النبوي: ١٠٧-١٠٨)

Hadits ini (hadits pertama –pent) tidaklah bertentangan dengan hadits shahih dari Rasulullah (yang menyebutkan) bahwa Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi (yakni hadits kedua –pent). Dan yang dimaksud dengan ‘izhamun Yusuf dalam hadits tersebut adalah jasadnya, bukan tubuh yang telah rusak dan hanya tersisa tulang-tulangnya saja. (Shahih al-Qashash an-Nabawiy: 107-108)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah– berkata:

كنت استشكلت قديما قوله في هذا الحديث (عظام يوسف) لأنه يتعارض بظاهره مع الحديث الصحيح: (إن الله حرم على الأرض أن تأكلأجساد الأنبياء) حتى وقفت على حديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بدن ، قال له تميم الداري: ألا أتخذ لك منبراً يا رسول الله يجمع أو يحمل عظامك ؟ قال : بلى .فاتخذ له منبراً مرقاتين) فعلمت منه أنهم كانوا يطلقون (العظام)، و يريدون البدن كله، من باب إطلاق الجزء و إرادة الكل، كقوله تعالى: (وقرآن الفجر) أي صلاة الفجر . فزال الإشكال والحمد لله، فكتبت هذا لبيانه. (سلسلة الصحيحة :١/٦٢٣-٦٢٤)

Semenjak jauh hari, aku telah dibuat samar dengan sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di dalam hadits ini (hadits pertama –pent), yakni ‘izhamun (tulang-tulang) Yusuf, karena secara lahiriah ucapan tersebut bertentangan dengan hadits shahih, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi, sampai akhirnya aku berhenti pada hadits Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma:
(bahwasanya tatkala Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah semakin tua, berkatalah Tamim ad-Dari kepada beliau, “Bolehkan aku membuatkanmu mimbar untuk membawa atau mengangkat ‘izhamun-mu, wahai Rasulullah?” Rasululah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Boleh.” Maka Tamim ad-Dari pun membuatkan beliau mimbar dua tingkat).
Maka tahulah aku, bahwasanya para shahabat mengungkapkan kata ‘izhamun dengan maksud seluruh badan, (yakni) termasuk ke dalam bab ithlaq al-juz’i wa iradah al-kulli(menyebutkan sebagian namun yang dimaksudkan adalah seluruhnya), sebagaimana firman Allah ta’ala, “Wa qur-anal fajri (bacaan fajar),” yang dimaksud adalah shalat fajar. Dengan demikian hilanglah kesamaran, dan segala puji bagi Allah, lalu kutuliskan penjelasan ini. (Silsilah ash-Shahihah: 1/623-624).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More