Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw

Nama lengkap beliau: Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, lahir di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud) tahun Gajah , atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi...

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 25 Maret 2016

Abu Hafshin Al-Hadad

ABU HAFSHIN AL-HADDAD


Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad, seorang pandai besi di kota Nishapur, berkunjung ke Baghdad dan berjumpa dengan Junaid yang kagum menyaksikan pengabdiannya kepada Allah. Abu Hafshin juga pernah berjumpa dengan asy-Syibli dan tokoh-tokoh sufi lainnya di kota Baghdad. Setelah kembali ke Nishapur ia melakukan usahanya seperti dahulu dan meninggal dunia di Kota ini pda tahun 265 H/879M.


BAGAIMANA ABU HAFSHIN BIN HADDAD BERTAUBAT

Ketika masih remaja, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad jatuh cinta kepada seorang gadis pelayan. Ia sedemikian tergila-gila sehingga tak dapat hidup dengan tenang.

“Ada seorang dukun Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Nishapur. Ia tentu dapat menolongmu,” sahabat-sahabatnya menyarankan.

Maka pergilah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menemui dukun Yahudi itu dan menerangkan masalah yang sedang dihadapinya.

Si Yahudi menyarankan : “Selama empat puluh hari janganlah engkau melakukan shalat, dengan cara bagaimanapun juga janganlah kau patuhi perintah Allah, dan jangan lakukan perbuatan-perbuatan baik. Selama itu pula jangan engkau sebut-sebut nama Allah dan sama sekali jangan memikirkan hal-hal yang baik. Setelah semua ini engkau lakukan, barulah aku sanggup dengan sihirku membuat kehendakmu itu tercapai.”

Selama empat puluh hari Abu Hafshin melaksanakan nasehat si dukun. Setelah itu si dukun membuatkan sebuah jimat untuknya, tetapi ternyata juga masih tidak ada hasilnya.

Si Yahudi berdalih : “Sudah pasti bahwa selama ini engkau pernah melakukan perbuatan baik. Jika tidak, tentu tujuanmu itu telah tercapai.”

“Tak ada pelanggaran yang pernah ku lakukan,” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad membela diri. “Satu-satunya kebajikan yang ku ingat adalah menyepak sebuah batu ketika aku datang ke sini agar tak ada orang yang tersandung karenanya.”

“Jangan menjengkelkan Allah yang perintah-perintah-Nya hendak engkau tentang selama empat puluh hari. Dia tak akan menyia-nyiakan kemurahan-Nya walau untuk kebajikan kecil seperti yang telah engkau lakukan,” cela si Yahudi.

Kata-kata itu mengobarkan api di dalam dada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad, bahkan sedemikian berkobarnya sehingga ia bertaubat melalui si Yahudi itu.

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad terus melakukan usahanya sebagai pandai besi, dan menyembunyikan keajaiban yang telah terjadi terhadap dirinya itu. Setiap hari ia memperoleh uang satu dinar. Dan setiap malam pula uang satu dinar itu diberikannya kepada orang-orang miskin, atau secara sembunyi-sembunyi dimasukannya ke dalam kotak surat di rumah para janda. Kemudian, bila waktu Isa telah tiba, ia pun pergi mengemis dan dengan uang yang diperolehnya melalui cara ini ia berbuka puasa. Kadang ia mengumpulkan bawang atau lainnya sisa-sisa yang terdapat di kamar cuci umum, lalu dijadikannya sebagai santapannya.

Demikianlah perilaku Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad untuk beberapa lama. Pada suatu hari seorang buta berjalan di dalam pasar sambil membaca  ayat .”Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka akan ditunjukan Allah kepada mereka yang tak pernah mereka sangka sebelumnya ........”Ayat ini menyesakkan dada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sehingga ia tak sadarkan diri, Sehingga, ketika itu dipertukangannya, sebagai ganti jepitan ia masukan tangannya ke dalam tungku perapian untuk mengambil sepotong besi yang sedang membara. Besi tersebut ia taruh ke atas paron untuk di palu anak-anak buahnya. Semua anak buah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad tersadar, betapa Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menempa besi panas itu dengan tangannya sendiri.

“Tuan, apakah yang engkau perbuat ini?.” Seru mereka.

“Palu!.” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad memberi perintah.

“Tuan, apakah yang harus kami palu?.” Tanya mereka, “besi ini telah bersih.”

Barulah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sadar. Dilihatnya besi yang membara di tangannya dan didengarnya seruan-seruan anak buahnya : “Besi itu telah bersih. Apakah yang harus kami palu?.” Besi tersebut dilemparkannya. Bengkel itu segera ditinggalkannya dan siapa pun boleh mengurusnya.

“Sudah lama sebenarnya aku ingin meninggalkan usaha tersebut, tapi tak dapat. Akhirnya kejadian ini menimpa diriku dan secara paksa membebaskanku. Betapa pun aku mencoba meninggalkan usaha itu, namun sia-sia. Akhirnya usaha itu sendiri yang meninggalkan diriku.”
Sesudah itu, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menjalani kehidupan dengan disiplin diri yang keras, menyepi dan bermeditasi.


ABU HAFSHIN BIN HADAD DAN DAN JUNAID

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad hendak ke tanah suci menunaikan ibadah haji, tapi ia tidak dapat membaca dan berbahasa Arab. Ketika sampai di kota Baghdad, murid-murid sufi saling berbisik.

“Sangatlah memalukan apabila syiekh dari segala syeikh di Khurasan masih memerlukan juru bahasa untuk memahami bahasanya sendiri,,”

Junaid menyuruh murid-muridnya untuk menyongsong kedatngan Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sendiri menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh “para sahabat” itu dan segera ia berbicara dalam bahasa Arab sehingga orang-orang baghdad itu kagum akan kemurnian bahasa Arabnya. Beberapa cendekiawan berkumpul di sekelilingnya dan bertanya tentang cinta yang menyebabkan seseorang rela mengorbankan diri.

“Engkau lebih pintar berbicara, Jawablah pertanyaan mereka itu”, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata kepada Junaid.

“Menurut pendapatku, “ Junaid memulai, “apabila kita benar-benar mengorbankan diri sendiri, maka kita tidak beranggapan bahwa kita telah mengorbankan diri dan membanggakan segala perbuatan yang telah kita lakukan.”

“Hebat sekali,” seru Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. “Tetapi menurut pendapatku, mengorbankan diri sendiri berarti berlaku adil kepada orang lain dan tidak mengharap agar orang lain berlaku adil kepada diri kita sendiri.”

“Laksanakan petuah ini, hai sahabat-sahabat,” Junaid berkata kepada mereka.

“Pelaksanaan yang benar, lebih sulit dari sekedar kata-kata.” Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menandaskan.

Ketika mendengar kata-kata Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad ini, Junaid berseru kepada sahabat-sahabat :

“Bangkitlah sahabat-sahabat! Di dalam pengorbanan diri sendiri, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad melebihi Adam beserta anak cucunya.”

oooOOOooo

Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menanamkan rasa hormat dan disiplin ke dalam diri sahabat-sahabtnya. Tak seorang pun di antara murid-muridnya yang berani duduk di depannya dan menatap matanya. Di depannya mereka selalu berdiri dan tidak akan duduk sebelum dipersilahkan. Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sendiri duduk di antara mereka bagaikan seorang sultan.
Melihat hal ini Junaid menegurnya : “Engkau mengajar sahabat-sahabatmu tingkah laku seperti menghadap sultan.”

“Engkau hanya melihat apa yang terlihat, tetapi bukankah dari alamat surat saja kita dapat menduga apa yang tertulis di dalam nya.”

Jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

Setelah itu, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad melanjutkan : “Suruhlah sahabat-sahabatmu memasak kaldu dan halwa.

Junaid lalu menyuruh seorang muridnya memasak kaldu dan halwa. Setelah selesai, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata :

“Panggillah seorang kuli dan letakkan makanan ini ke atas kepalanya. Kemudian suruh ia berjalan sambil membawa makanan ini sampai ia letih dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Di depan rumah siapa pun ia berhenti suruh ia memanggil si empunya rumah. Dan siapa saja yang membuka pintu, ia berikan saja kaldu dan halwa ini kepadanya.”

Si kuli mematuhi segala perintah ini. Ia pun berjalan sampai kelelahan dan tak sanggup lagi meneruskan. Makanan-makanan itu diletakkannya di depan sebuah rumah, kemudian ia memanggil penghuni rumah itu. Ternyata pemilik rumah itu adalah seorang lelaki yang telah tua, ia menyahut :

“Jika engkau membawa kaldu dan halwa, barulah ku bukakan pintu.”

“Aku membawa kaldu dan halwa.” Jawab si kuli.

“Masuklah,” lelaki itu mempersilahkan setelah membukakan pintu.

“Aku sangat heran,” belakangan si kuli mengisahkan kejadian itu,” Aku bertanya kepada lelaki tua itu, “Apakah yang telah terjadi.?

Bagaimanakah engkau bisa tahu bahwa aku membawa kaldu dan halwa?.”

Orang tua itu menjawab : “Ketika aku sedang berdoa tadi malam, teringat olehku bahwa anak-anakku sudah lama meminta kaldu dan halwa kepadaku. Aku tahu bahwa doaku tadi malam tidaklah percuma,”

oooOOOooo

Ada seorang murid yang senantiasa melayani Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad dengan sangat takzim. Junaid sering memperhatikan si murid karena senang melihat sikapnya. Junaid bertanya kepada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad “

“Sudah berapa tahunkah ia berada di bawah bimbinganmu?.”

“Sepuluh tahun,” jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Tingkah lakunya tiada tercela dan sikapnya sopan. Benar-benar seorang pemuda yang mengagumkan,” Junaid memberi penilaian.

“Ya”, jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. “Sudah tujuh belas ribu dinar disumbangkannya untuk tujuan kita ini, kemudian dipinjamkannya pula tujuh belas ribu dinar untuk keperluan yang sama. Walau demikian, ia masih belum berani juga mengajukan satu pertanyaan pun kepada kami,”

oooOOOooo

Kemudian Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berangkat mengarungi padang pasir. Inilah pengisahan mengenai pengalamannya di padang pasir itu :

Di tengah padang pasir itu, aku bertemu dengan Abu Thurab dan lalu kami berjalan bersama-sama. Sudah enambelas hari aku tak makan ketika terlihat olehku sebuah telaga, aku ingin minum dan melangkah ke arah telaga itu. Tetapi aku berhenti dan merenung.

“Apakah yang menyebabkan engkau berhenti?.” Abu Thurab bertanya kepadaku.

“Aku ingin menyaksikan, mana yang akan menang di antara pengetahuan dengan kepastian, sehingga dapat ku pilih yang menang di antara keduanya. Jika kemenangan diperoleh oleh pengetahuan, air telaga ini akan ku minum, tetapi jika kepastian yang menang, aku akan terus berjalan,” jawabku.

“Engkau pasti akan mendapat kemajuan,” Abu Thurab berkata padaku.

oooOOOooo

Ketika sampai di kota Mekkah, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menyaksikan jamaah-jamaah yang miskin dan terlunta-lunta. Ia ingin sekali memberikan sesuatu kepada mereka tetapi tak ada yang dimilikinya dan oleh karena itu ia sangat gelisah. Kegelisahan ini sedemikian mencekam hatinya dan ia tak sanggup meredakannya, akhirnya dipungutnya sebuah batu dan ia berteriak :
“Demi keagungan-Mu, jika Engkau tidak memberikan sesuatu kepadaku, akan ku hancurkan semua lampu-lampu di dalam masjid itu!.”

Kemudian ia mengelilingi Ka’bah. Taka lama kemudian datanglah seorang lelaki menghampiri dan memberinya sekantong emas yang kemudian dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin tersebut.

oooOOOooo

Setelah selesi menunaikan ibadah haji, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad kembali ke Baghdad. Sahabat-sahabat Junaid menyongsong kedatangannya.

Oleh-oleh apakah yang engkau bawa untuk kami?.” Tanya junaid kepadanya.

“Yang hendak ku katakan inilah oleh-olehku,” jawab Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Mungkin sekali di antara sahabat-sahabat kita ada yang tidak sanggup menghadapi kehidupan ini seperti yang seharusnya. Jika tingkah lakunya kepadamu kurang cocok, carilah ke dalam dirimu sebuah alasan untuk memaafkannya, Lalu maafkanlah kesalahannya itu. Bila debu salah paham tak dapat dihilangkan karena maaf itu, sedang kau berada di pihak yang benar, cari pula alasan untuk memaafkannya lalu maafkan perbuatannya itu. Apabila debu salah paham tetap tak dapat dihilangkan, cari pula alasan lain walau sampai empat puluh kali. Apabila debu itu tak dapat dihilangkan sedang engkau berada di pihak yang benar, dan keempatpuluh alasan itu tidak dapat mengimbangi kesalahan yang telah dilakukannya terhadap dirimu, maka duduklah dan berkatalah kepada dirimu sendiri : “Betapa keras kepala dan betapa kelam hatimu ini! Betapa kesat hatimu, betapa buruk kelakuanmu, betapa angkuhnya engkau! Saudaramu telah mengajukan empat puluh alasan agar kesalahannya dimaafkan, tetapi engkau tidak dapat menerima alasan-alasan itu dan tetap membenci dia. Aku berlepas tangan terhadapmu. Engkau tahu apa yang kau inginkan, berbuatlah sekehendakmu!.”

Junaid sangat kagum mendengar kata-kata ini.

“Tetapi siapakah yang mempunyai kekuatan seperti itu?.” Junaid bertanya kepada dirinya sendiri.


ABU  HAFSHIN DAN SYIBLI

Selama empat bulan Syibli menerima Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad sebagai tamu. Setiap hari ia menyajikan aneka macam santapan dan berbagai panganan kecil.

Ketika pamit, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad berkata kepada Syibli.

“Jika engkau datang ke Nishapur akan kuajarkan kepadamu cara menjamu tamu dan kemurahan hati yang sejati.”

“Apakah kesalahan yang telah kulakukan?.” Syibli bertanya.

“Engkau terlampau merepotkan dirimu. Jamuan yang berlebihan tidaklah sama dengan kemurahan hati. Engkau harus meladeni tamu seperti meladeni dirimu sendiri. Dengan demikian kedatangan tamu tidak merupakan beban kepadamu dan kepergiannya tidak merupakan alasan untuk merasa lega. Jika engkau terus menjamu tamu secara berlebihan, maka kedatangannya akan engkau anggap sebagai  beban dan kepergiannya sebagai kelegaan. Seorang yang beranggapan demikian terhadap tamu, tak dapat dikatakan bersifat pemurah.”

Ketika Syibli datang ke Nishapur, ia menginap di rumah Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad. Semua tamu berjumlah empat puluh orang, dan sewaktu malam tiba, Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad menyalakan empat puluh satu buah pelita.

“Bukankah engkau sendiri mengatakan bahwa kita jangan berlebihan?.” Syibli menegur Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Jika demikian, padamkanlah olehmu lampu-lampu itu.”

Syibli menuruti, tetapi betapa pun ia berusaha hanya satu lampu yang dapat dipadamkannya.

Syiekh, apakah artinya semua ini?” Syibli bertanya kepada Abu Hafshin ‘Amr bin Salam al-Haddad.

“Kalian adalah empat puluh utusan Allah, karena seorang tamu adalah utusan Allah. Jadi wajarlah apabila karena Allah aku menyalakan sebuah pelita untuk masing-masing di antara kalian dan sebuah untuk diriku sendiri. Keempat puluh pelita yang ku nyalakan demi (karena) Allah itu tidak sanggup engkau padamkan, tetapi satu pelita yang ku nyalakan untuk diriku sendiri itu berhasil engkau padamkan. Segala hal yang telah kau lakukan di Baghdad itu dahulu, engkau lakukan demi diriku, tetapi yang ku lakukan di sini, ku lakukan demi Allah. Jadi yang kau lakukan dahulu itu merupakan hal yang berlebih-lebihan tetapi yang ku lakukan ini bukan.”

Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar

Minggu, 20 Maret 2016

Yusuf Bin Al Husein

YUSUF BIN AL-HUSAIN


Abu Ya’qub bin al-Husain ar-Razi telah melakukan perjalanan yang jauh, dari Rayy kota kelahirannya, sampai ke Arab dan Mesir di mana ia bertemu dengan Dzun Nun al-Mishri dan belajar kepadanya. Kemudian ia kembali ke Rayy untuk mengajar di sana dan di Rayy inilah ia meninggal dunia tahun 304 H/ 916 M.

PERTAUBATAN YUSUF AL HUSAIN AR-RAZI

Kehidupan spiritual Yusuf bin al-Husain ar-Razi dimulai sebagai berikut :

Ia melakukan perjalanan bersama sahabat-sahabatnya di negara Arab. Ketika sampai ke suatu daerah kekuasaan suatu suku, seorang puteri kepala suku itu melihatnya, lantas tergila-gila kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang memang berwajah tampan. Setelah menanti saat-saat yang tepat, akhirnya si gadis dapat menghadang Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Dengan tubuh gemetar Yusuf bin al-Husain ar-Razi meninggalkan si gadis dan berangkat menuju perkampungan yang lebih jauh letaknya.

Suatu malam, ketika Yusuf bin al-Husain ar-Razi tertidur dengan menyandarkan kepala ke lututnya, ia bermimpi sedang berada di suatu tempat yang belum dikenalnya. Seseorang sedang duduk di atas sebuah tahta dengan segala kebesaran sebagaimana layaknya seorang raja, di sekelilingnya berdiri pengawal-pengawal berjubah hijau. Karena rasa ingin tahu siapa mereka, Yusuf bin al-Husain ar-Razi menghampiri mereka. Semua memberi jalan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi dan bersikap hormat kepadanya.

“Siapakah kalian?.” Tanya Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Kami adalah malaikat-malaikat, dan yang duduk di atas tahta itu adalah Yusuf as. Ia datang berkunjung kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Marilah kita dengarkan lanjutan kisah ini menurut penuturan Yusuf bin al-Husain ar-Razi, sendiri :
Aku tak dapat menahan air mataku dan berseru : “Siapakah aku ini sehingga Nabi Allah sendiri telah datang untuk mengunjungiku?.”

Yusuf as turun dari tahtanya dan merangkulku. Kemudian ia mendudukan aku ke atas tahta itu. Aku bertanya kepadanya.

“Wahai Nabi Allah, siapakah aku sehingga engkau sedemikian baiknya kepadaku?.”

Yusuf as. Menjawab : “Ketika gadis jelita itu menghadangmu tetapi engkau menyerahkan diri kepada Allah dan minta perlindunganNya, Allah menunjukan dirimu kepadaku dan para malaikat ini. Dan Allah berkata kepadaku “Lihatlah wahai Yusuf! Engkau adalah Yusuf yang birahi terhadap Zulaiha dan menolaknya. Tetapi dia ini Yusuf yang tak birahi terhadap puteri seorang raja Arab dan melarikan dirinya. Allah sendiri mengutusku beserta malaikat-malaikat ini untuk mengunjungimu. Ia sampaikan kabar gembira padamu bahwa engkau adalah salah seorang di antara manusia-manuisa kesayangan-Nya.”

Kemudian Yusuf as. Menambahkan : “Di dalam setiap zaman ada seorang penunjuk jalan. Penunjuk jalan pada zaman ini adalah Dzun Nun al-Mishri. Dia telah mengetahui yang terbesar di antara nama-nama Allah. Pergilan kepadanya.”

Ketika Yusuf bin al-Husain ar-Razi terjaga  (pengisah meneruskan kisahnya), hatinya sangat terharu. Hasratnya menggelora. Ia sangat ingin mengetahui yang terbesar di antara nama-nama Allah. Berangkatlah ia ke negeri Mesir. Sesampainya di masjid Dzun Nun, iapun mengucapkan salam dan duduk. Dzun Nun membalas salamnya. Setahun lamanya Yusuf bin al-Husain ar-Razi duduk di sudut masjid itu. Ia tak berani bertanya kepada Dzun Nun. Setelah setahun barulah Dzun Nun bertanya kepadanya.

“Anak muda, dari manakah engkau?.”

“Dari Rayy”, jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setahun pula Dzun Nun tidak menegurnya dan Yusuf bin al-Husain ar-Razi tetap duduk di pojoknya. Pada akhir tahun yang kedua itu Dzun Nun bertanya kepadanya.

“Anak muda, apakah tujuanmu ke mari?.”

“Untuk menemuimu.” Jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setelah itu setahun pula lamanya, Dzun Nun tidak berkata-kata kepadanya.

“Anak muda, apakah yang engkau kehendaki?.”

“Aku datang supaya engkau mengatakan kepadaku Nama Yang Terbesar,” jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Setahun pula Dzun Nun membisu. Kemudian diberikannya kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi sebuah tabung kayu yang tertutup dan berkata :

“Pergilah ke seberang sungai Nil. Di suatu tempat ada seorang tua. Berikanlah tabung ini kepadanya dan ingatlah apa-apa yang dikatakannya kepadamu.

Yusuf bin al-Husain ar-Razi menerima tabung kayu itu dan pergilan ia menyeberangi sungai Nil. Di tengah-tengah perjalanan hatinya tergoda.

“Apakah yang bergerak-gerak di dalam tabung ini?, Ia bertanya di dalam hati. Tabung itu di bukanya dan seekor tikus meloncat keluar, kemudian melarikan diri. Yusuf bin al-Husain ar-Razi merasa bingung.

“Kemanakah aku harus pergi sekarang? Haruskah aku ke orang tua itu atau kembali kepada Dzun Nun?.”

 Akhirnya ia memutuskan untuk menjumpai si orang tua itu. Menyaksikan kedatangan Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang menenteng tabung kayu yang telah kosong itu, si orang tua tersenyum dan menegurnya :

“Engkau menanyakan Nama Allah yang Terbesar kepada Dzun Nun?.”

“Ya”, jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Dzun Nun mengetahui sikapmu yang tidak sabar dan oleh karena itu dititipkannya seekor tikus kepadamu. Maha Besar Allah, seekor tikus aja tidak dapat engkau jaga, apalagi Nama Yang Terbesar itu.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi malu sekali, iapun kembali ke masjid Dzun Nun . Dzun Nun menyambutnya :

“Kemarin, tujuh kali aku memohon izin Allah untuk menyampaikan nama-Nya yang terbesar itu, tetapi Allah tidak memperkenankannya. Hal ini berarti, belum tiba saatnya. Kemudian Allah menunjukiku : “Cobalah ia dengan seekor tikus” Dan setelah engkau ku coba ternyata beginilah jadinya. Kembalilah ke negeri asalmu dan tunggulah hingga saat yang tepat.”

“Sebelum aku meninggalkan tempat ini, berilah aku sebuah petuah” Yusuf bin al-Husain ar-Razi bermohon kepada Dzun Nun.

“Akan ku beri padamu tiga petuah ,: jawab Dzun Nun, “Yang satu besar, yang satu sedang dan yang terakhir kecil. Petuah yang besar adalah : Lupakanlah segala sesuatu yang telah engkau baca dan hapuskanlah segala sesuatu yang telah engkau tulis, agar selubung penutup matamu terbuka.”

“Petuah ini tak dapat kulaksanakan,” jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Petuah yang sedang adalah : Lupakanlah aku dan jangan bicarakan diriku dengan siapa pun juga. Jika seseorang berkata, muridku mengatakan begini” atau “guruku mengatakan begitu,” sesungguhnya semua itu memuji dirinya sendiri.”

“Petuah inipun taka dapat kulaksanakan,” sela Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

“Yang terakhir yang kecil adalah : Serulah manusia kepada Tuhan mereka.”

“Aku penuhi syarat tersebut.”

Maka berangkatlah Yusuf bin al-Husain ar-Razi ke Rayy. Ia adalah dari keluarga terhormat dan karena itu warga kota datang menyambut kedatangannya. Ketika memulia khotbahnya, Yusuf bin al-Husain ar-Razi mengemukakan realitas-realitas mistik. Mendengar ajaran-ajaran ini, penduduknya yang hanya mengenal doktrin eksoteris melalui pengajaran formal marah dan menentang Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Nama Yusuf bin al-Husain ar-Razi jatuh sehingga akhirnya tak seorang pun yang mau datang mendengar ceramahnya.

Seperti biasanya, suatu hari ia pun tampil untuk berceramah. Tetapi ketika itu tak seorang pun yang hadir mendengarkannya, iapun bermaksud pulang. Saat itu, seorang perempuan tua berseru :
“Bukankah engkau telah berjanji kepada Dzun Nun bahwa engkau akan menyeru manusia bukan karena mereka tetapi karena Allah semata?.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi tersentak mendengar kata-kata ini. Ia pun memulai khotbahnya. Demikian dilakukannya secara terus menerus selama lima puluh tahun, baik ada yang mendengar atau tidak.

YUSUF BIN AL-HUSAIN DAN IBRAHIM BIN KHAUWASH

Ibrahim bin Khauwash adalah salah seorang  murid Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Berkat persahabatannya dengan Yusuf bin al-Husain ar-Razi itulah Ibrahim bin Khauwash memperoleh kemajuan spiritual yang menakjubkan, sehingga ia sanggup berjalan mengarungi padang pasir tanpa bekal makanan dan binatang tunggangan. Melalui Ibrahim bin Khauwash inilah kita mendengar kisah berikut ini :

Pada suatu malam, terdengar oleh ku sebuah suara yag menyeruku.

“Pergi dan katakan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi, engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak!.”

Kata-kata ini sedemikian menyedihkan hatiku, sehinga seandainya sebuah gunung ditimpakan ke atas kepalaku, niscaya lebih mudah kutanggungkan daripada menyampaikan kata-kata itu kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi.

Malam esoknya terdengar pula seruan yang lebih keras.

“Katakan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak.”

Aku bangun, bersuci dan memohon ampunan Allah. Aku merenungi hal ini hingga malam yang ketiga, dan seruan itu terdengar pula :

“Katakan kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” engkau adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak!.” Jika pesan ini tidak engkau sampaikan kepadanya, akan kami timpakan bencana kepadamu sehingga kau tak dapat bangun lagi.”

Dengan sangat sedih, akupun bangkit dan pergi ke masjid, di mana kulihat Yusuf bin al-Husain ar-Razi sedang duduk di tempat imam shalat.

“Adakah syair yang hafal olehmu?,” Yusuf bin al-Husain ar-Razi bertanya ketika ia melihat kedatanganku.”

“Ya”, jawabku, Akupun mengingat-ingat sebuah syair berbahasa Arab lalu kusenandungkan. Yusuf bin al-Husain ar-Razi begitu senang mendengar syair itu. Ia berdiri dan tetap berdiri untuk waktu yang lama. Air matanya bercucuran, seolah bercampur dengan darah. Kemudian ia berpaling kepadaku dan berkata :

“Sejak dilahirkan hingga saat ini, orang-orang telah membacakan al-Qur’an untukku, namun tak setetes air mata yang pernah kutumpahkan. Tetapi melalui sebuah syair yang engkau senandungkan itu, aku mengalami keadaan seperti ini, air  mataku bercucuran. Sangatlah tepat apabila orang-orang mengatakan bahwa aku adalah orang bid’ah. Seruan Ilahi telah berkata dengan sebenarnya, bahwa aku adalah salah seorang di antara orang-orang yang ditolak. Seseorang yang sedemikian terharu mendengar sebuah syair tetapi al-Qur’an tak sedikit pun menggugah hatinya. Adalah benar-benar salah seorang yang ditolak.”

Hatiku goncang karena menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan kata-katanya. Goyahlah keyakinanku kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Aku takut. Aku pun bangkit dan berjalan ke arah padang pasir. Dalam perjalanan tersebut kebetulan aku bertemu dengan Khidir dan ia berkata kepada ku :

“Yusuf bin al-Husain ar-Razi telah menerima pukulan Allah, tetapi tempatnya adalah puncak tertinggi di dalam surga. Seorang manusia harus menempuh jalan Allah sedemikian jauh dan sedemikian kokohnya, sehingga walau dahinya ditampar oleh tangan penolakan, tempatnya masih tetap di puncak tertinggi di dalam surga. Apabila di atas jalan Allah ini tingkat para raja tak tercapai olehnya, setidak-tidaknya tingkatannya tidak di bawah para menteri.”

YUSUF AL-HUSAIN DAN SEORANG HAMBA PEREMPUAN

Seorang saudagar telah membeli seorang hamba perempuan seharga seribu dinar di Nishapur. Ia berpiutang kepada seorang di kota lain. Si Saudagar hendak pergi ke sana dengan segera untuk menagih piutangnya itu. Tetapi di kota Nishapur tak seorang pun yang dapat dipercayainya untuk dititipi hamba perempuannya itu. Oleh karena itu pergilah ia menemui Abu ‘Utsman al-Hiri dan menjelaskan masalah yang dihadapinya itu. Mula-mula Abu “Utsman menolak titipan budak perempuan itu, tetapi si saudagar tetap meminta pertolongannya :

“Izinkanlah dia tinggal di dalam haremmu. Aku akan kembali dalam waktu secepatnya.”

Akhirnya Abu “Utsman menyerah dan si saudagar meninggalkan tempat itu. Tanpa di sengaja terpandanglah gadis itu oleh Abu “Utsman dan iapun tergila-gila kepadanya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya pergilah ia ke rumah gurunya Au Hafshin bin Haddad, untuk meminta nasehat. Abu Hafshin bin Haddad menasehatkan :

“Pergilah ke Rayy dn mintalah nasehat kepada Yusuf bin al-Husain ar-Razi.”

Maka berangkatlah Abu ‘Utsman ke negeri Iraq. Ketika sampai di kota Rayy, ditanyakannya tempat tinggal Abu Yusuf bin al Husain. Tetapi orang-orang mencegahnya ke sana.

“Apakah urusanmu dengan manusia bid’ah yang terkutuk itu? Engkau tampaknya sebagai seorang yang saleh, bergaul dengannya berarti menjerumuskan dirimu sendiri.”

Sedemikian banyak keburukan-keburukan Yusuf bin al-Husain ar-Razi yang diperkatakan orang sehingga Abu ‘Utsman menyesal, mengapa ia sampai datang ke kota Rayy itu. Akhirnya iapun kembali ke Nishapur.

 “Apakah engkau telah bertemu dengan Yusuf bin al-Husain ar-Razi? Satu pertanyaan Abu Hafshin menyambut kedatangannya di Nishapur :

“Tidak,” jaab Abu ‘Utsman.

“Mengapa tidak? Tanya Abu Hafshin.

“Aku dengar segala tingkah laku Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” kemudian lalu dikisahkannya segala sesuatu yang disampaikan penduduk Rayy kepadanya. “Oleh karena itulah aku tidak pergi menemuinya dan kembali ke Nishapur.”

“Kembalilah ke Rayy, dan temuilah Yusuf bin al-Husain ar-Razi,” Abu Hafshin mendesak ‘Utsman.
Abu ‘Utsman pergi lagi ke Rayy dan sekali lagi bertanya-tanya di manakah tempat tinggal Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Dan penduduk kota Rayy seratus kali lebih banyak memburuk-burukkan Yusuf bin al-Husain ar-Razi daripada sebelumnya.

“Aku mempunyai suatu urusan penting dengan Yusuf bin al-Husain ar-Razi.” Abu ‘Utsman menjelaskan kepada mereka.

Akhirnya mereka mau juga menunjukan kediaman Yusuf bin al-Husain ar-Razi. Sesampainya di tempat Yusuf bin al-Husain ar-Razi, dilihatnya seorang tua yang sedang duduk. Dan seorang remaja tampan yang tak berjanggut berada di depannya. Si pemuda sedang menyajikan sebuah cembung dan cangkir. Wajahnya berseri-seri. Abu ‘Utsman masuk, mengucapkan salam dan duduk. Syeikh Yusuf bin al-Husain ar-Razi memulai pembicaraan, mengucapkan ajaran-ajaran yang sedemikian mulia dan luhur, membuat Abu ‘Utsman terheran-heran. Akhirnya berkatalah Abu ‘Utsman :

“Demi Allah, dengan kata-kata dan pemikiran-pemikiran seperti ini, apakah yang telah terjadi atas dirimu? Anggur dan seorang remaja yang belum berjanggut?.”

“Remaja yang tak berjanggut ini adalah puteraku, dan hanya sedikit orang yang tahu bahwa ia adalah puteraku,” jawab Yusuf bin al-Husain ar-Razi. “Aku sedang mengajarkan al-Qur’an kepadanya. Bejana anggur ini, kebetulan ku temukan di tempat sampah. Bejana ini ku ambil, ku cucui dan kuisi air, sehingga aku dapat menyuguhkan air kepada orang-orang yang ingin minum karena selama ini aku tak punya sebuah tempayan pun.”

Abu ‘Utsman bertanya pula, “Demi Allah, mengapakah engkau bertingkah laku seperti ini sehingga orang-orang mengatakan hal-hal yang bukan-bukan mengenai dirimu?.”

“Aku bertingkah laku seperti ini agar tidak ada orang yang sudi menitipkan hamba perempuannya yang berbangsa Turki kepada ku.”

Mendengar  jawaban ini, Abu ‘Utsman merebahkan dirinya di kaki sang syeikh. Sadarlah ia bahwa Yusuf sebenarnya telah mencapai tingkat kesalehan yang tinggi.

Sumber : Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar

Kamis, 17 Maret 2016

Syah Bin Syuja' Al Kirmani

SYAH BIN SYUJA’


Diriwayatkan bahwa Abul Fawaris Syah bin Syuja’ al-Kirmani berasal dari keluarga bangsawan dan banyak karya-karyanya mengenai sufisme yang telah hilang. Ia meninggal setelah tahun 270H/884 M.

SYAH BIN SYUJA AL-KIRMANI DAN ANAK-ANAKNYA

Syah bin Syuja’ al-Kirmani mempunyai seorang putera.  Di dada si putera ia tuliskan kata  : “Allah” dengan warna hijau. Begitu menginjak dewasa, karena tidak bisa bertahan dari dorongan-dorongan hatinya, si anak menyenangkan diri berjalan-jalan sambil membawa kecapinya. Sambil memetik kecapi, dengan suaranya yang merdu ia senandungkan lagu-lagu yang sangat menyentuh.

Pada suatu malam, dalam keadaan mabuk, ia menyusuri jalan-jalan raya sambil memainkan kecapinya itu. Ketika ia sampai di satu pelosok kota, seorang pengantin perempuan yang baru pindah ke tempat itu, bangkit dari sisi suaminya yang sedang tertidur untuk melihatnya. Si Suami terbangun, dilihatnya isterinya tak ada di sisinya, ia bangkit dan menyaksikan apa yang sedang terjadi. Maka berserulah ia kepada si pemuda, :

“Anak muda, belum tibalah saatnya engkau bertaubat?.”

Kata-kata ini menghujam jantungnya dan ia segera menjawab “Sudah tiba, sudah tiba.”

Mantelnya dicabik-cabiknya, kecapinya ia hancurkan. Kemudian ia mengunci diri di dalam kamarnya dan selama empat puluh hari tidak makan apa-apa. Sesudah itu ia pun keluar dari kamarnya dan pergi mengembara. Mengenai kelakuan anaknya itu, Syah bin Syuja’ al-Kirmani berkomentar :

“Yang kucapai selama empat puluh tahun telah diperolehnya dalam waktu empat puluh hari saja.”

Syah bin Syuja’ al-Kirmani juga mempunyai seorang puteri. Para pangeran Kirmani telah datang untuk melamarnya. Syah bin Syuja’ al-Kirmani minta kelonggaran selama tiga hari sebelum memberi keputusan. Kemudain ia pergi menjelajahi masjid ke masjid, akhirnya terlihatlah olehnya seorang guru sufi yang sedang shalat dengan khusyuk. Syah bin Syuja’ al-Kirmani dengan sabar menanti si guru sufi selesai dengan shalatnya. Kemudian ia bertanya :

“Apakah engkau telah berkeluarga?.”

“Belum”, jawan sang guru sufi.

“Maukah engkau seorang isteri yang bisa membaca al-Qur’an?,”

“Siapakah yang mau menikahkan puterinya kepadaku?.” Harta kekayaanku hanya tiga dirham.”

“Akan ku serahkan puteriku kepadamu,” jawab Syah bin Syuja’ al-Kirmani.” “Dari tiga dirham yang engkau miliki itu belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar dan selebihnya untuk pengikat tali perkawinan (mahar).”

Akhirnya mereka sepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja’ al-Kirmani mengantarkan puterinya ke rumah si guru sufi. Ketika memasuki rumah itu terlihatlah oleh si gadis sepotong roti kering di dekat sekendi air.

“Roti apakah ini?” tanyanya.

“Roti kemarin yang ku simpan untuk hari ini,” jawab si guru sufi.

Mendengar jawaban itu si gadis hendak meninggalkan rumah si guru sufi.

“Sudah ku sadari bahwa puteri Syah bin Syuja’ al-Kirmani takkan sanggup hidup bersama diriku yang miskin seperti ini” kata sang guru sufi.

“Aku meninggalkanmu bukan karena sedikit hartamu” jawab si gadis, “Tetapi karena sedikit iman dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya bahwa Allah akan memberikan rezeki kepadamu setiap hari. Aku jadinya heran kepada ayahku, dua puluh tahun lamanya ia memingitku dan mengatakan, “Akan kunikahkan engkau dengan seorang yang taqwa kepada Allah,” Tetapi ternyata ia menyerahkan aku kepada seseorang yang tidak pasrah kepada Allah untuk makanannya sehari-hari.”

“Apakah kesalahanku ini dapat diperbaiki?.” Si Guru sufi bertanya. “Dapat”, jawab si gadis. “Pilihlah satu di antara dua, aku atau roti kering itu.”

Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar

Jumat, 04 Maret 2016

Kisah Yahya bin Mu'adz

YAHYA BIN MU'ADZ


Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz ar-Razi, salah seorang murid Ibnu Karram, meninggalkan Rayy, kota kelahirannya, dan beberapa lama menetap di Balkh. Kemudian ia pindah ke Nishapur, di kota ini ia meninggal dunia pada tahun 258 H/871 M. Sejumlah syair-syair diperkirakan sebagai hasil karyanya.

YAHYA BIN MU’ADZ DAN HUTANGNYA

Yahya bin Mu’adz meminjam uang sebesar seratus ribu dirham kepada seseorang. Kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Orang-orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang miskin, yang menuntut ilmu dan juga kepada para sufi. Tidak lama kemudian, orang-orang yang meminjamkan uang tersebut menagihnya sehingga Yahya bin Mu’adz menjadi sangat gundah.

Suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad saw berkata kepadanya,

“Yahya, janganlah engkau berduka cita, karena akupun turut bersedih menyaksikan kegundahanmu itu. Bangunlah dan pergilah menuju Khurasan. Engkau akan menjumpai seorang perempuan yang telah menyisihkan tiga ratus ribu dirham untuk melunaskan hutang-hutangmu yang sebanyak seratu ribu dirham itu.”

“Ya Rasulullah,” seru Yahya bin Mu’adz. Di kota manakah dan siapakah perempuan itu?.”

“Berjalanlah dari satu kota ke kota lain dan berkhotbahlah,” jawab Nabi. “Kata-katamu akan mendatangkan kesembuhan jiwa bagi ummat manusia. Seperti halnya aku menemuimu di dalam mimpi, maka akupun hendak menemui perempuan itu di dalam mimpi pula.”

Maka berangkatlah Yahya bin Mu’adz menuju Nishapur, Di depan kubah Masjid Nishapur dibangunlah mimbar sebagai tempat Yahya bin Mu’adz berkhotbah.

“Wahai penduduk Nishapur,” Yahya bin Mu’adz berseru, “Aku datang kemari karena disuruh Nabi Muhammad saw. Ia katakan kepadaku. ‘Seseorang akan melunasi hutang-hutangmu,”. Sesungguhnya aku punya hutang sebanyak seratus ribu dirham. Ketahuilah bahwa kata-kataku selalu mengandung keindahan, tetapi hutang ini telah menutupi  keindahan tersebut.”

“Akan kusumbangkan uang sebesar lima puluh ribu dirham,” salah seorang hadirin menawarkan bantuan.

“Akan kusumbangkan uang sebesar empat puluh ribu dirham,” yang lainnya menawarkan pula.
Tetapi Yahya bin Mu’adz menolak sumbangan-sumbangan ini dengan dalih “Nabi Muhammad saw, hanya mengatakan satu orang.”

Yahya kemudian memulai khotbahnya. Di hari pertama tujuh mayat terpaksa di usung keluar dari khalayak ramai yang mendengarkan. Kemudian setelah menyadari bahwa hutanngya tidak akan terlunasi di kota Nishapur, iapun meneruskan perjalanan ke kota Balkh. Di kota ini orang-orang menahan dirinya dan diminta agar ia mau memberikan khotbah. Untuk itu ia mendapatkan sumbangan sebesar seratus ribu dirham. Tetapi seorang syeikh di kota itu tidak senang kepada khotbah-khotbahnya karena mengira bahwa Yahya bin Mu’adz pecinta kekayaan.

Si syeikh berkata, “Semoga Allah tidak memberkahinya!.”

 Ketika meninggalkan kota Balkh perampok-perampok menghadang Yahya bin Mu’adz dan merampas semua uang yang dibawanya.

“Itulah akibat dari doa si syeikh,” Orang-orang yang mendengar peristiwa perampokan itu berkata sesama mereka.

Yahya bin Mu’adz meneruskan perjalanannya ke Hirat, beberapa orang meriwayatkan, dengan melalui Merv. Dalam Khotbahnya di kota Hirat inipun ia mengisahkan mimpinya itu, Puteri pangeran Hirat kebetulan mendengarkan dan mengirim pesan kepadanya.

“Wahai imam, janganlah engkau berkeluh kesah lagi karena hutangmu. Pada malam itu Nabi berbicara kepadamu di dalam mimpi itu, ia telah berbicara pula kepadaku. Aku berkata kepadanya “Ya Rasulullah, aku akan pergi mencarinya. “Tidak usah, dia akan datang kemari mencarimu, jawab Nabi. Sejak malam itu aku menanti-nantikanmu. Jika gadis lain hanya memperoleh tembaga dan kuningan, maka ketika ayah menikahkan aku, aku memperoleh emas dan perak. Barang-barang perakku berharga tiga ratus ribu dirham. Semuanya akan kuserahkan kepadamu dengan syarat bahwa engkau harus berkhotbah di kota ini empat hari lagi.”

Yahya bin Mu’adz menyanggupi untuk memperpanjang khotbahnya selama empat hari lagi. Pada hari pertama, sepuluh mayat harus disingkirkan. Hari kedua, dua puluh lima mayat, pada hari ketiga ada empat puluh mayat, dan di hari yang keempat, tujuh puluh mayat. Pada hari yang kelima Yahya bin Mu’adz meninggalkan kota Hirat dengan membawa barang-barang perak sepenanggungan tujuh ekor unta. Ketika sampai di Balham, puteranya yang menemaninya membawa barang-barang itu berkata di dalam hatinya.

“Apabila sampai di kota, semoga ayah tidak menyerahkan semua barang-barang ini dengan begitu saja kepada orang-orang tempat dia berutang dan kepada orang-orang miskin tanpa sedikit pun menyisihkan untuk diriku.”

Di waktu shubuh ketika Yahya bin Mu’adz menghadap Allah dengan menyentuhkan dahinya ke tanah, tanpa diduga-duga sebuah batu jatuh menimpa kepalanya.

“Berikan uang kepada orang-orang yang berpiutang kepadaku”, sebutnya, dan kemudian ia menemui ajalnya.

Orang-orang yang mengikuti jalan Allah mengusung jenazah Yahya bin Mu’adz di bahu mereka dan membawanya ke Nishapur untuk dikuburkan di sana.

YAHYA BIN MU’ADZ AR-RAZI DAN SAUDARANYA

Yahya bin Mu’adz mempunyai seorang saudara yang pergi ke Mekkah dan kemudian bertempat tinggal di dekat Ka’bah. Saudaranya itu mengirim surat kepada Yahya bin Mu’adz.

“Ada tiga hal yang kucita-citakan. Dua di antaranya telah terlaksana. Tinggal satu yang belum tercapai. Doakanlah kepada Allah semoga Dia berkenan menyempurnakan keinginanku yang terakhir ini. Keinginanku yang  pertama adalah melewatkan hari-hari tuaku di suatu tempat yang paling suci di atas dunia ini dan segala tempat. Keinginanku yang kedua adalah memiliki seorang hamba untuk merawat diriku dan menyediakan air untuk bersuci dan kini Allah telah menganugerahkan seorang hamba perempuan yang baik budinya. Keinginanku yang ketiga adalah untuk bertemu denganmu sebelum ajalku. Doakanlah kepada Allah, semoga Dia mengabulkan keinginanku ini.”

Yahya bin Mu’adz menjawab surat saudaranya itu:

“Berkenaan dengan isi suratmu bahwa engkau menginginkan tempat terbaik di atas dunia, hendaklah engkau menjadi yang terbaik di antara semua manusia dan setelah itu tinggalah di sembarang tempat yang engkau kehendaki. Suatu tempat menjadi mulia karena orang-orang yang menempatinya, bukan sebaliknya.

Mengenai keinginanmu akan seorang hamba yang pada saat ini telah engkau dapatkan, jika engkau adalah seorang manusia yang benar dan berbakti, niscaya engkau tidak mengambil hamba Allah menjadi hambamu sendiri, karena menghalangi dirinya untuk mengabdi kepada Allah dan membuatnya sibuk untuk mengabdi kepadamu. Engkau sendirilah yang harus menjadi hamba. 

Engkau ingin menjadi seorang yang dipertuan padahal yang patut dipertuan hanyalah Allah. Menghambakan diri adalah kewajiban manusia. Seorang hamba Allah haruslah menjadi seorang hamba. Jika seorang hamba Allah menghasratkan kedudukan yang hanya pantas dimiliki Allah, maka ia tak ubahnya seperti Fir’aun.

Terakhir sekali, tentang keinginanmu bertemu denganku, sesungguhnya jika engkau benar-benar memikirkan Allah, niscaya kau takkan teringat kepadaku. Karena itu, mengabdilah kepada Allah sehingga sedikit pun tiada ingatan kepada saudaramu di dalam pikiranmu. Dalam pengabdian itu kita harus rela untuk mengorbankan putera sendiri; apalagi seorang saudara! Jika engkau telah menemukan Dia, apakah faedah yang dapat kau petik dari perjumpaan kita."

Sumber : Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar

Minggu, 21 Februari 2016

Ahmad bin Khazruya

AHMAD BIN KHAZRUYA


Abu Hamid bin Khazruya al-Balkhi, seorang warga yang terkemuka di kota Balkh, mempersunting puteri yang shaleh dari gubernur kota itu. Di antara sahabat-sahabat dekatnya adalah Hatim asl-Asham dan Abu Yazid al-Bustham. Ia pergi ke Nishapur dan meninggal dunia tahun 240 H/864 M dalam usia 95 tahun.

AHMAD BIN KHAZRUYA DAN ISTERINYA
Ahmad bin Khazruya mempunyai seribu orang murid yang masing-masing dapat terbang di angkasa dan berjalan di atas air. Ahmad bin Khazruya selalu mengenakan seragam tentara. Isterinya Fatimah merupakan seorang pembimbing ke jalan kesufian. Ia adalah puteri pangeran kota Balkh. Setelah bertaubat, ia mengirim utusan kepada Ahmad bin Khazruya disertai pesan :
“Lamarlah aku kepada ayahku.”
Ahmad bin Khazruya tidak memberi jawaban, kemudian dikirimnya utusan kedua dengan pesan.
“Ahmad bin Khazruya, kusangka engkau lebih berjiwa satria daripada yang sebenarnya. Jadilah seorang pembimbing, jangan jadi seorang pembegal!.”
Maka Ahmad bin Khazruya lalu mengirimkan wakilnya untuk melamar Fatimah kepada ayahnya. Karena menginginkan keridhaan Allah, ayah Fatimah  menyerahkan puterinya kepada Ahmad bin Khazruya. Fatimah meninggalkan segala urusan dunia dan memperoleh ketenangan menyertai Ahmad bin Khazruya di dalam penyepian.
Hari demi hari mereka lalui sehingga suatu ketika Ahmad bin Khazruya bermaksud menemui Abu Yazid, Fatimah ikut serta. Ketika berhadapan dengan Abu Yazid, Fatimah membuka cadar mukanya dan turut berbincang-bincang. Ahmad bin Khazruya kesal menyaksikan kelakuan isterinya itu dan api cemburu membakar dadanya.
Fatimah, alangkah berani sikapmu ketika berhadapan dengan Abu Yazid,” tegur Ahmad bin Khazruya kepada isterinya.
“Engkau mengenal ragaku, tetapi Abu Yazid mengenal batinku. Engkau membangkit hasratku, tetapi Abu Yazid mengantarkan aku kepada Allah. Buktinya, Abu Yazid dapat hidup tanpa kutemani tetapi engkau senantiasa membutuhkan kehadiranku, jawab Fatimah.
Sikap Abu Yazid terhadap Fatimah tidak canggung. Suatu hari terlihatlah olehnya jari-jari tangan Fatimah yang berinai. Abu Yazid lalu berkata :
“Fatimah, mengapakah engkau mencat jari-jari tanganmu?”
“Abu Yazid, sebelumnya engkau tak pernah memperhatikan jari-jari tanganku yang berinai ini, karena inilah aku tak merasa canggung terhadapmu. Kini, setelah engkau memperhatikan tanganku, tak pantas lagi aku bergaul denganmu,” sela Fatimah.
Mendengar ini Abu Yazid tak mau kalah : “Aku telah meminta kepada Allah agar wanita-wanita yang terpandang oleh ku tidak lebih menggairahkan hatiku daripada dinding. Dan demikianlah yang diperbuat-Nya terhadap diri mereka dalam pandangan mataku.”
Setelah itu Ahmad bin Khazruya dan Fatimah berangkat ke Nishapur. Di sana mereka mendapat sambutan yang hangat. Suatu waktu, Yahya bin Mu’adz singgah di Nishapur sebelum meneruskan perjalanannya menuju Balkh. Ahmad bin Khazruya bermaksud menyelenggarakan pesta pesta menyambut kedatangannya, ia pun meminta pendapat Fatimah.
“Apakah yang kita perlukan untuk pesta penyambutan Yahya?.”
“Beberapa ekor lembu dan domba” jawab Fatimah, “Perlengkapan-perlengkapan, lilin-lilin dan minyak mawar. Di samping itu kita masih membutuhkan beberapa ekor keledai.”
“Apabila ada seorang pejabat yang datang untuk bersantap maka anjing-anjing tetangga pun harus mendapat bagian juga”, jawab Fatimah.
Demikianlah semangat kekesatriaan sejati Fatimah, karena itulah Abu Yazid pernah berkata :
“Jika ada yang ingin menyaksikan seorang laki-laki sejati yang bersembunyi di balik pakaian perempuan, pandanglah Fatimah!.”

AHMAD BIN KHAZRUYA BERGUMUL DENGAN BATINNYA SENDIRI
Ahmad bin Khazruya berkisah sebagai berikut :
Telah lama sekali aku menindas hawa nafsuku. Suatu hari orang-orang berangkat ke medan perang, khasratku pun timbul menyertai mereka. Batinku membisikan beberapa hadits yang menjelaskan pahala-pahala akhirat bagi yang berjuang di jalan Allah. Aku terheran-heran dan berkata dalam hati :
“Batinku biasanya tidak gampang mematuhi kehendakku. Tak seperti sekarang ini. Mungkin hal ini karena aku senantiasa berpuasa sehingga batinku tak dapat lagi menanggung lapar lebih lama dan ingin agar aku menghentikan puasaku.
Aku lalu membulatkan tekad, “Aku akan berpuasa terus menerus selama perjalanan.”
“Aku sangat setuju,” jawab batinku.
“Mungkin batinku berkata demikian karena aku bisa melaksanakan shalat di sepanjang malam dan ingin agar aku tidur dan beristirahat di malam hari.”
“Aku tidak akan tidur sebelum fajar,” tekadku pula.
“Aku sangat setuju,” jawab batinku.
Aku semakin terheran-heran. Kemudian terpikirlah olehku bahwa mungkin batinku berkata demikian karena ingin bergaul dengan orang ramai, jemu dalam kesepian dan membutuhkan hiburan.
Maka aku pun bertekad : “Kemana pun aku pergi, aku akan menyendiri dan tidak akan berkumpul bersama orang lain.
“Aku setuju sekali.” Batinku malah menyetujuinya pula.
Habislah sudah dayaku. Dengan segala kerendahan hati aku memohon kepada Allah semoga Dia berkenan menunjukan kepadaku tipu daya batinku, atau memaksa batinku untuk mengaku secara terus terang kepadaku. Maka berkatalah batinku kepadaku.
“Setiap hari dengan menindas segala keinginanku, engkau akan terbunuh, aku bebas dan seluruh dunia akan gempar dengan berita “Ahmad bin Khazruya” yang gagah perkasa telah mati terbunuh dengan mahkota syuhada di atas kepalanya.”
“Maha besar Allah yang menciptakan batin  yang munafik, baik selagi hidup maupun sesudah mati. Engkau bukanlah seorang Muslim sejati di dunia ini maupun di akhirat nanti. Aku sangka engkau ingin mentaati Allah, rupanya engkau hanya sekedar mengencangkan ikat pinggangmu,” seruku.
Sejak saat itu, aku lipat gandakan perjuangganku melawan batinku sendiri.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI AHMAD BIN  KHAZRUYA
Seorang pencuri berhasil masuk ke dalam rumah Ahmad bin Khazruya. Setiap sudut telah diperiksanya tetapi tak satupun yang ditemukannya. Dengan rasa putus asa ia hendak meninggalkan tempat itu, Ahmad bin Khazruya memanggilnya.
“Anak muda, ambillah ember itu, timbalah air dalam sumur itu, kemudian bersucilah dan shalat. Jika nanti ku dapatkan sesuatu, akan ku berikan kepadamu supaya engkau tidak meninggalkan rumah ini dengan tangan kosong.
Anak muda itu berbuat seperti yang disarankan Ahmad bin Khazruya. Ketika hari telah siang, seorang lelaki membawa seratus dinar emas untuk syeikh Ahmad bin Khazruya.
“Ambillah uang ini untuk ganjaran shalatmu tadi malam.” Ahmad bin Khazruya berkata kepada si pencuri. Sesaat itu juga tubuhnya gemetar, ia menangis dan berkata :
“Aku telah memilih jalan yang salah. Baru satu malam berbakti kepada Allah, sudah sedemikian banyaknya karunia yang dilimpahkan-Nya kepadaku.”
Si pencuri bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Ia tidak mau menerima dinar emas tersebut dan kemudian ia menjadi salah seorang murid Ahmad bin Khazruya.
oooOOOooo
Suatu ketika Ahmad bin Khazruya mengenakan pakaian compang camping lalu mampir di persinggahan para sufi. Sebagai seorang sufi, sepenuh hati ia membaktikan diri dengan kewajiban-kewajiban spiritual. Tetapi para sufi yang berada di persinggahan itu meragukan ketulusan Ahmad bin Khazruya.
“Orang ini tidak tingggal di persinggahan ini.” Mereka berbisik kepada syeikh mereka.
Pada suatu hari Ahmad bin Khazruya pergi ke sumur dan timbanya terjatuh. Para sufi di tempat itu mencaci maki Ahmad bin Khazruya. Ahmad bin Khazruya segera berkata kepada ketua mereka dan berkata kepadanya.
“Bacalah Fatihah agar timba yang terjatuh itu keluar dari dalam sumur.”
“Permintaan apakah ini?.” Seru sang syeikh dengan heran.
“Jika engkau tidak mau, izinkanlah aku yang membacakannya,”
Syeikh lalu memberikan izin, Ahmad bin Khazruya membacakan fathihah dan timba itupun muncullah ke permukaan air. Menyaksikan kejadian ini si syeikh melepaskan topinya dan bertanya :
“Anak muda, siapakah engkau ini sebenarnya sehingga gudang gandumku hanya seperti dedak dibanding dengan sebutir gandum mu?.”
Ahmad bin Khazruya menjawab, “Sampaikan kepada sahabat-sahabatmu agar mereka menghargai musafir.”
oooOOOooo
Seorang lelaki mendatangi Ahmad bin Khazruya dan berkata : “Aku sakit dan miskin. Ajarilah aku suatu cara sehingga aku terlepas dari cobaan-cobaan ini.”
“Tuliskanlah setiap macam usaha yang engkau ketahui di atas secarik kertas. Taruhlah kertas itu di dalam sebuah kantong dan bawalah kantong itu kepadaku,” jawab Ahmad bin Khazruya.
Lelaki itu menuliskan setiap macam usaha pada sehelai kertas lalu ia masukan ke dalam sebuah kantong, kemudian di berikannya kepada Ahmad bin Khazruya. Ahmad bin Khazruya memasukan tangannya ke dalam kantong itu dan mengeluarkan secarik kertas. Ternyata di atas kertas itu tertulis perkataan “merampok”.
“Engkau harus menjadi seorang perampok,” ujar Ahmad bin Khazruya.
Lelaki itu terheran-heran, namun ia segera meninggalkan tempat itu dan bergabung dengan sekawanan perampok.
“Aku suka melakukan pekerjaan seperti ini, tetapi apakah yang harus ku lakukan?” tanyanya kepada mereka.
“Ada satu peraturan yang harus ditaati di dalam pekerjaan seperti ini,” perampok-perampok itu menerangkan. “Apa pun pekerjaan yang kami perintahkan kepadamu, harus engkau laksanakan.”
“Akan ku taati perintah kalian.” Ia meyakinkan para perampok itu.
Beberapa hari ia bergabung dengan mereka. Pada suatu hari lewatlah sebuah kafilah. Perampok-perampok itu menghadang, dan membawa salah seorang kafilah itu, yaitu seorang yang kaya raya kepada sahabat baru mereka.
“Potong lehernya,” perintah mereka.
Lelaki itu tertegun. Iapun berkata dalam hati “Kepala perampok ini telah membunuh banyak manusia. Lebih baik jika dia sendirilah yang ku bunuh daripada saudagar ini.”
“Jika engkau menghendaki pekerjaan ini, taatilah perintah kami,” kepala perampok itu berkata kepadanya. “Jika tidak, pergilah dari sini da carilah pekerjaan lain.”
“Jika harus mentaati perintah, maka perintah Allah-lah yang harus ku taati, bukan perintah perampok-perampok,” lelaki itu berkata sambil menghunus pedangnya dan melayangkannya ke leher kepala perampok, dia lepaskan saudagar tersebut dan melayanglah kepala ketua perampok itu. Melihat ini perampok-perampok lain segera mengambil langkah seribu, barang-barang rampasan kafilah itu mereka tinggalkan dan saudagar itu selamat. Si saudagar memberinya emas dan perak sedemikian banyaknya sehingga ia dapat hidup dengan tenang sesudahnya.
oooOOOooo
Pada suatu ketika Ahmad bin Khazruya menjamu seorang guru sufi. Untuk  itu Ahmad bin Khazruya menyalakan tujuh puluh batang lilin. Melihat pelayanan yang mewah ini, si guru sufi mencela.
“Aku tak senang menyaksikan semua ini. Tetek bengek seperti ini tidak ada hubungannya dengan sufisme.”
Ahmad bin Khazruya menjawab : “Jika demikian padamkanlah lilin-lilin yang telah kunyalakan bukan karena Allah.”
Sepanjang malam si guru sufi sibuk menyiramkan air dan pasir tetapi tak satupun di antara ketujuh puluh lilin itu dapat dipadamkannya. Keesokan harinya Ahmad bin Khazruya berkata kepada si guru sufi,
“Mengapa engkau begitu terheran-heran. Mari ikutilah aku, akan kutunjukan hal yang benar-benar menakjubkan.”
Mereka lalu pergi dan sampai di pintu sebuah gereja. Ketika melihat Ahmad bin Khazruya beserta sahabat-sahabatnya, pengurus gereja itu mempersilahkan mereka masuk. Kemudian ia mempersiapkan jamuan di atas meja dan mempersilahkan Ahmad bin Khazruya bersantap.
“Orang-orang yang bermusuhan tidak bersantap bersama-sama,” ujar Ahmad bin Khazruya.
“Jika demikian, Islamkanlah kami,” jawab kepala pengurus gereja itu.
Ahmad bin Khazruya mengIslamkan mereka yang semuanya berjumlah tujuh puluh orang itu. Pada malam itu Ahmad bin Khazruya bermimpi dan di dalam mimpi itu Allah berkata kepadanya :
“Ahmad, engkau telah menyalakan tuju puluh lilin untuk-Ku dan karena itu untukmu Ku nyalakan tujuh puluh jiwa dengan api iman.”


Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar


Malaikat Kiraman Katiban

Malaikat Kiraman Katiban


Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap manusia selalu disertai oleh dua malaikat, yaitu satu malaikat yang berada di sebelah kanannya sebagai pencatat segala amal kebaikan tanpa disaksikan yang lain. Dan malaikat yang kedua berada di sebelah kirinya sebagai pencatat segala amal kejahatannya dan tidaklah dicatat segala amal kejelekan tersebut sebelum disaksikan malaikat yang berada di sebelah kanan. Apabila seorang manusia sedang duduk, maka malaikat yang satu berada di sebelah kanannya dan malaikat yang satu lagi berada di sebelah kirinya. Apabila seorang manusia sedang berjalan, maka malaikat yang satu berada di mukanya, dan yang satunya lagi berada di belakangnya. Dan apabila seorang manusia sedang tidur, maka malaikat yang satu berada di atas kepalanya dan yang satunya lagi berada di bawah kakinya.

Disebutkan pula dalam hadits yang lain, bahwa ada lima malaikat yang serupa dengan dua malaikat tersebut. Yaitu dua malaikat yang selalu menyertai manusia di malam hari, dua malaikat yang selalu menyertai di siang hari, dan satu malaikat lagi tidak terpisahkan dari seorang manusia.

Hal ini diterangkan dalam Al Quran surat Ar-Ra’d:11 yang artinya sebagai berikut: “Bagi manusia selalu ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”.

Maksud dari firman Allah tersebut adalah malaikat yang menyertai manusia, jin serta syetan pada waktu siang dan malam. Sedangkan dua malaikat yang mencatat amal kebaikan dan kejahatan berada di antara dua bahu manusia. Lidah sebagai pena bagi kedua malaikat tersebut, mulut sebagai tempat tintanya, dan air ludah sebagai tintanya. Kedua malaikat tersebut mencatat amal perbuatan setiap manusia sampai waktu ajalnya.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Nabi Muhammad saw beliau bersabda; “Sesungguhnya pencatat amal perbuatan pada sebelah kanan dipercayai oleh pencatat amal perbuatan sebelah kiri yang mencatat amal kejelekan seorang hamba. Dan ketika seorang hamba melakukan kejelekan di saat malaikat sebelah kiri akan mencatat kejelekannya, maka malaikat yang sebelah kanan berkata, “Tahanlah dulu sebentar”. Lalu malaikat yang sebelah kiri menahan hingga 7 jam. Apabila hamba tersebut memohon ampun kepada Allah SWT, maka malaikat yang sebelah kiri tidak akan mencatat kejelekannya. Dan apabila hamba tersebut tidak memohon ampun kepada Allah SWT selama 7 jam itu, maka malaikat yang sebelah kiri akan mencatat amal kejelekannya”.

Jika telah dicabut ruh dari jasad seorang hamba, kemudian jasad tersebut diletakkan di dalam kubur, maka malaikat kiraman katibin berkata: “Ya Tuhan kami, telah Engkau serahkan hamba-Mu kepada kami, telah kami tulis segala amal perbuatannya dan Engkau cabut ruhnya, maka izinkanlah kami naik ke langit.” Lalu Allah berfirman, “Langit ini telah dipenuhi oleh para malaikat yang sama-sama mebaca tasbit, maka kembalilah kalian berdua dan bacalah tasbih untukku di atas kubur hamba-Ku, bacalah takbir dan tahlil serta tulislah semua itu untuk nya…”


Disadur dari Misteri Malam Pertama di Alam Kubur karya Abu Khalid MA.

Minggu, 14 Februari 2016

Sari As-Saqathi

SARI AS-SAQATHI

 Orang-orang mengatakan bahwa Abul Hasan Sari bin al-Mughallis as-Saqathi adalah murid Ma’rufak-Karkhi dan paman Junaid. Ia adalah seorang tokoh sufi yang terkemuka di Baghdad dan pernah mendapat tantangan dari Ahmad bin Hambali. Mula-mula ia mencari nafkah dengan berdagang barang-barang bekas dan ia meninggal pada tahun 253 H/867 M. Dalam usia 98 tahun.

KEHIDUPAN SARI AS. SAQATHI                                   
Sari as-Saqathi adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan “Peleburan” sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syeikh-syeikh sufi di negeri Irak adalah murid-murid Sari as-Saqathi. Ia adalah paman Junaid dan murid Ma’ruf al-Karkhi. Ia juga pernah bertemu dengan Habib ar-Ra’i.
Pada mulanya Sari as-Saqathi tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak shalat, digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya.
Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu ia mengucapkan salam kepada Sari as-Saqathi dan berkata :
“Syeikh dari Gunung Lukam mengirim salam kepadamu.”
Sari as-Saqathi menyahut : “Si syeikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan mengkhusukkan diri kepada Allah sehingga kita tidak pernah lupa kepada-Nya walau sesaatpun.”
Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Sari as-Saqathi tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Sari as-Saqathi membeli buah badam seharga enam puluh dinar. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara datang menemui Sari as-Saqathi.
“Buah-buah badam ini hendak kujual,” Sari as-Saqathi berkata kepadanya.
“Berapakah harganya?.” Tanya si perantara.
“Enampuluh enam dinar.”
“Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar.” Si perantara berkeberatan.
“Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen. “ jawab Sari as-Saqathi, dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri.”
“Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembilan puluh dinar,” sahut si pedagang perantara.
Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Sari as-Saqathi.
oooOOOooo
Pada mulanya Sari as-Saqathi menjual barang-barang bekas. Pada suatu hari pasar kota Baghdad terbakar.
“Pasar terbakar!,” orang-orang berteriak.
Mendengar teriakan-teriakan itu berkatalah Sari as-Saqathi : “Bebaslah aku sudah!.”
Setelah api reda ternyata toko Sari as-Saqathi tidak termakan api. Ketika mendapatkan kenyataan ini Sari as-Saqathi menyerahkan segala harta bendanya kepada orang-orang miskin. Kemudian ia mengambil jalan kesufian.
oooOOOooo
“Apakah yang menyebabkan engkau menjalani kehidupan spiritual ini,” seseorang bertanya kepada Sari as-Saqathi.
Sari as-Saqathi menjawab:
“Pada suatu hari Habib ar-Ra’i lewat di depan tokoku. Kepadanya kuberikan sesuatu untuk disampaikan kepada orang-orang miskin. “Semoga Allah memberkahi engkau,” Habib ar.Ra’i mendoakan diriku. Setelah ia mengucapkan doa itu dunia ini tidak menarik hatiku lagi.”
“Keesokan harinya datanglah Ma’ruf Karkhi beserta seorang anak yatim. “Berikanlah pakaian untuk anak ini,” pinta Ma’ruf kepadaku. Maka anak itu pun kuberi pakaian. Kemudian Ma’ruf berkata : “Semoga Allah membuat hatimu benci kepada dunia ini dan membebaskanmu dari pekerjaan ini,”. Karena kemakbulan doa Ma’ruf itulah aku dapat meninggalkan semua harta kekayaan di dunia ini.”
SARI AS-SAQATHI DAN SEORANG ANGGOTA ISTANA
Pada suatu hari ketika Sari as-Saqathi sedang memberikan ceramah. Salah seorang di antara sahabat-sahabat dekat khalifah, Ahmad Yazid si juru tulis lewat dengan pakaian kebesaran yang megah diiringi oleh para hamba dan pelayan-pelayannya.
“Tunggulah sebentar, aku hendak mendengarkan kata-katanya,” kata Yazid kepada para pengiringnya. “Kita telah mengunjungi berbagai tempat yang membosankan dan yang seharusnya tak perlu kita datangi.” Ahmad Yazid pun masuk dan duduk mendengarkan ceramah Sari as-Saqathi.
Sari as-Saqathi berkata : “Di antara kedelapan belas ribu dunia itu tidak ada yang lebih lama daripada manusia, dan di antara semua makhluk ciptaan Allah tidak ada yang lebih mengingkari Allah daripada manusia. Jika ia baik maka ia terlampau baik sehingga malaekat-malaekat sendiri iri kepadanya. Jika ia jahat, maka ia terlampau jahat sehingga syaithan sendiri malu untuk bersahabat dengannya. Alangkah mengherankan, manusia yang sedemikian lemah itu masih mengingkari Allah yang sedemikian perkasa.”
Kata-kata ini bagaikan anak panah dibidikan Sari as-Saqathi ke jantung Ahmad. Ahmad menangis dengan sedihnya, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah sadar ia masih menangis, Ahmad bangkit dan pulang ke rumahnya. Malam itu tak sesuatu pun yang dimakannya dan tak sepatah kata pun yang diucapkannya.
Keesokan harinya dengan berjalan kaki, ia pun pergi pula ke tempat Sari as-Saqathi berkhotbah. Ia gelisah dan pipinya pucat. Ketika khotbah selesai ia pun pulang. Di hari yang  ketiga, ia datang berjalan kaki, ketika ceramah selesai ia menghampiri Sari as-Saqathi.
“Guru,” ucap Ahmad kata-katamu telah mencekam hatiku dan membuat hatiku benci terhadap dunia ini. Aku ingin meninggalkan dunia ini dan mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Tunjukanlah kepadaku jalan yang ditempuh para khalifah.”
“Jalan manakah yang engkau inginkan,” tanya Sari as-Saqathi. “Jalan para sufi atau jalan hukum? Jalan yang ditempuh orang banyak atau jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan?.”
“Tunjukan kedua jalan itu kepadaku,” Yazid meminta kepada Sari as-Saqathi. Maka berkatalah Sari as-Saqathi :
“Inilah jalan yang ditempuh orang banyak. Lakukanlah shalat lima kali dalam sehari di belakang seorang imam, dan keluarkanlah zakat, Jika dalam bentuk uang, keluarkanlah setengah dinar dari setiap dua puluh dinar yang engkau miliki. Dan inilah jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia pilihan, berpalinglah dari dunia ini dan janganlah engkau terperosok ke dalam perangkap-pereangkapnya. Jika kepadamu hendak diberikan sesuatu, janganlah terima. Demikianlah kedua jalan tersebut.”
Yazid meninggalkan tempat itu dan mengembara ke padang belantara. Beberapa hari kemudian seorang perempuan tua yang berambut kusut dengan bekas-bekas luka di pipinya datang menghadap Sari as-Saqathi dan berkata :
“Wahai imam kaum Muslimin. Aku mempunyai seorang putera yang masih remaja dan berwajah tampan. Pada suatu hari ia datang untuk mendengarkan khotbahmu dengan tertawa-tawa dan langkah-langkah yang gagah tetapi kemudian pulang dengan menangis dan meratap-ratap. Sudah beberapa hari ini ia tidak pulang  dan aku tidak tahu kemana perginya. Hatiku sedih karena berpisah dari dia. Tolong, lakukanlah sesuatu untuk diriku.”
Permohonan wanita tua itu  menggugah hati Sari as-Saqathi. Maka berkatalah ia: “Janganlah berduka. Ia dalam keadaan baik. Apabila ia kembali, niscaya engkau akan kukabarkan. Ia telah meninggalkan dan berpaling dari dunia ini. Ia telah bertaubat dengan sepenuh hatinya.”
Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu malam, Ahmad kembali kepada Sari as-Saqathi. Sari as-Saqathi memerintahkan kepda pelayannya, “Kabarkanlah kepada ibunya,” Kemudian ia memandang Ahmad. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, dan badannya yang jangkung kokoh bagaikan pohon cemara itu telah bungkuk.
“Wahai guru yang budiman,” Ahmad bekata kepada Sari as-Saqathi, “Karena engkau telah membimbingku ke dalam kedamaian dan telah mengeluarkan aku dari kegelapan, Aku berdoa semoga Allah memberikan kedamaian dan menganugrahkan kebahagiaan kepadamu di dunia dan akhirat.”
Mereka sedang asyik berbincang-bincang ketika ibu dan isterinya Ahmad masuk. Mereka juga membawa puteranya yang masih kecil. Ketika si Ibu melihat Ahmad yang sudah berubah sekali keadaannya, ia pun menubruk dada Ahmad. Di kiri kanannya isterinya yang meratap-ratap dan anaknya yang menangis tersedu-sedu. Semua yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu dan Sari as-Saqathi sendiri pun tidak dapat menahan air matanya. Si anak merebahkan diri ke haribaan ayahnya. Tetapi betapapun juga mereka membujuk, Ahmad tidak mau pulang ke rumah.
“Wahai imam kaum Muslimin, “ Ahmad berseru kepada Sari as-Saqathi, “Mengapakah engkau mengabarkan kedatanganku ini kepada meraka?” Mereka inilah yang akan meruntuhkan diriku.”
Sari as-Saqathi menjawab : “Ibumu terus menerus memohon seihingga akhirnya aku berjanji untuk mengabarkan kepadanya apabila engkau datang.”
Ketika Ahmad bersiap-siap hendak kembali ke padang pasir, isterinya meratap : “Belum lagi mati, engkau telah membuatku jadi janda dan puteramu jadi yatim. Jika ia ingin bertemu dengan engkau apakah yang akan ku lakukan? Tidak ada jalan lain, bawalah anak ini olehmu.”
“Baiklah,” jawab Ahmad.
Pakaian indah yang sedang dikenakan anaknya itu dilepaskannya dan digantinya dengan bulu domba. Kemudian ditaruhnya sebuah kantong uang ke tangan anak itu dan berkatalah ia kepada anak itu :
“Sekarang pergilah engkau seorang diri.”
Melhat hal ini si isteri menjerit : “Aku tidak sampai hati membiarkannya,” dan anak itu ditariknya ke dalam dekapnnya.
“Aku memberikan kuasa kepadamu,” kata Ahmad kepada isterinya, “Jika engkau menginginkan, untuk menuntut perceraian.”
Maka kembalilah Ahmad ke padang belantara. Bertahun-tahun telah berlalu. Kemudian pada suatu malam, pada waktu shalat ‘Isa, seseorang mendatangi Sari as-Saqathi di tempat kediamannya. Orang itu berkata kepada Sari as-Saqathi :
“Ahmad mengutus aku untuk menjumpai engkau. Ia berpesan, “Hidupku hampir berakhir. Tolonglah aku.”
Sari as-Saqathi pergi ke tempat Ahmad. Ia menemukan Ahmad yang sedang terbaring di atas tanah di dalam sebuah pemakaman. Ia sedang menantikan saat-saat terakhirnya. Lidahnya masih bergerak-gerak.  Sari as-Saqathi mendengar bahwa Ahmad sedang membacakan ayat yang berbunyi : “Untuk yang seperti ini bekerjalah wahai para pekerja,” Sari as-Saqathi mengangkat kepalanya dari atas tanah, mengusapkan dan mendekapkan ke dadanya. Ahmad membuka matanya, terlihatlah olehnya sang Syeikh, dan berkatalah ia :
“Guru, engkau datang tepat pada waktunya. Hidupku akan berakhir sesaat lagi.”
Sesaat kemudian ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Sambil menangis Sari as-Saqathi kembali ke kota untuk menyelesaikan urusan-urusan Ahmad. Di dalam perjalanan ini ia menyaksikan orang ramai berbondong-bondong berjalan ke arah luar kota.
“Hendak ke manakah kalian?” Sari as-Saqathi bertanya kepada mereka.
“Tidak tahukah engkau?” jawab mereka. “Kemarin malam terdengar sebuah seruan dari atas langit : “Barang siapa ingin menshalatkan jenazah sahabat kesayangan Allah, pergilah ke pemakaman di Syuniziyah!.”
ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI SARI
Junaid meriwayatkan sebagai berikut :
Pada suatu hari aku mengunjungi Sari as-Saqathi dan kutemui ia sedang mencucurkan air mata. Aku bertanya kepadanya. “Apakah yag telah terjadi?.”
Sari as-Saqathi menjawab : “Aku telah berniat bahwa malam ini aku hendak menggantungkan sekendi air untuk didinginkan. Di dalam mimpi aku bertemu dengan seorang bidadari. Aku bertanya, siapakah yang memilikinya dan ia amenjawab : “Aku adalah milik seseorang yang tidak mendinginkan air dengan menggantungkan kendi,”. Setelah itu si bidadari menghempaskan kendiku ke atas tanah. Saksikanlah olehmu sendiri!.”
Kulihat pecahan-pecahan kendi yang berserakan di atas tanah. Pecahan-pecahan itu dibiarkan saja di situ untuk waktu yang lama.
oooOOOooo
Dalam kisah lain Junaid meriwayatkan, “Pada suatu malam aku tertidur nyenyak. Ketika aku terjaga, batinku mendesak agar aku pergi ke Masjid Syuniziyah. Maka pergilah aku. Tetapi di depan masjid itu terlihatlah olehku seseorang yang berwajah ssangat menakutkan. Aku menjadi gentar. Orang itu menegurku :
“Junaid, takutkah engkau kepadaku?.”
“Ya,’ jawabku.
“Seandainya engkau mengenal Allah sebagaimana yang seharusnya, niscaya tak ada sesuatu pun yang engkau takutkan selain dari pada Dia.”
“Siapakah engkau?.” Aku bertanya.
“Iblis,” jawabnya.
“Aku pernah ingin bertemu dengan engkau,” aku berkata kepadanya.
“Bagaimana engkau berpikir tentang aku, tanpa engkau sadari engkau lupa kepada Allah. Apapun maumu untuk bertemu dengan aku?.” Tanya si iblis.
“Ingin kutanyakan kepadamu, apakah engkau dapat memperdayakan orang-orang miskin?”
“Tidak,” jawab si iblis.
“Mengapakah?” demikian?.”
Si iblis menjawab : “Apabila aku hendak menjerat mereka dengan harta kekayaan dunia, mereka lari ke akhirat. Apabila aku hendak menjerat mereka dengan akhirat, mereka lari kepada Allah, dan di situ aku tidak dapat mengejar mereka lagi.”
“Dapatkah engkau melihat manusia-manusia yang tak dapat engkau perdayakan?.”
“Ya, aku melihat mereka,” jawab si iblis, “dan apabila mereka berada di dalam keadaan ekstase, dapatlah kulihat sumber keluh kesah mereka itu.”
Setelah berkata demikian, si iblis menghilang. Aku masuk ke dalam masjid dan di sana ku dapati Sari as-Saqathi yang sedang menekurkan kepala ke atas kedua lututnya.
“Dia telah berdusta, seteru Allah itu,” Sari as-Saqathi berkata sambil mengangkat kepalanya. “Manusia-manusia seperti itu terlampau disayangi Allah untuk diperlihatkan kepada iblis.”
oooOOOooo
Sari as Saqathi mempunyai seorang saudara perempuan yang pernah meminta izin untuk menyapu kamarnya namun ditolaknya.
 Hidupku tidak patut diperlakukan seperti itu,” Sari as-Saqathi berkata kepada saudara perempuannya itu.
Pada suatu hari ia masuk kamar Sari as-Saqathi dan terlihatlah olehnya seorang wanita tua sedang menyapu.
“Sari as-Saqathi, dulu engkau tidak mengizinkan aku untuk mengurus dirimu, tetapi sekarang engkau membawa seseorang yang bukan sanak familimu.

Sari as-Saqathi menjawab. “Jangan engkau salah sangka. Dia adalah penduduk alam kubur. Ia pernah jatuh cinta kepadaku, namun kutolak. Maka ia meminta izin kepada Allah yang Maha Besar untuk menyertai diriku, dan kepadanya Allah memberikan tugas untuk menyapu kamarku.”
Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar

Tags:
Riwayat Sari as-Saqathi, sari assaqathi, kisah sari assaqathi, kisah singkat sari assaqathi, cerita sari assaqothi, kata-kata hikmah sari assaqathi, sari assaqathi dari kitab tadzkirotul auliya, warisan para auliya, warisan para auliya sari as-saqathi .


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More