Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw

Nama lengkap beliau: Muḥammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, lahir di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud) tahun Gajah , atau bertepatan dengan tanggal 20 April 570 Masehi...

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 29 Desember 2015

BISYR BIN HARITS - Versi Kitab Tadzkirotul Auliya

BISYR BIN HARITS
(BISYR AL HAFI, BISYR SI MANUSIA BERKAKI TELANJANG)
Versi Kitab Tadzkiratul Auliya’
“Jika engkau benar-benar berniat untuk menyenangkan Allah, maka lunasilah hutang seseorang atau berikan uang itu kepada anak yatim atau kepada seseorang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang diberikan kepada jiwa orang Muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.”



PERTAUBATAN BISYR SI MANUSIA BERKAKI TELANJANG
Bisyr si manusia berkaki telanjang, lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Sewaktu muda, ia adalah seorang berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.
Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan namamu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaranKu, niscayaKu harumkan namamu, baik di dunia maupun di Akhirat nanti.”
Bisyr adalah seorang pemuda berandal,” si manusia suci itu berpikir. “Mungkin aku telah bermimpi salah.”
Oleh karena itu ia pun segera bersuci, shalat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendatangkan mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang demikian juga. Keesokan harinya pergilah ia mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban : “Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur (mabuk-mabukan).”
Maka, pergilah ia ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampainya di sana, ia bertanya : “Apakah Bisyr berada di tempat.”
“Ada, tetapi ia dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya.”
“Katakan kepadanya  bahwa ada pesan yang hendak ku sampaikan kepadanya,” ,manusia suci itu berkata.
 “Pesan dari siapa?” tanya Bisyr.
“Dari Allah!.” Jawab di manusia suci.
“Aduhai!” Bisyr berseru dengan air mata berlinang. “Apakah pesan untuk mencela atau untuk menghukum diriku? Tetapi tunggulah sebentar, aku akan pamit kepada sahabt-sahabatku terlebih dahulu.”
“Sahabat-sahabat” ia berkata kepada teman-teman minumnya. “Aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini!.”
Sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar namanya tanpa kedamaian Ilahi menyentuh hatinya. Bisyr telah memilih jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr dijuluki si manusia berkaki telanjang.
Apabila ditanya : “Bisyr, apakah sebabnya engkau tak pernah memakai alas kaki?” Jawabnya adalah : “Ketika aku berdamai dengan Allah, aku sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata : “Telah Kuciptakan bumi sebagai permadani untuk mu.” Dan bukankah tidak pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadai Raja?”.
Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi  Bisyr, Ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-muridnya pernah mencela sikapnya itu.
“Pada zaman ini tidak ada orang yang dapat menandingi mu di bidang Hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi setiap saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?”
“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr,  jawab Ahmad bin Hambal. “Tetapi mengenai Allah ia lebih ahli daripada ku.”.
Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr : “Ceritakanlah kepadaku perihal Tuhan-ku.”
ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI BISYR
“Nanti malam Bisyr akan datang ke mari.” Pikiran ini membersit dalam hati saudara perempuan Bisyr.  Maka segeralah ia menyapu dan mengepel lantai rumahnya. Kemudian dengan penuh harap menanti kedatangan saudaranya itu. Tiba-tiba Bisyr muncul seperti seorang yang sedang kebingungan.
“Aku akan naik ke atas loteng.” Bisyr berkata kepada saudara perempuannya dan bergegas menuju tangga. Tetapi baru beberapa anak tangga yang dilaluinya, dia berhenti lalu sepanjang malam itu ia tetap berdiri terpaku di tempat itu. Setelah Shubuh barulah ia turun dan pergi ke masjid untuk shalat.
“Mengapa sepanjang malam tadi engkau berdiri terus di atas tangga?”, saudara perempuannya bertanya kepada Bisyr ketika ia kembali dari masjid.
“Sebuah pikiran terbetik di dalam benakku, jawab Bisyr, Ada yang Yahudi, Kristen dan ada yang Majusi. Aku sendiri bernama Bisyr dan sebagai seorang Muslim aku telah mencapai kebahagiaan yang sangat besar. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah yang telah ku lakukan sehingga aku memperoleh kebahagiaan itu dan apakah yang telah mereka lakukan sehingga mereka tidak memperolehnya? Karena bingung dibuat pikiran itulah aku berdiri terpaku seperti itu.”
oooOOOooo
Bisyr memiliki buku-buku Hadits sebanyak tujuh lemari. Buku-buku itu dikuburkannya ke dalam tanah dan tidak diajarkannya kepada siapa pun juga. Mengenai sikapnya ini Bisyr menjelaskan :
“Aku tidak mau mengajarkan haidts-hadits itu karena aku merasa bahwa di dalam diriku ada hasrat untuk melakukan hal itu. Tetapi seandainya aku mempunyai hasrat berdiam diri, niscaya hadits-hadits itu akan kuajarkan.”
oooOOOooo
Selama empat puluh tahun Bisyr sangat menginginkan daging panggang tetapi ia tak mempunyai uang untuk membelinya. Bertahun-tahun ia menginginkan makan kacang buncis tetapi tak sedikit pun ada yang dimakannya. Ia tak pernah meminum air dari saluran yang ada pemiliknya.
oooOOOooo
Salah seorang di antara tokoh-tokoh suci berkisah mengenai Bisyr : Suatu hari aku bersama Bisyr. Cuaca terasa dingin sekali, tetapi kulihat Bisyr tidak memakai pakaian dan tubuhnya menggil kedinginan.
“Abu Nashr”, tegurku, ‘dalam cuaca dingin seperti ini orang-orang melapisi pakaian mereka, tetapi engkau malah melepaskannya.”
“Aku teringat kepada orang-orang miskin”, jawab Bisyr. “Aku tidak mempunyai uang untuk menolong mereka, oleh karena itulah aku ingin turut merasakan penderitaan mereka.”
oooOOOooo
Ahmad bin Ibrahim menuturka : Bisyr berkata kepadaku  “Sampaikan kepada Ma’ruf bahwa aku akan mengunjunginya setelah aku selesai shalat.”
Pesan itu ku sampaikan kepada Ma’ruf. Kemudian aku dan Ma’ruf menantikan dia. Tetapi setelah kami selesai melakukan shalat Zhuhur, Bisyr belum juga datang. Ketika kami melakukan shalat ‘Ashar, ia belum juga kelihatan. Begitu pula halnya setelah kami salat ‘Isha.
“Maha Besar Allah,” Aku berkata dalam hati, “apakah soerang manusia seperti Bisyr masih suka mengingkari janji? Sungguh keterlaluan.”
Aku masih mengharap-harap kedatangan Bisyr, waktu itu kami sedang berada di pintu masjid. Tidak lama kemudian tampaklah Bisyr dengan mengepit sebuah sajadah berjalan ke arah kami. Begitu sampai di sungai Tigris, Bisyr langsung menyeberanginya dengan berjalan di atas air. Ia lalu menghampiri kami. Bisyr dan Ma’ruf berbincang-bincang sepanjang malam. Setelah Shubuh barulah Bisyr meninggalkan tempat itu dan seperti ketika ia datang, sungai itu disebranginya dengan berjalan di atas permukaannya. Aku meloncat dari loteng, bergegas menyusulnya, dan setelah kucium tangan dan kakinya, aku memohon kepadanya : “Berdoalah untuk diriku!.”
Bisyr mendoakan diriku. Setelah itu ia berkata : “Jangan katakan segala sesuatu yang telah engkau saksikan kepada siapapun!.”
Selama Bisyr masih hidup, kejadian itu tak pernah kuceritakan kepada siapa pun juga.
oooOOOooo
Orang-orang berkumpul, mendengarkan Bisyr memberikan ceramah mengenai Rasa Puas. Salah seorang di antara pendengar menyela:
“Abu Nashr, engkau tidak mau menerima pemberian orang karena ingin dimuliakan. Jika engkau benar-benar melakukan penyangkalan diri dan memalingkan wajahmu dari dunia ini, maka terimalah sumbangan-sumbangan yang diberikan kepadamu agar engkau tidak lagi dipandang sebagai orang yang mulia. Kemudian secara sembunyi  berikanlah semua itu kepada orang-orang miskin. Setelah itu jangan engkau goyah dalam kepasrahan kepada Allah, dan terimalah nafkahmu dari alam ghaib.”
Murid-murid Bisyr sangat terkesan mendengar kata-kata ini.
“Camkan oleh kalian!.” Jawab Bisyr. “Orang-orang miskin terbagi atas tiga golongan. Golongan pertama adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta dan apabila kepada mereka diberikan sesuatu mereka menolaknya. Orang-orang seperti ini adalah para spiritualis. Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala permintaan mereka. Golongan ke dua adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu, mereka masih mau mnerimanya. Mereka itu berada di tengah-tengah. Mereka adalah manusia-manusia yang teguh di dalam kepasrahan kepada Allah dan mereka inilah yang akan dijamu Allah di dalam surga. Golongan ke tiga adalah orang-orang miskin yang duduk dengan sabar menanti pemberian orang sesuai dengan kesanggupan, tetapi mereka menolak godaan-godaan hawa nafsu.”
“Aku puas dengan keteranganmu ini.” Orang yang menyela tadi berkata. “Semoga Allah puas pula denganmu.”
oooOOOooo
Beberapa orang mengunjungi Bisyr dan berkata : “Kami datang dari Syria hendak pergi menunaikan ibadah Haji. Sudikah engkau menyertai kami?.”
“Dengan tiga syarat,” jawab Bisyr. “Yang pertama, kita tidak akan membawa perbekalan, kedua, kita tidak meminta belas kasihan orang di dalam perjalanan; dan ketiga, jika orang-orang memberikan sesuatu, kita tidak boleh menerimanya.”
“Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta di dalam perjalanan dapat kami terima.” Jawab mereka. Tetapi apabila orang lain memberikan sesuatu mengapa kita tidak boleh menerimanya?”
“Sebenarnya kalian tidak menyerahkan diri kepada Allah, tetapi kepada pebekalan yang kalian bawa,” cela Bisyr kepada mereka.
oooOOOooo
Seorang lelaki meminta nasehat kepada Bisyr : “Aku mempunyai dua ribu dirham yang kuperoleh secara halal. Aku ingin pergi menunaikan ibadah Haji.”
“Apakah engkau hendak pergi bersenang-senang?” tanya Bisyr. “Jika engkau benar-benar berniat untuk menyenangkan Allah, maka lunasilah hutang seseorang atau berikan uang itu kepada anak yatim atau kepada seseorang yang butuh pertolongan. Kelapangan yang diberikan kepada jiwa orang Muslim lebih disukai Allah daripada seribu kali menunaikan ibadah haji.”
“Walau demikian, aku lebih suka jika uang ini kupergunakan untuk menunaikan ibadah haji,” lelaki itu menjawab.
“Ya, karena engkau telah memperolehnya dengan cara-cara yang tidak halal,” jawab Bisyr, “maka engkau tidak akan merasa tenang sebelum menghabiskannya dengan cara-cara yang tidak benar.”
oooOOOooo
Bisyr berkisah : Pada suatu ketika, di dalam mimpi aku berjumpa dengan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku : “Bisyr, tahukah engkau mengapa Allah telah memilihmu di antara manusia-manusia yang semasa denganmu? Dan tahukah engkau mengapa Allah memuliakanmu?”
“Aku tidak tahu ya Rasulullah,” jawab ku.
“Karena engkau telah mengikuti Sunnahku, memuliakan orang-orang yang saleh, memberi nasehat-nasehat yang baik kepada saudara-saudaramu, dan mencintai aku dan keluargaku,” Nabi menjelaskan. “Karena alasan-alasan itulah Allah telah mengangkatmu ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”
oooOOOooo
Bisyr berkisah pula sebagai berikut :
Suatu malam aku bermimpi bertemu dengan ‘Ali ra. Aku berkata kepadanya : “Berikan aku sebuah petuah.”
“Alangkah baik belas kasih yang diperlihatkan orang-orang kaya kepada orang-orang miskin, semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Yang Maha Pengasih. Tetapi yang lebih baik adalah keengganan orang-orang miskin untuk menerima pemberian orang-orang kaya karena percaya kemurahan Sang Pencipta alam semesta,” jawab “Ali.
oooOOOooo
Bisyr sedang terbaring menantikan ajalnya. Seseorang datang dan mengeluh tentang nasibnya yang malang. Bisyr melepaskan dan memberikan pakaiannya kepada lelaki itu, kemudian menggunakan sebuah pakaian yang dipinjamnya dari seorang sahabat. Dengan menggunakan pakaian pinjaman itulah ia berpindah ke alam baqa.
oooOOOooo
Diriwiyatkan bahwa selama Bisyr masih hidup, tidak ada keledai yang membuang kotorannya di jalan-jalan kota Baghdad, karena menghormati Bisyr berjalan dengan kaki telanjang. Pada suatu malam seorang lelaki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di atas jalan. Maka berserulah ia :
“Wahai, Bisyr telah tiada!.”
Mendengar seruan itu, orang-orang pun pergi menyelidiki. Ternyata kata-katanya itu terbukti kebenarannya. Lalu kepadanya ditanyakan bagaimana ia bisa tahu bahwa Bisyr telah meninggal dunia.
“Karena selama Bisyr masih hidup, tak pernah ada kotoran keledai terlihat di jalan-jalan kota Baghdad. Tadi aku melihat bahwa kenyataan itu telah berubah, maka tahulah aku bahwa Bisyr telah tiada.”


Sumber: Kitab Tadzkiratul Auliya , Warisan Para Auliya, Karya Fariduddin Attar.

Dzun Nun Al Mishri Full

DZUN NUN AL MISHRI(Dari Kitab Tadzkirotul Auliya)



DZUN NUN SI ORANG MESIR DAN KISAH PERTAUBATANNYA

Mengenai pertaubatan Dzun Nun si orang Mesir dikisahkannya sebagai berikut :
Suatu hari aku mendengar bahwa di suatu tempat berdiam seorang pertapa. Maka pergilah aku ke pertapaan itu. Sesampainya di sana kudapati si pertapa sedang bergantung pada sebatang pohon dan berseru kepada dirinya sendiri :
“Wahai tubuh, bantulah aku dalam mentaati perintah Allah. Kalau tidak, akan ku biarkan engkau tergantung seperti ini sampai engkau mati kelaparan.”
Menyaksikan hal itu aku tak dapat menahan tangis sehingga tangisku terdengar oleh si pertapa pengabdi Allah itu. Maka bertanyalah ia:
“Siapakah itu yang telah menaruh belas-kasihan kepada diriku yang tidak mempunyai malu dan banyak berbuat aniaya ini?.”
Aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian aku bertanya: “Mengapakah engkau berbuat seperti ini?”
“Tubuhku ini telah menghalang-halangiku untuk mentaati perintah Allah,” jawabnya. “Tubuhku ini ingin bercengkerama dengan manusia-manusia lain.”
Tadi aku mengira bahwa ia telah menumpahkan darah seorang Muslim atau melakukan dosa besar semacam itu.
Si pertapa melanjutkan : “Tidakkah engkau menyadari bahwa begitu engkau bergaul dengan manusia-manusia ramai, maka segala sesuatu dapat terjadi?”
“Engkau benar-benar seorang pertapa yang kukuh!.” Kataku kepadanya.
“Maukah engkau menemui seorang pertapa yang lebih dari padaku?” tanyanya kepadaku.
“Ya”, jawabku.
“Pergilah ke gunung yang berada di sana itu. Di situlah engkau akan menemuinya”, si pertapa menjelaskan.
Maka pergilah aku ke gunung yang ditunjukannya. Di sana ku jumpai seorang pemuda yang sedang duduk di dalam sebuah pertapaan. Sebuah kakinya telah terkatung putus dan dilemparkan keluar, cacing-cacing sedang menggerogotinya. Aku menghampirinya lalu mengucapkan salam, kemudian ku tanyakan perihal dirinya.
Si Pertapa berkisah kepadaku : “Suatu hari ketika aku sedang duduk di dalam pertapaan ini, seorang wanita kebetulan lewat di tempat ini. Hatiku bergetar menginginkannya dan jasmaniku mendorongku agar mengejarnya. Ketika sebuah kakiku telah melangkah ke luar dari ruangan pertapaan ini terdengarlah olehku sebuah seruan : “Setelah mengabdi dan mentaati Allah selama tiga puluh tahun, tidakkah engkau merasa malu untuk mengikuti syaithan dan mengejar seorang wanita lacur? Karena menyesal kupotonglah kaki yang telah kulangkahkan itu. Kini aku duduk menantikan apa yang akan terjadi menimpa diriku. Tetapi apakah yang telah mendorong dirimu untuk menemui orang berdosa seperti aku ini? “Jika engkau ingin menjumpai seorang hamba Allah yang sejati, pergilah ke puncak gunung ini.”.
Puncak gunung itu terlampau tinggi untuk kudaki. Oleh karena itu aku hanya dapat bertanya-tanya tentang dirinya.
Seseorang mengisahkan kepadaku : “Memang ada seorang lelaki yang sudah sangat lama mengabdi kepada Allah di dalam pertapaan di puncak gunung itu. Pada suatu hari seseorang mengunjunginya dan berbantah-bantah dengannya. Orang itu berkata bahwa setiap manusia harus mencari makanannya sendiri sehari-hari. Si Pertapa kemudian bersumpah tidak akan memakan makanan yang telah diusahakan. Berhari-hari lamanya ia tidak makan sesuatu pun. Tetapi akhirnya Allah mengutus sekawanan lebah yang melayang-layang mengelilinginya kemudian memberikan madu kepadanya.”
Segala sesuatu yang telah kusaksikan dan segala kisah yang telah kudengar itu sangat menyentuh hatiku. Sadarlah aku bahwa barang siapa memasrahkan diri kepada Allah, niscaya Allah kan memeliharanya dan tidak akan menyia-nyiakan penderitaannya. Di dalam perjalanan menuruni gunung itu aku melihat seekor burung yang sedang bertengger di atas pohon. Tubuhnya kecil dan setelah kuamati ternyata matanya buta. Aku lantas berkata dalam hati : “Dari manakah makhluk lemah yang tak berdaya ini memperoleh makanan dan minumannya?”.
Seketika itu juga si burung melompat turun. Dengan mematuk-matukan paruhnya, diacungkannya tanah dan tidak berapa lama kemudian terlihatlah olehku dua buah cawan. Yang sebuah dari emas dan penuh biji gandum, sedang lainnya dari perak dan penuh dengan air mawar. Setelah makan sepuasnya, burung itu meloncat kembali ke atas dahan sedang cawan-cawan tadi hilang kembali tertimbun tanah. Dzun Nun sangat heran menyaksikan keanehan tersebut. Sejak saat itulah ia mempercayakan jiwa raganya dan benar-benar bertaubat kepada Allah.
Setelah beberapa lama berjalan, Dzun Nun dan para sahabatnya sampai di sebuah padang pasir. Di sana mereka menemukan sebuah guci berisi kepingan-kepingan emas dan batu permata dan di atas tutupnya terdapat sebuah papan yang bertuliskan nama Allah. Sahabat-sahabatnya membagi-bagi emas dan permata-permata tersebut di antara sesama mereka sedang Dzun Nun hanya meminta : “Berikanlah kepadaku papan yang bertuliskan nama Sahabatku itu!.”
Papan itu diterimanya, siang malam diciuminya. Berkat papan itu ia memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya sehingga pada suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu ia mendengar suara yang berseru kepadanya : “Semua sahabat-sahabatmu lebih suka memilih emas dan permata karena benda-benda itu mahal harganya. Tetapi engkau telah memilih nama-Ku yang lebih berharga daripada emas dan permata. Oleh karena itu Aku bukakan untukmu pintu pengetahuan dan kebijaksanaan!.”
Setelah itu Dzun Nun kembali ke kota. Kisahnya berlanjut pula, sebagai berikut ini.
Suatu hari aku berjalan-jalan sampai ke tepian sebuah sungai. Di situ ku lihat sebuah villa. Di sungai itu aku bersuci, setelah selesai, tanpa sengaja aku memandang loteng villa itu. Di atas balkon sedang bediri seorang dara jelita. Karen ingin mempertegasnya aku pun bertanya : “Upik, siapakah engkau ini?”.
Si dara menjawab : “Dzun Nun, dari kejauhan ku kira engkau seorang gila, ketika agak dekat kukira engkau seorang terpelajar. Dan ketika sudah dekat ku kira engkau seorang mistikus. Tetapi kini jelas bagiku bahwa engkau bukan gila, bukan seorang terpelajar dan bukan pula seorang mistikus.”
Aku bertanya : “Mengapa engkau berkata demikian?.”
Si dara menjawab : “Seandainya engkau gila, niscaya engkau tidak bersuci. Seandainya engkau terpelajar niscaya engkau tidak memandang yang tak boleh dipandang. Dan seandainya engkau seorang mistikus pasti engkau tidak akan memandang sesuatu pun juga selain Allah.”
Setelah berkata demikian dara itu pun hilang. Sadarlah aku bahwa ia bukan manusia biasa. Sesungguhnya ia telah diutus Allah untuk memberi peringatan kepada diriku. Api sesal membakar hatiku. Maka aku teruskan pengembaraanku ke arah pantai.
Sesampainya di pantai aku melihat orang-orang sedang naik ke atas sebuah kapal. Akupun berbuat seperti mereka. Beberapa lama berlalu, seorang saudagar yang menumpang kapal itu kehilangan permata miliknya. Satu persatu para penumpang digeledah. Akhirnya mereka menarik kesimpulan bahwa permata itu ada di tanganku. Berulangkali mereka menyiksaku dan memperlakuan diriku sedemikian hinanya, tetapi aku tetap membisu. Akhirnya aku tak tahan lagi lalu berseru :
“Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya engkaulah Yang Maha Tahu!.” Seketika itu juga beribu-ribu ekor ikan mendongakkan kepala ke atas permukaan air dan mesing-masing membawa sebuah permata di mulutnya.
Aku mengambilnya sebuah dan memberikannya kepada si saudagar. Menyaksikan keajaiban ini semua orang yang berada di atas kapal berlutut dan meminta maaf padanya. Karena peristiwa inilah aku dijuluki Dzun Nun (“Manusia Ikan”).

DZUN NUN DITANGKAP DAN DIBAWA KE KOTA BAGHDAD

Dzun Nun telah mencapai tingkat keluhuran yang tinggi tetapi tak seorang pun menyadari ini. Orang-orang di Negeri Mesir bahkan sepakat mencap dirinya bid’ah dan melaporkan segala perbuatannya kepada Khalifah al-Mutawwakkil. Mutawwakil segera mengirim para perwiranya untuk membawa Dzun Nun ke kota Baghdad. Ketika memasuki istana khalifah, Dzun Nun berkata : “Baru saja kupelajari Islam yang sebenarnya dari seorang wanita tua dan sikap satria tulen dari seorang kuli pemikul air.”
“Bagaimana?,” tanya mereka kepadanya.
Dzun Nun menjawab : “Sesampainya di istana khalifah dan menyaksikan kemegahan istana dengan para pengurus dan pelayan yang hilir mudik di koridor-koridornya, aku berpikir alangkah baiknya seandainya terjadi sedikit perubahan pada wajahku ini. Tiba-tiba seorang wanita tua dengan sebuah tongkat di tangannya menghampiriku. Sambil menatapku dengan tajam ia berkata kepadaku :Jangan engkau takuti jasad-jasad yang akan engkau hadapi, karena mereka dan engkau adalah sama-sama hamba Allah Yang Maha Besar. Kecuali apabila dikehendaki Allah, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadapmu.”
“Di tengah perjalanan tadi aku bertemu dengan seorang pemikul air. Aku diberinya seteguk air yang menyegarkan. Kepada seorang teman yang menyertaiku aku memberi isyarat agar ia memberikan sekeping uang dinar kepadanya. Tapi si pemikul air menolak, tidak mau menerima uang itu dan berkata kepadaku : “Engkau adalah seorang yang terpenjara dan terbelenggu. Bukanlah suatu kesatria yang sejati apabila menerima sesuatu dari seseorang yang terpenjara seperti engkau ini, seorang asing yang sedang terbelenggu.”
Setelah itu diperintahkan supaya Dzun Nun dijebloskan ke dalam penjara. Empat puluh hari empat puluh malam lamanya ia mendekam dalam kurungan itu. Setiap hari saudara perempuannya mengantarkan sekerat roti yang telah dibelinya dengan upah dari pekerjaan memintal benang. Ketika Dzun Nun dibebaskan, ditemukan empat puluh potong roti di kamar kurungannya dan tak satupun di antara roti-roti itu yang telah disentuhnya. Katika saudara perempuan Dzun Nun mendengar hal ini, ia menjadi sangat sedih.
“Engkau tahu bahwa roti-roti itu adalah halal dan tidak ku peroleh dengan jalan meminta-minta. Mengapa engkau tidak mau memakan roti-roti pemberianku itu.?”
“Karena pinggannya tidak bersih,” jawab Dzun Nun. Yang dimaksudkannya adalah bahwa pinggan tersebut telah terpegang oleh penjaga penjara.
Ketika keluar dari penjara itu, Dzun Nun tergelincir dan dahinya terluka. Diriwayatkan bahwa lukanya itu banyak mengeluarkan darah tetapi tak setetespun yag mengotori muka, rambut maupun pakaiannya. Setiap tetes darah yang terjatuh ke tanah, seketika itu juga lenyap dengan izin Allah.
Kemudian Dzun Nun dibawa menghadap khalifah. Ia diharuskan menjawab tuduhan-tuduhan yang memberatkan dirinya. Maka dijelaskannya doktrin-doktrinnya sedemikian rupa sehingga Mutawwakil menangis tersedu-sedu, sedang menteri-mentrinya terpesona mendengar kefasihan Dzun Nun. Khalifah menganugerahinya dengan kehormatan yang besar.

DZUN NUN DAN SEORANG MURID YANG SALEH

Dzun Nun mempunyai seorang murid yang telah bertapa selama empat puluh kali, masing-masing selama empat puluh hari. Empat puluh kali ia telah berdiri di Padang Arafah dan selama empat puluh tahun ia telah mengendalikan hawa nafsunya. Suatu hari si murid datang menghadap Dzun Nun dan berkata :
“Semua itu telah ku lakukan. Tetapi untuk semua jerih payahku Sang Sahabat tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dan tidak pernah memandang diriku. Dia tidak memperdulikanku dan tak mau memperlihatkan keghaiban-keghaiban-Nya padaku. Semua itu ku katakan bukan untuk memuji diriku sendiri, aku semata-mata menyatakan hal yang sebenarnya. Aku telah melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan oeh diriku yang malang ini. Aku tidak mengeluh kepada Allah. Aku haya menyatakan hal yang sebenarnya bahwa aku telah mengabdikan jiwa ragaku untuk berbakti kepada-Nya. Aku hanya meneyampaikan kisah sedih dari nasibku yang malang ini. Kisah ketidak-beruntungan diriku ini. Semua itu kukemukakan bukan karena hatiku telah jemu utnuk mematuhi Allah. Aku khawatir jika masa-masa mendatang aku mengalami hal yang sama. Seumur hidup aku telah mengetuk dengan penuh harap, namun tak ada jawaban. Sangat berat bagiku untuk lebih lama menanggungkan. Karena engkau adalah tabib bagi orang-orang yang sedang berduka dan penasehat tertinggi bagi orang-orang suci, sembuhkanlah duka citaku ini.”
“Malam ini makanlah dengan sepuas-puasnya.” Kata Dzun Nun menasehati, “Tinggalkanlah shalat ‘Isa dan tidurlah dengan nyenyak sepanjang malam. Dengan demikian jika Sang Sahabat selama ini tidak memperlihatkan diri-Nya dengan kebajikan, maka setidak-tidaknya Dia akan memperlihatkan diri-Nya dengan penyesalan terhadapmu. Jika selama ini Dia tidak mau memandangmu dengan kasih sayang, maka Dia akam memandangmu dengan kemurkaan.”
Si murid pun pergi dan pada malam itu ia makan dengan sepuas-puasnya. Tetapi untuk melalaikan shalat “Isha hatinya tidak mengijinkan. Ia tetap melakukan shalat dan setelah itu ia pun tidur. Malam itu di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nabi dan berkata kepadanya :
“Sahabatmu mengucapkan salam kepadamu. Dia berkata : “Hanya seorang malang yang lemah serta bukan manusia sejatilah yang datang ke hadiratKu dan cepat merasa puas. Inti permasalahan adalah hidup lurus tanpa keluhan.” Alllah yang Maha Besar menyatakan “Telah ku berikan empat puluh tahun keinginan kapada hatimu dan Aku jamin bahwa engkau akan memperoleh segala sesuatu yang engkau harapkan dan memenuhi segala keinginanmu itu. Tetapi ssampaikan pula salam-Ku kepada Dzun Nun, si manusia bajingan dan berpura-pura itu, Katakanlah kepadanya, wahai manusia pendusta yang suka berpura-pura, Jika tidak Aku bukakan malumu kepada seluruh penduduk kota, maka Aku bukanlah Tuhanmu. Awas, janganlah engkau sesatkan kekasih-kekasih-Ku yang malang dan janganlah engkau jauhkan mereka dari hadirat-Ku.”
Si murid terjaga dari tidurnya lalu menangis. Kemudian ia pergi kepada Dzun Nun dan mengisahkan segala sesuatu yang disaksikan dan didengarnya dalam mimpi itu. Ketika Dzun Nun mendengar kata-kata “Tuhan mengirim salam dan menyatakan bahwa engkau adalah seorang pendusta yang suka berpura-pura,” ia pun berguing-guling kegirangan dan menangis penuh kebahagiaan.

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI DZUN NUN

Dzun Nun mengisahkan : Ketika aku sedang berjalan-jalan di gunung, terlihat olehku sekumpulan orang-orang  yang menderita sakit. Aku bertanya kepada mereka : “Apakah yang telah terjadi terhadap kalian.?”
Mereka menjawab : “Di dalam pertapaan yang terletak di tempat ini berdiam seorang yang saleh. Setahun sekali ia keluar dari pertapaannya, meniup orang-orang ini. Lalu semuanya sembuh. Setelah itu ia pun kembali ke dalam pertapaannya dan setahun kemudian barulah ia keluar lagi.”
Dengan sabar aku menantikan si pertapa itu keluar dari dalam pertapannya. Ternyata yang ku saksikan adalah seorang lelaki berwajah pucat, berbadan kurus dan bermata cekung. Tubuhku gemetar karena kagum memandang dirinya. Dengan penuh kasih si pertapa memandangi orang banyak itu, kemudian menengadahkan pandangannya ke atas. Setelah itu semua orang-orang yang menderita sakit itu ditiupnya beberapa kali. Dan semuanya sembuh dari penyakitnya.
Ketika si pertapa hendak kembali ke dalam pertapannya, aku segera meraih pakaiannya dan berseru :
“Demi kasih Allah engkau telah menyembuhkan penyakit-penyakit lahiriah, tetapi sembuhkanlah sekarang penyakit di dalam batinku ini.”
Sambil memandang diriku si pertapa berkata :
“Dzun Nun lepaskanlah tanganmu dariku. Sang Sahabat sedang mengawasi dari puncak kebesaran dan keagungan. Jika Dia lihat betapa engkau bergantung kepada seseorang selain daripada-Nya, pasti Dia akan meninggalkan dirimu bersama orang itu, maka celakalah engkau di tangan orang itu.”
Setelah berkata demikian ia pun kembali ke dalam pertapannya.
oooOOOooo
Suatu hari sahabat-sahabatnya mendapati Dzun Nun sedang menangis.
“Mengapa engkau menangis?” tanya mereka.
“Kemarin malam ketika bersujud di dalam shalat, mataku tertutup dan aku pun tertidur. Terlihat olehku Allah dan Dia berkata kepadaku : “Wahai Abu Faiz, Aku telah menciptakan semua makhluk terbagi dalam sepuluh kelompok. Kepada mereka Aku berikan harta kekayaan dunia. Semuanya berpaling kepada kekayaan dunia kecuali satu kelompok. Kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka aku berikan surga. Semuanya berpaling kepada surga kecuali satu kelompok. Kemudian kelompok ini terbagi pula menjadi sepuluh kelompok. Kepada mereka aku tunjukan neraka. Semua lari menghindar kecuali satu kelompok yaitu orang-orang yang tidak tergoda oleh harta kekayaan dunia, tidak mendambakan surga dan tak takut pada neraka. Apakah sebenarnya yang kalian kehendaki?” Semuanya menengadahkan kepalanya sambil berseru :
Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa yang kami kehendaki.!”.
oooOOOooo
Pada suatu hari seorang anak lelaki menghampiri Dzun Nun lalu berkata : “Aku mempunyai uang seribu dinar. Aku ingin menyumbangkan uang ini untuk kebaktianmu kepada Allah. Aku ingin agar uangku ini dapat digunakan oleh murid-muridmu dan para guru sufi.”
“Apakah engkau sudah cukup umur?” tanya Dzun Nun.
“Belum”, jawab anak itu.
“Jika demikian engkau belum berhak untuk mengeluarkan uang tersebut. Bersabarlah hingga engkau cukup dewasa.” Dzun Nun menjelaskan.
Setelah dewasa, anak itu kembali menemui Dzun Nun. Dengan pertolongan Dzun Nun ia bertaubat kepada Allah dan semua uang dinar emas itu diberikannya untuk para sufi, sahabat-sahabat Dzun Nun.
Suatu ketika para sufi itu mengalami kesulitan sedang mereka tak memiliki apa-apa lagi karena uang telah habis dipergunakan.
Anak lelaki yang telah menyumbangkan uangnya itu berkata : “Sayang sekali, aku tak mempunyai yang seratus ribu dinar lagi untuk membantu manusia-manusia berbudi ini.”
Kata-kata ini terdengar oleh Dzun Nun, maka sadarlah ia bahwa anak tersebut belum menyelami kebenaran sejati dari kehidupan mistik karena kekayaan dunia masih penting dalam pandangannya. Anak itu dipanggil Dzun Nun dan berkata kepadanya :
“Pergilah ke tabib anu, katakan kepadanya bahwa aku menyuruh dia untuk menyerahkan obat seharga tiga ribu dirham kepadamu.”
Si pemuda segera pergi ke tabib dan tak lama kemudian ia telah kembali lagi.
“Masukanlah obat-obat itu kedalam lumpang dan tumbuklah sampai lumat,” Dzun Nun menyuruh si pemuda. “Kemudian tuangkanlah sedikit minyak sehingga obat-obat itu berbentuk pasta. Kemudian kepal-kepallah ramuan itu menjadi tiga buah butiran, dan dengan sebuah jarum lobangilah ketiga-tiganya. Setelah itu bawalah ketiga butirnya kepadaku.”
Si pemuda melaksanakan seperti yang diperintahkan kepadanya. Setelah selesai, ketiga butiran itu dibawanya kepada Dzun Nun. Butiiran-butiran tersebut diusap-usap oleh Dzun Nun kemudian ditiupnya. Tiba-tiba bitur-butir itu berubah menjadi tiga buah batu merah delima dari jenis yang belum pernah disaksikan manusia. Kemudian Dzun Nun berkata kepada si pemuda :
“Bawalah permata-permata ini ke pasar dan tanyakanlah harganya ketika sampai tetapi jangan engkau jual.”
Si pemuda membawa batu-batu permata itu ke pasar. Ternyata setiap butirannya berharga seribu dinar. Si pemuda kembali untuk mengabarkan hal ini kepada Dzun Nun. Dzun Nun berkata : “Sekarang masukanlah permata-permata itu ke lesung, tumbuklah sampai halus dan setelah itu lemparkanlah ke dalam air.”
Si pemuda melakukan seperti yang disuruhkan, melemparkan tumbukan permata itu ke dalam air. Setelah itu Dzun Nun berkata kepadanya : “Anakku, para guru sufi itu bukan lapar karena kekurangan. Semua ini adalah kemauan mereka sendiri.”.
Si pemuda bertaubat lalu jiwanya terjaga. Dunia ini tak berharga lagi dalam pandangannya.
oooOOOooo
Dzun Nun berkisah sebagai berikut :
Selama tiga puluh tahun aku mengajak manusia untuk bertaubat, tetapi hanya seorang yang telah menghampiri Allah dengan segala kepatuhan. Beginilah peristiwanya :
Pada suatu hari sewaktu aku berada di pintu sebuah masjid, seorang pangeran beserta para pengiringnya lewat di depanku. Kuucapkan kata-kata : “Tak ada yang lebih bodoh daripada si lemah yang bergulat melawan si kuat.”
Si pangeran bertanya kepadaku : “Apakah makna kata-katamu itu?.”
“Manusia adalah makhluk yang lemah, tetapi ia bergulat melawan Allah Yang Maha Kuat,” jawab ku.
Wajah si pangeran remaja itu berubah pucat. Ia bangkit lalu meninggalkan tempat itu. Keesokan harinya ia kembali menemuiku dan bertanya : “Manakah jalan menuju Allah?”
“Ada jalan yang kecil dan ada jalan yang besar, yang manakah yang engkau sukai?” Jika engkau menghendaki jalan yang kecil, tinggalkanlah dunia dan hawa nafsu, setelah itu jangan berbuat dosa lagi. Jika engkau menghendaki jalan yang besar, tinggalkanlah segala sesuatu kecuali Allah lalu kosongkanlah hatimu.”
“Demi Allah akan ku pilih jalan yang besar,” jawab si pangeran.
Esoknya ia mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba dan mengambil jalan mistik. Di kemudian hari ia menjadi seorang manusia suci.
oooOOOooo
Kisah berikut ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far yang bermata satu.
Aku bersama Dzun Nun dengan sekelompok murid-muridnya berada di suatu tempat. Mereka sedang membicarakan bahwa sesungguhnya manusia dapat memerintah benda-benda mati.
“Inilah sebuah contoh,” kata Dzun Nun, “bahwa benda-benda mati mematuhi perintah-perintah manusia-manusia suci. Jika kukatakan kepada sofa itu menarilah mengelilingi rumah ini, maka ia pun menari.”
“Belum lagi Dzun Nun selesai dengan kata-katanya, sofa itu mulai bergerak kemudian mengelilingi rumah lalu membalik ke tempatnya semula. Seorang pemuda yang menyaksikan peristiwa ini tidak dapat menahan ledakan tangisnya dan tak berapa lama kemudian menemui ajalnya. Mereka memandikan mayat si pemuda di atas sofa itu kemudian menguburkannya.
oooOOOooo
Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Dzun Nun dan berkata :
“Aku mempunyai hutang tetapi aku tidak mempunyai uang untuk melunasinya.”
Dzun Nun memungut sebuah batu. Batu itu berubah menjadi zamrud. Dzun Nun menyerahkannya kepada lelaki itu. Ia membawa nya ke pasar dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham kemudian ia melunasi hutangnya.
oooOOOooo
Ada seorang pemuda yang seringkali mencemoohkan kaum sufi. Suatu hari Dzun Nun melepaskan cincin di jarinya kemudian memberikan cincin itu kepada si pemuda sambil berkata:
“Bawalah cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga satu dinar.”
Si pemuda membawa cincin itu ke pasar tetapi tak seorang pun mau menerimanya dengan  harga di atas satu dirham. Si Pemuda kembali dan menyampaikan hal itu kepada Dzun Nun.
“Sekarang bawalah cincin ini kepada pedagang permata dan tanyakan harganya.” Dzun Nun berkata kepada si pemuda.
Ternyata pedagang-pedagang permata menaksir harga cincin itu seribu dinar. Ketika si pemuda kembali, Dzun Nun berkata kepadanya :
“Engkau hanya mengetahui kaum sufi seperti pemilik-pemilik warung di pasar tadi mengetahui harga cincin ini.”
Si pemuda bertaubat dan ia tak mau lagi mencemooh para sufi.
oooOOOooo
Telah sepuluh tahun lamanya Dzun Nun ingin memakan Sekbaj, tetapi keinginan itu tak pernah dilampiaskannya. Kebetulan esok hari adalah hari raya dan batinnya berkata: “Bagaimana jika esok engkau memberi kami sesuap sekbaj sekedar untuk menyambut hari raya?”
“Wahai hatiku, jika demikian yang engkau kehendaki, maka biarkanlah aku membaca seluruh ayat al-Qur’an di dalam shalat sunnat dua raka’at malam nanti.”
Hatinya mengizinkan. Keesokan harinya Dzun Nun mempersiapkan sekbaj di depannya. Ia telah membasuh tangan tetapi sekbaj itu tidak disentuhnya; ia segera melakukan shalat.
“Apakah yang telah terjadi?”, seseorang yang menyaksikan hal itu bertanya kepada Dzun Nun.
“Barusan, hatiku berkata kepadaku,” jawab Dzun Nun. “Akhirnya setelah sepuluh tahun lamanya barulah tercapai keinginanku.!”
Tetapi segera ku jawab “ “Demi Allah, keinginanmu tidak akan tercapai.”
Yang meriwayatkan kisah ini menyatakan bahwa begitu Dzun Nun mengucapkan kata-kata itu, masuklah seorang yang membawakan semangkuk sekbaj ke hadapannya dan berkata :
“Guru, aku tidak datang kemari atas kehendakku sendiri, tetapi sebagai utusan. Baiklah kujelaskan duduk persoalannya kepadamu. Aku mencari nafkah sebagai seorang kuli padahal aku mempunyai beberapa orang anak. Telah beberapa lamanya mereka meminta sekbaj dan untuk itu aku telah menabung uang. Kemarin malam kubuatkan sekbaj ini untuk menyambut hari raya. Tadi aku bermimpi melihat wajah Rasulullah yang cerah menerangi bumi. Rasulullah berkata kepadaku : “Jika engkau ingin melihatku di hari berbangkit nanti, bawalah sekbaj itu kepada Dzun Nun dan katakan kepadanya bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib telah memohon ampun untuk dirinya agar ia untuk sementara dapat berdamai dengan hatinya dan memakan sekbaj ini dengan sekedarnya.”
“Aku taati,” sahut Dzun Nun sambil menangis.
oooOOOooo
Ketika Dzun Nun terbaring menunggu ajalnya, sahabat-sahabatnya bertanya :
“Apakah yang engkau inginkan saat ini?”
Dzun Nun menjawab : “Keinginanku adalah walau untuk sesaat saja, aku dapat mengenal-Nya,” Kemudian Dzun Nun bersyair :
Takut telah meletihkan diriku;
Hasyrat telah memebakar diriku;
Cinta telah memperdayakanku.
Tetapi Allah telah menghidupkan aku kembali.
Pada suatu hari ketika Dzun Nun tidak sadarkan diri. Pada malam kematiannya, tujuh puluh orang telah bertemu dengan Nabi Muhammad di dalam mimpi mereka. Semuanya mengisahkan bahwa di dalam mimpi itu Nabi berkata : “Sahabat Allah sudah tiba. Aku datang untuk menyambut kedatangannya.”
Ketika Dzun Nun meninggal dunia, orang-orang menyaksikan tulisan berwarna hijau di dahinya : “Inilah sahabat Allah. Ia mati di dalam kasih Allah. Inilah manusia yang telah dijagal Allah dengan pedang-Nya.”
Ketika orang-orang mengusung mayatnya ke pemakaman, matahari sedang bersinar dengan sangat teriknya. Burung-burung turun dari angkasa dan dengan sayap sayap mereka meneduhi peti mati Dzun Nun sejak dari rumah sampai ke pemakaman. Ketika mayatnya diusung itu seorang muadzin menyerukan adzan. Sewaktu si Muadzin mengucapkan kata-kata Syahadah, dari balik kafan terlihat jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas.
“Ia masih hidup!.”
Orang-orang berseru kaget.

Mereka menurukan usungan itu. Memang jari tangan Dzun Nun mengacung ke atas, tetapi ia telah mati. Betapa pun mereka mencoba namun mereka tak dapat membenarkan (mengembalikan) jarinya yang mengacung itu. Ketika orang-orang Mesir mendengar hal ini, mereka semua merasa malu dan bertaubat dari kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Dzun Nun. Sebagai tanda penyesalan di atas kuburan Dzun Nun telah mereka lakukan berbagai hal yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.
Sumber: Kitab Tadzkirotul Auliya Karangan Fariduddin Attar

Senin, 28 Desember 2015

Kisah Ibrahim Bin Ad-Ham Full

IBRAHAIM BIN AD-HAM

Sumber dari Kitab Tadzkirotul Auliya Karya Fariduddin Attar


LEGENDA MENGENAI DIRI IBRAHAM BIN AD-HAM

Ibrahim bin Ad-ham adalah raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Kemana pun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buah tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya. Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar berderik-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru “Siapakah itu?!”
“Seorang sahabat”, terdengar sebuah sebutan. “untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap ini.”
“Goblok, engkau hendak mencari unta di atas atap?” seru Ibrahim.
“Wahai manusia yang lalai.” Suara itu menjawab. “Apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutera dan tidur di atas ranjang emas?”.
Kata-kata ini sangat menggetarkan hati Ibrahim. Ia sangat gelisah dan tidak dapat meneruskan tidurnya. Ketika hari telah siang. Ibrahim kebali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya sambil berpikir-pikir, bingung dan sangat gundah. Para menteri telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan terbuka.
Tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehingga tak seorang pun di antara anggota-anggota maupun hamba-hamba istana yang berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan tenang lelaki tersebut melangkah ke depan singgasana.
“Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim.
“Aku baru saja sampai di persinggahan ini”, jawab lelaki itu.
“Ini bukan sebuah persinggahan para kafilah. Ini adalah istanaku. Engkau sudah gila,” Ibrahim menghardik.
“Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau?” tanya lelaki itu.
“Ayahku”, jawab Ibrahim.
“Dan sebelum ayah mu?”
“Ayah dari kakekku!”
“Dan sebelum dia?”
“Kakek dari kakekku!”.
“Ke manakah mereka sekarang ini?”, tanya lelaki itu.
“Mereka telah tiada. Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?”.
Setelah berkata demikian lelaki itu hilang. Sesungguhnya ia adalah Khidir as. Kegelisahan, dan kegundahan hati Ibrahim semakin menjadi-jadi. Ia dihantui bayang-bayang di siang hari dan mendengar suara-suara di malam hari; keduanya sama-sama membingungkan. Akhirnya, karena tidak tahan lagi, pada suatu hari berserulah Ibrahim :
“Persiapkan kudaku! Aku hendak pergi berburu. Aku tak tahu apa yang telah terjadi terhadap diriku belakangan ini. Ya Allah, kapan semua ini akan berakhir?”.
Kudanya telah dipersiapkan lalu berangkatlah ia berburu. Kuda itu dipacunya menembus padang pasir, seolah-olah ia tak sadar akan segala perbuatannya. Dalam kebingungan itu ia terpisah dari rombongannya. Tiba-tiba terdengar olehnya sebuah seruan : “Bangunlah.”
Ibrahim pura-pura tidak mendengar  seruan itu. Ia terus memacu kudanya. Untuk kedua kalinya suara itu berseru kepadanya, namun Ibrahim tetap tak memperdulikannya. Ketika suara itu untuk ketiga kalinya berseru kepadanya, Ibrahim semakin memacu kudanya. Akhirnya untuk yang ke empat kali, suara itu berseru : “Bangunlah, sebelum engkau ku cambuk!”
Ibrahim tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat itu terlihat olehnya seekor rusa. Ibrahim hendak memburu rusa itu, tetapi binatang itu berkata kepadanya : “Aku disuruh untuk memburumu. Engkau tidak dapat menangkap ku. Untuk inikah engkau diciptakan atau inikah yang diperintahkan kepadamu?”
“Wahai, apakah yang menghadang diriku ini?” seru Ibrahim. Ia memalingkan wajahnya dari rusa tersebut. Tetapi dari pegangan di pelana kudanya terdengar suara yang menyerukan kata-kata yang serupa. Ibrahim panik dan ketakutan. Seruan itu semakin jelas karena Allah Yang Maha Kuasa hendak menyempurnakan janji-Nya. Kemudian suara yang serupa berseru pula dari mantelnya. Akhirnya sempurnalah seruan Allah itu dan pintu surga terbuka bagi Ibrahim. Keyakinan yang teguh telah tertanam di dalam dadanya. Ibrahim turun dari tunggangannya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air matanya. Dengan sepenuh hati Ibrahim bertaubat kepada Allah.
Ketika Ibrahim menyimpang dari jalan raya, ia melihat seseorang gembala yang mengenakan pakaian dan topi terbuat dari bulu domba. Sang pengembala sedang menggembalakan sekawanan ternak. Setelah diamatinya ternyata si gembala itu adalah sahayanya yang sedang menggembalakan domba-domba miliknya pula. Kepada si gembala itu, Ibrahim menyerahkan mantelnya yang bersulam emas, topinya yang bertahtahkan batu-batu permata beserta doma-domba tersebut, sedang dari si gembala itu Ibrahim meminta pakaian dan topi bulu domba yang sedang dipakainya. Ibrahim lalu mengenakan pakaian dan topi bulu milik si gembala itu dan semua malaikat menyaksikan perbuatannya itu dengan penuh kekaguman.
“Betapa megah kerjaan yang diterima putera Adam ini,” malaikat-malaikat itu berkata, “ia telah mencampakan pakaian keduniawian yang kotor lalu menggantinya dengan jubah kepapaan yang megah.”
Dengan berjalan kaki, Ibrahim mengelana melalui gunung-gunung, dan padang pasir yang luas sambil meratapi dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Akhirnya sampailah ia di Merv. Di sini Ibrahim melihat seorang lelaki terjatuh dari sebuah jembatan. Pastilah ia akan binasa dihanyutkan oleh air sungai.
Dari kejauhan Ibrahim berseru : “Ya Allah, selamatkanlah dia!.”
Seketika itu juga tubuh lelaki itu berhenti di udara sehingga para penolong tiba dan menariknya ke atas. Dan dengan terheran-heran mereka memandang kepada Ibrahim. “Manusia apakah ia itu.” Seru mereka.
Ibrahim meninggalkan tempat itu dan terus berjalan sampai ke Nishapur. Di kota Nishapur Ibrahim mencari sebuah tempat terpencil di mana ia dapat tekun mengabdi kepada Allah. Akhirnya ditemuinyalah sebuah gua yang dikemudian hari menjadi amat termasyhur. Di dalam gua itulah Ibrahim menyendiri selama sembilan tahun, tiga tahun pada masing-masing ruang yang terdapat di dalamnya. Tak seorang pun yang tahu apakah yang telah dilakukannya baik siang maupun malam di dalam gua itu, karena hanya seorang manusia luar biasa perkasanya yang sanggup menyendiri di dalam gua itu pada malam hari.
Setiap hari kamis, Ibrahim memanjat keluar dari gua tersebut untuk mengumpulkan kayu bakar, Keesokan paginya pergilah ia ke Nishapur untuk menjual kayu-kayu itu. Setelah melakukan shalat Jum’at ia pergi membeli roti dengan uang yang diperolehnya. Roti itu separuhnya diberikannya kepada pengemis dan separuhnya lagi untuk pembuka puasanya. Demikianlah  yang dilakukannya setiap pekan.
Pada suatu malam di musim salju, Ibrahim sedang berada dalam ruang pertapaannya, Malam itu udara sangat dingin dan untuk bersuci Ibrahim harus memecahkan es. Sepanjang malam badannya menggigil, namun ia tetap melakukan shalat dan berdoa hingga fajar menyingsing. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba ia teringat pada api. Di atas tanah dilihatnya ada sebuah kain bulu. Dengan kain bulu itu sebagai selimut ia pun tertidur. Setelah hari terang benderang barulah ia terjaga dan badannya terasa hangat. Tetapi segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah. Ibrahim panik ketakutan dan berseru :
“YA Allah, Engkau telah mengirimkan makhluk ini dalam bentuk yang halus, tetapi sekarang terlihatlah bentuk sebenarnya yang sangat mengerikan. Aku tak kuat menyaksikannya.”
Naga itu segera bergerak dan meninggalkan tempat itu setelah dua atau tiga kali bersujud di depan Ibrahim.

IBRAHIM BIN AD-HAM PERGI KE MEKKAH

Ketika kemasyhuran perbuatan-perbuatannya tersebar luas, Ibrahim meninggalkan gua tersebut dan pergi ke Mekkah. Di tengah padang pasir, Ibrahim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya Nama Yang Teragung dari Allah dan setelah itu pergi meninggalkannya. Dengan Nama Yang Teragung itu Ibrahim menyeru Allah dan sesaat kemudian tampaklah olehnya Nabi Khidir as.
“Ibrahim”, kata Nabi Khidir kepadanya, “Saudaraku, Daud-lah yang mengajarkan kepadamu Nama Yang Teragung itu.”
Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah. Dengan seizin Allah, Khidir adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrahim.
Mengenai kelanjutan-kelanjutan menuju Mekkah  Ibrahim mengisahkan, sebagai berikut : “Setibanya di Dzatul Irq, kudapati tujuh puluh orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari lubang telinga mereka. Aku berjalan mengitari mayat-mayat tersebut, ternyata salah seorang di antaranya masih hidup.
“Anak muda, apakah yang telah terjadi?” aku bertanya kepadanya.
“Wahai anak Adam,” jawabnya padaku, “Beradalah di dekat air dan tempat shalat, janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum, tetapi jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorang manusia pun boleh bersikap terlampau berani di depan Sultan. Takutilah sahabat yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani. Kami ini adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berpasrah kepada Allah dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah kata pun di dalam perjalanan, tidak akan memikirkan apa pun kecuali Allah, senantiasa membayangkan Allah ketika berjalan maupun istirahat, dan tidak peduli kepada segala sesuatu kecuali kepada-Nya.
Setelah kami mengarungi padang pasir dan sampai ke tempat di mana para peziarah harus mengenakan jubah putih, Khidir as. Datang menghampiri kami. Kami mengucapkan salam kepadanya dan Khidir membalas salam kami. Kami sangat gembira dan berkata “Alhamdulillah, sesungguhnya perjalanan kita telah diridhai Allah, dan yang mencari telah mendapatkan yang dicari, karena bukankah manusia suci sendiri telah datang untuk menyambut kita’. Tapi, saat itu juga berserulah sebuah suara di dalam diri kami: “Kalian pendusta dan berpura-pura! Demikianlah kata-kata dan janji kalian dahulu? Kalian lupa pada Ku dan memuliakan yang lain. Binasalah kalian! Aku tidak akan membuat perdamaian dengan kalian sebelum nyawa kalian ku cabut sebagai pembalasan dan sebelum darah kalian ku tumpahkan dengan pedang kemurkaan!” Manusia-manusia yang engkau saksikan terkapar di sini, semuanya adalah korban dari pembalasan itu. Wahali Ibrahim, berhati-hatilah engkau! Engkau pun mempunyai ambisi yang sama. Berhati-hatilah atau menyingkirlah jauh-jauh!.”
Aku sangat gemetar mendengar kisah itu. Aku bertanya kepada nya :”Tetapi mengapakah engkau tidak turut dibinasakan?”
“Kepadaku dikatakan : Sahabat-sahabatmu telah matang sedang engkau masih mentah. Biarlah engkau hidup beberapa saat lagi dan segera akan menjadi matang. Setelah matang engkau pun akan menyusul mereka.”.
Setelah berkata demikian ia pun menghembuskan nafasnya yag terakhir.
oooOOOooo
Empat belas tahun lamanya Ibrahim mengarungi padang pasir, dan selama itu pula ia selalu berdoa dan merendahkan diri kepada Allah. Ketika, hampir sampai ke  kota Mekkah, para sesepuh kota hendak menyambutnya, Ibrahim mendahului rombongan agar ridak seorang pun dapat mengenali dirinya. Hamba-hamba yang mendahului para sesepuh tanah suci melihat Ibrahim, tetapi karena belum pernah bertemu dengannya, mereka tak mengenalnya. Setelah Ibrahim begitu dekat, para sesepuh itu berseru : “Ibrahim bin Ad-ham hampir sampai. Para sesepuh tanah suci telah datang menyambutnya.”
“Apakah yang kalian inginkan dari si bid’ah itu?” tanya Ibrahim kepada mereka. Mereka langsung meringkus Ibrahim dan memukulinya.
“Para sesepuh tanah suci sendiri datang menyambut Ibrahim tetapi engkau menyambutnya bid’ah?” hardik mereka.
“Ya, aku katakan bahwa dia adalah seorang bid’ah”, Ibrahim mengulangi ucapannya.
Ketika mereka meninggalkan dirinya, Ibrahim berkata pada dirinya sendiri: “Engkau pernah menginginkan agar para sesepuh itu datang menyambut kedatanganmu, bukankah telah engkau peroleh beberapa pukulan dari mereka? Alhamdulillah, telah kusaksikan betapa engkau telah memperoleh apa yang engkau inginkan!”
Ibrahim menetap di Mekkah. Ia selalu dikelilingi oleh beberapa orang sahabat dan ia memperoleh nafkah dengan memeras keringat sebagai tukang kayu.

IBRAHIM DIKUNJUNGI OLEH PUTERANYA

Ketika berangkat dari Balkh, Ibrahim bin Ad-ham meninggalkan seorang putera yang masih menyusui. Suatu hari, setelah si putera telah dewasa, ia menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya.
“Ayahmu telah hilang!”. Si ibu menjelaskan.
Setelah mendapat penjelasan ini, si putera membuat sebuah maklumat bahwa barang siapa yang bermaksud menunaikan ibadah haji, diminta supaya berkumpul. Empat ribu orang datang memenuhi panggilan ini. Kemudian ia lalu memberikan biaya makan dan unta selama dalam perjalanan kepada mereka itu. Ia sendiri memimpin rombongan itu menuju kota Mekkah. Dalam hati ia berharap semoga Allah mempertemukan dia dengan ayahnya. Sesampainya di Mekkah, di dekat pintu Masjidil Haram, mereka bertemu dengan serombongan sufi yang mengenakan jubah kain perca.
“Apakah kalian mengenal Ibrahim bin Ad-ham?” si pemuda bertanya kepada mereka.
“Ibrahim bin Ad-ham adalah sahabat kami. Ia sedang mencari makanan untuk menjamu kami.”
Pemuda itu meminta agar mereka sudi mengantarkannya ke tempat Ibrahim saat itu. Mereka membawanya ke bagian kota Mekkah yang dihuni oleh orang-orang miskin. Di sana dilihatnya betapa ayahnya bertelanjang kaki dan tanpa menutup kepala sedang memikul kayu bakar. Air matanya berlinang tapi ia masih dapat mengendalikan diri. Ia lalu membuntuti ayahnya sampai ke pasar. Sesampainya di pasar si ayah mulai berteriak-teriak : “Siapakah yang suka membeli barang yang halal dengan barang yang halal?!”
Seorang tukang roti menyahuti dan menerima kayu api tersebut dan memberikan roti kepada Ibrahim. Roti itu dibawanya pulang lalu disuguhkannya kepada sahabat-sahabatnya.
Si putera berpikir-pikir dengan penuh kekuatiran : “Jika kukatakan kepadanya siapa aku, niscaya ia akan melarikan diri.” Oleh karena itu ia pun pulang meminta nasihat dari ibunya, bagaimana cara yang terbaik untuk mengajak ayahnya pulang. Si Ibu menasehatkan agar ia bersabar hingga tiba saat melakukan ibadah haji.
Setelah tiba saat menunaikan ibadah haji, sang anak pun pergi ke Mekkah. Ibrahim sedang duduk beserta sahabat-sahabatnya.
“ Hari ini di antara jama’ah haji banyak terdapat perempuan dan anak-anak muda.” Ibrahim menasehati mereka. “Jagalah mata kalian.”
Semuanya menerima nasehat Ibrahim itu. Para jama’ah memasuki kota Mekkah dan melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, Ibrahim beserta para sahabatnya melakukan hal yang serupa. Seorang pemuda yang tampan menghampirinya dan Ibrahim terkesima memandanginya. Sahabat-sahabat Ibrahim yang menyaksikan kejadian ini merasa heran namun menahan diri sampai selesai thawaf.
“Semoga Allah mengampunimu,” mereka menegur Ibrahim. “Engkau telah menasehati kami agar menjaga mata dari setiap perempuan atau kanak-kanak, tetapi engkau sendiri telah terpesona memandang seorang pemuda tampan.”
“Jadi kalian telah menyaksikan perbuatanku itu?.”
“Ya, kami telah menyaksikannya,” jawab mereka.
“Ketika perdi dari Balkh,” Ibrahim mulai memberi penjelasan, “aku meninggalkan seorang anakku yang masih menyusui. Aku yakin pemuda tadi adalah anakku sendiri.”
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Ibrahim, salah seorang sahabatnya pergi mengunjungi perkemahan jama’ah dari Balkh. Di antara semua kemah-kemah itu ada sebuah kemah yang terbuat dari kain brokat. Di dalamnya berdiri sebuah mahligai dan di atas mahligai itu si pemuda sedang duduk membaca al-Qur’an sambil menangis. Sahabat Ibrahim tersebut meminta izin untuk masuk.
“Dari manakah engkau datang?”, tanyanya kepada si pemuda.
“Dari Balkh,” jawab si pemuda.
“Putera siapakah engkau?”.
Si pemuda menutup wajahnya lalu menangis. “Sampai kemarin aku belum pernah menatap wajah ayahku.” Katanya sambil memindahkan a;-Qur’an yang sedang dibacanya tadi. “Walaupun demikian, aku belum merasa pasti apakah ia ayahku atau bukan. Aku kuatir jika ku katakan kepadanya siapa aku sebenarnya, ia akan menghindarkan diri kembali dari kami. Ayahku adalah Ibrahim bin Ad-ham, raja dari Balkh.”
Sahabat Ibrahim lalu membawa si pemuda bertemu dengan ayahnya. Ibunya pun turut menyertai mereka. Ketika mereka sampai ke tempat Ibrahim, Ibrahim sedang duduk bersama sahabt-sahabatnya di depan pojok Yamani. Dari kejauhan Ibrahim telah melihat sahabatnya datang beserta si pemuda dan ibunya. Begitu melihat Ibrahim, wanita itu menjerit dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
“Inilah ayahmu!.”
Semuanya gempar. Semua orang yang berada di tempat itu serta sahabat-sahabat Ibrahim menitiskan air mata. Begitu si pemuda dapat menguasai diri, ia segera mengucapkan salam kepada ayahnya. Ibrahim menjawab salam anaknya kemudian merangkulnya.
“Agama apakah yang engkau anut?”, tanya Ibrahim kepada anaknya.
“Agama Islam.”
“Alhamdulillah,” ucap Ibrahim. “dapatkah engkau membaca al-Qur’an?,”
“Ya”, jawab anaknya.
“Alhamdulillah. Apakah engkau sudah mendalami agama ini?”.
“Sudah”.
Setelah itu Ibrahim hendak pergi tetapi anaknya tidak mau melepaskannya. Ibunya meraung keras-keras. Ibrahim menengadahkan kepalanya dan berseru :
“Ya Allah, selamatkanlah diriku ini.”
Seketika itu juga anaknya yang sedang berada dalam rangkulannya menemui ajal.
“Apakah yang terjadi Ibrahim?”, sahabat-sahabatnya bertanya..
“Ketika aku merangkulnya,” Ibrahim menerangkan, “timbullah rasa cintaku kepada anakku, dan sebuah suara berseru kepadaku : “Engkau mengatakan bahwa engkau mencintai Aku, tetapi nyatanya engkau mencintai seorang lain di samping Aku. Engkau telah menasehati sahabat-sahabatmu agar mereka tidak memandang wanita dan perempuan, tetapi hatimu sendiri lebih tertarik kepda wanita dan pemuda itu!”. Mendengar kata-kata itu akupun berdoa : “Ya Allah Yang Maha Besar, selamatkanlah diriku ini! Anak ini akan merenggut seluruh perhatianku sehingga aku tidak dapat mencintai-Mu lagi. Cabutlah nyawa anakku atau cabutlah nyawaku sendiri.”
Dan kematian anakku tersebut merupakan jawaban terhadap doaku.”

ANEKDOT-ANEKDOT MENGENAI DIRI IBRAHIM BIN AD-HAM

Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Ad-ham : “Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu?”.
“Pada suatu hari aku sedang duduk di atas tahta dan sebuah cermin dipegangkan di hadapanku. Aku memandang cermin itu, tiba-tiba yang terlihat olehku adalah sebuah kuburan sedang di dalamnya tak ada teman-teman yang ku kenal. Sebuah perjalanan yang jauh terbentang di depanku sedang aku tak punya bekal. Ku lihat seorang hakim yang adil sedang aku tidak mempunyai seorang pun yang membela diriku. Setelah kejadian itu aku benci melihat kerajaanku.”
“Mengapa pula engkau meninggalkan Khurasan?”, sahabat-sahabatnya bertanya.
“Di Khurasan banyak kudengarkan kata-kata mengenai Sahabat Sejati,” jawab Ibrahim.
“Mengapa engau tidak beristeri lagi?”.
“Maukah seorang wanita mengambil seorang suami  yang akan membuatnya lapar dan tak berpakaian?”, Ibrahim balik bertanya.
:Tidak!”, jawab mereka.
“Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi” Ibrahim menjelaskan. “Setiap wanita yang kunikahi akan lapar dan bertelanjang seumur hidupnya. Bahkan seandainya sanggup, aku ingin menceraikan diriku sendiri. Bagaimanakah aku dapat membawa seseorang yang lain di atas pelana kudaku?”.
Kemudian ia berpaling kepada seorang pengemis yang turut mendengarkan kata-katanya itu dan bertanya kepada pengemis itu :
“Apakah engkau mempunyai seorang isteri?.”
“Tidak,” jawab si pengemis.
“Apakah engkau mempunyai seorang anak?”
“Tidak”
“Baik sekali! Baik sekali!” seru Ibrahim.
“Mengapa engkau berkata demikian?”, si pengemis bertanya.
“Seorang pengemis yang menikah adalah seperti seorang yang menumpang sebuah perahu. Apabila anak-anaknya lahir, tenggelamlah ia.”
Suatu hari Ibrahim menyaksikan seorang pengemis sedang meratapi nasibnya.
“Aku menduga bahwa engkau membeli pekerjaan ini dengan gratis”, kata Ibrahim kepadanya.
“Apakah pekerjaan mengemis diperjualbelikan”, si pengemis bertanya heran.
“Sudah tentu!” jawab Ibrahim. “Aku sendiri telah membelinya dengan kerajaan Balkh. Dan aku merasa sangat beruntung!.”
oooOOOooo
Seseorang datang hendak memberi uang seribu dinar kepada Ibrahim. “Terimalah uang ini”, ketanya kepada Ibrahim.
“Aku tak mau menerima sesuatu pun dari para pengemis.”Jawab Ibrahim.
“Tetapi aku adalah seorang yang kaya,” balas orang itu.
“Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari yang telah engkau miliki sekarang ini?, tanya Ibrahim.
“Ya”, jawabnya.
“Bawalah kembali uang ini!. Engkau adalah ketua para pengemis. Engkau bahkan bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat papa dan terlunta-lunta.”.
Kepada Ibrahim dikabarkan mengenai seorang pertapa remaja yang telah memperoleh pengalaman-pengalaman menakjubkan dan telah melakukan disiplin yang sangat keras.
“Antarkanlah aku kepadanya karena aku ingin sekali bertemu dengannya,” kata Ibrahim.
Mereka mengantarkan Ibrahim ke tempat si pemuda bertapa.
“Jadilah tamuku selama tiga hari,” si pemuda mengundang Ibrahim. Ibrahim menerima undangannya dan selama itu pula Ibrahim memperhatikan tingkah lakunya. Ternyata yang disaksikan Ibrahim lebih menakjubkan daripada yang telah didengarnya dari sahabat-sahabatnya. Sepanjang malam si pemuda tidak pernah tertidur atau terlena. Menyaksikan semua ini Ibrahim merasa iri.
“Aku sedemikian lemah, tidak seperti pemuda ini yang tak pernah tidur dan beristirahat sepanjang malam. Aku akan mengamati dirinya lebih seksama,” Ibrahim berkata dalam hati. “Akan ku selidiki apakah syaithan telah masuk ke dalam tubuhnya atau apakah semua ini wajar sebagaimana yang semestinya. Aku harus meneliti sedalam-dalamnya. Yang menjadi inti persoalan adalah apa yang dimakan oleh seseorang.”
Maka diselidikinyalah makanan si pemuda. Ternyata si pemuda memperoleh makanan dari sumber yang tidak halal.
“Maha Besar Allah, ternyata semua ini adalah perbuatan syaithan,” Ibrahim berkata dalam hati.
“Aku telah menjadi tamumu selama tiga hari,” kata Ibrahim. “Kini engkaulah yang menjadi tamuku selama empat puluh hari!”.
Si pemuda setuju.  Ibrahim membawa si pemuda ke rumahnya dan menjamunya dengan makanan yang telah diperolehnya dengan memeras keringatnya sendiri. Seketika itu juga kegembiraan si pemuda hilang. Semua semangat dan kegesitannya buyar. Ia tidak dapat lagi hidup tanpa beristirahat dan tidur. Ia lalu menangis.
“Apakah yang telah engkau perbuat terhadapku?,” tanya si pemuda kepada Ibrahim.
“Makananmu engkau peroleh dari sumber yang tak halal. Setiap saat syaithan merasuk ke dalam tubuhmu. Tetapi begitu engkau menelan makanan yang halal, ketahuanlah bahwa semua hal-hal menakjubkan yang dapat engkau lakukan selama ini adalah pekerjaan syaithan.”
oooOOOooo
Sahl bin Ibrahim berkisah: Ketika melakukan perjalanan dengan Ibrahim bin Ad-ham aku jatuh sakit. Ibrahim menjual segala sesuatu yang dimilikinya dan mempergunakan uang yang diperolehnya itu untuk merawat diriku. Kemudian aku memohonkan sesuatu dari Ibrahim dan ia menjual keledainya dan hasil penjualan itu diperuntukkannya padaku. Setelah sembuh aku bertanya kepada Ibrahim.
“Di manakah keledaimu.”
“Telah ku jual!,” jawab Ibrahim.
“Apakah tungganganku?”, tanyaku.
“Saudaraku,” jawab Ibrahim, “naiklah ke atas punggung ku ini.”
Kemudian ia mengangkat tubuhku ke atas punggungnya dan menggendongku sampai ke persinggahan yang ketiga dari tempat itu.
oooOOOooo
Setiap hari Ibrahim pergi ke luar rumah untuk menjual tenaganya, bekerja hingga malam, dan seluruh pendapatannya digunakan untuk kepentingan sahabat-sahabatnya. Suatu hari, ia baru membeli makanan setelah selesai shalat ‘Isa dan kembali kepada sahabat-sahabatnya ketika hari telah larut malam.
Sahabat-sahabatnya berkata sesama mereka: “Ibrahim terlambat datang, marilah kita makan roti kemudian tidur. Hal ini akan menjadi peringatan kepada Ibrahim, agar lain kali agar ia pulang lebih cepat dan tidak membiarkan kita lama menunggu-nunggu.
Niat itu mereka laksanakan. Sewaktu Ibrahim pulang, dilihatnya sahabat-sahabatnya sudah tertidur. Mengira bahwa mereka belum makan dan tidur dengan perut kosong, Ibrahim lalu menyalakan api. Ia membawa sedikit gandum. Maka dibuatnyalah panganan untuk santapan sahabat-sahabatnya itu apabila mereka terbangun nanti, dengan demikian mereka dapat berpuasa esok hari. Sahabat-sahabatnya terbangun, melihat Ibrahim sedang meniup api, janggutnya menyentuh lantai dan air matanya meleleh karena asap yag mengepul-ngepul di sekelilingnya.
“Apakah yang sedang engkau lakukan?” tanya mereka.
“Ku lihat kalian sedang tidur,” jawab Ibrahim. “ Ku kira kalian belum memperoleh makanan dan tertidur dalam keadaan lapar, karena itu kubuatkan panganan untuk makanan kalian setelah bangun.
“Betapa ia memikirkan diri kita dan betapa kita berpikir yang bukan-bukan mengenai dirinya”, mereka saling berkata.
oooOOOooo
“Sejak engkau menempuh kehidupan yang seperti ini, apakah engkau mengalami kebahagiaan?”, seseorang bertanya kepada Ibrahim.
“Sudah, beberapa kali”, jawab Ibrahim. “Pada suatu ketika aku sedang berada di atas sebuah kapal dan nahkoda tak mengenal diriku. Aku mengenakan pakaian yang lusuh dan rambutku belum dicukur. Aku sedang berada dalam suatu ekstase spiritual (mabuk cinta dan tenggelam dalam lautan cinta Allah-Kisahteladan.web.id) namun tak seorang pun di atas kapal itu yang mengetahuinya. Mereka menertawai dan memperolok-olok ku. Di atas kapal itu ada seorang pembadut. Setiap kali menghampiriku ia menjambak rambutku dan menampar tengkukku. Pada saat itu aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat bahagia karena dihinakan sedemikian rupa.”
“Tanpa terduga-duga, datanglah gelombang raksasa. Semua yang berada di atas kapal kuatir kalau-kalau mereka akan tenggelam. “Salah seorang dari penumpang harus dilemparkan ke laut agar muatan jadi ringan!.” Teriak juru mudi. Mereka segera meringkusku untuk dilemparkan kelaut. Tetapi untunglah seketika itu juga gelombang mereda dan perahu itu tenang kembali. Pada saat mereka menarik telingaku untuk dilemparkan ke laut itulah aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat berbahagia.”
Dalam peristiwa yang lain, aku pergi ke sebuah masjid untuk tidur di sana. Tetapi orang-orang tidak mengijinkan aku tidur di dalam masjid itu sedangkan aku sedemikian lemah dan letih sehingga tak sanggup berdiri untuk meninggalkan tempat itu. Orang-orang menarik kakiku dan menyeretku ke luar. Masjid itu mempunyai tiga buah anak tangga. Setiap kali membentur anak tangga  itu, kepalaku mengeluarkan darah. Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai. Sewaktu mereka melemparkan diriku ke anak tangga yang berada di bawah, misteri alam semesta terbuka kepadaku dan aku berkata di dalam hati : “Mengapa masjid ini tidak mempunyai lebih banyak anak tangga sehingga semakin bertambah pula kebahagianku!.”
“Dalam peristiwa lain, aku sedang asyik dalam ekstase. Seorang pembadut datang dan mengencingiku. Pada saat itu aku pun merasa bahagia.”
“Dalam sebuah peristiwa, aku mengenakan sebuah mantel bulu. Mantel itu penuh dengan tuma yang tanpa ampun lagi mengganyang tubuhku. Tba-tiba aku teringat akan pakaian bagus yang tersimpan di dalam gudang, tetapi hatiku berseru : “Mengapa?’ Apakah semua itu menyakitkan?” Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai!.”
oooOOOooo
Ibrahim berkisah: Pada suatu hari ketika aku sedang mengarungi padang pasir dan aku berpasrah diri kepada Allah. Telah beberapa hari lamanya aku tidak makan. Aku teringat kepada seorang sahabat tetapi aku segera berkata kepada diriku sendiri, “Jika aku pergi ke tempat sahabatku, apakah gunanya kepasrahanku kepada Allah” Kemudian aku memasuki sebuah masjid sambil bibirku bergerak-gerak menggumamkan : “Aku telah mempercayakan diriku kepada Dia Yang Hidup dan tak pernah mati. Tidak ada Tuhan selain-Nya.” Sebuah suara berseru dari langit : “Maha besar Allah yang telah menggosongkan bumi bagi orang-orang yag berpasrah diri kepada-Nya.” Aku bertanya : “Mengapakah demikian?” Suara itu menjawab : “Betapakah seseorang benar-benar berpasrah diri kepada Allah, melakukan perjalanan jauh demi sesuap makanan yang dapat diberikan sembarang sahabatnya, kemudian menyatakan :Aku telah memasrahkan diriku kepada Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati?” Engkau telah memberikan ucapan berpasrah kepada Allah kepada seseorang pendusta.”.
oooOOOooo
Ibrahim berkisah : Pada suatu ketika aku membeli seorang hamba. “Siapakah namamu?”, tanyaku padanya.
“Panggilanmu terhadapku”, jawabnya.
“Apakah yang engkau makan?”
“Makanan yang kau berikan untuk kumakan.”
“Pakaian apakah yang engkau pakai.”
“Pakaian yang engkau berikan untuk kukenakan.”
“Apakah yang engkau kerjakan?”
“Pekerjakan yang engkau perintahkan kepadaku.”
“Apakah yang engkau inginkan?”
“Apakah hak seorang hamba untuk menginginkan?” jawabnya. “Celakalah engkau.” Kataku kepada diriku sendiri. “Seumur hidup engkau adalah hamba Allah. Kini ketahulah bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba.”
Sedemikian lamana aku menangis sehingga aku tidak sadarkan diri.
oooOOOooo
Tak seorang pun pernah menyaksikan Ibrahim duduk bersila.
“Menapa engkau tak pernah duduk bersila?” tanya seseorang kepadanya.
Ibrahim menjawab : “Pada suatu hari ketika aku duduk bersila terdengar olehku suara yang berkata kepadaku : “Wahai anak Adam, apakah hamba-hamba duduk seperti itu di hadapan tuan mereka ?”
Segeralah aku duduk tegak dan memohon ampunan.”
oooOOOooo
Ibrahim berkata: Pada suatu ketika aku berjalan menempuh padang pasir sambil memasrahkan diri kepada Allah. Sudah tiga hari lamanya aku tidak makan. Kemudian syaithan datang kepadaku dan menggoda : “Apakah engkau meninggalkan kerajaanmu beserta kemegahan-kemegahan yang sedemikian banyak hanya untuk pergi ke tanah suci dalam keadaan lapar seperti ini? Sesungguhnya engkau dapat melakukan hal yang serupa tanpa penderitaan ini.”
Setelah mendengar kata-kata syaithan itu aku tengadahkan kepalaku dan berseru kepada Allah : “Ya Allah, apakah Engkau lebih suka menganggkat musuh-Mu daripada sahabat-Mu untuk menyiksa diriku? Kuatkanlah diriku karena aku tak sanggup menyeberangi padang pasir ini tanpa pertolongan Mu.”
Maka terdengarlah olehku sebuah seruan :
“Ibrahim, campakanlah yang di dalam sakumu itu sehingga Kami dapat mendatangkan karunia Kami dari alam ghaib.”
Aku rogoh sakuku, kudapatkan empat buah mata uang perak yang tanpa sengaja terbawa olehku. Begitu aku melemparkan uang itu, si syaithan lari meninggalkan diriku dan secara ghaib di depanku telah terhidang makanan.
oooOOOooo
Aku pernah bekerja menjaga sebuah kebun buah-buahan. Pada suatu hari pemilik kebun itu datang kepadaku dan berkata : “Ambilkanlah padaku beberapa buah delima yang manis rasanya.” Maka ku ambilkan beberapa buah tetapi ternyata rasanya asam.
“Bawakanlah buah-buahan yang manis.” Si pemilik kebun mengulangi perintahnya. Maka Ku bawakan delima sepinggan penuh, namun buah-buahan itu asam pula rasanya.
Si pemilik kebun berseru : Masya Allah, telah sedemikian lama engkau bekerja di kebun ini namun engkau tidak mengenal buah delima yang telah masak.”
“Aku menjaga kebunmu namun aku tak tahu bagaimana rasanya buah delima karena aku tak pernah mencicipinya.” Jawabku.
 Maka berkatalah si pemilik kebun : “Dengan keteguhan yang seperti ini, aku mempunyai persangkaan bahwa engkau adalah Ibrahim bin Ad-Ham.”
Setelah mendengar kata-kata tersebut segeralah aku meninggalkan tempat itu.
oooOOOooo
Ibrahim mengisahkan : Pada suatu malam, dalam sebuah mimpi kulihat Jibril turun ke bumi membawa segulung kertas di tangannya.
Aku bertanya kepadanya : “Apakah yang hendak engkau lakukan?”
“Aku hendak mencatat nama sahabat-sahabat Allah.” Jawab Jibril .
“Catatlah namaku,” aku bermohon kepadanya.
“Engkau bukan salah seorang sahabat-sahabat Allah” jawab Jibril.
“Tetapi aku adalah seorang sahabat dari sahabat-sahabat Allah itu,” aku memohon hampir putus asa.
Beberapa saat Jibril terdiam. Kemudian ia berkata : “Telah kuterima sebuah perintah : “Tulislah nama Ibrahim di tempat paling atas karena di dalam jalan ini harapan tercipta dari keputusasaan.”
oooOOOooo
Suatu hari ketika Ibrahim sedang berada di sebuah padang pasir, seorang tentara menegurnya :
“Siapakah engkau?”
“Seorang hamba”, jawab Ibrahim.
“Manakah jalan ke perkampungan?” tanya tentara itu itu. Ibrahim lalu menunjuk ke sebuah pemakaman.
“Engkau memperolok-olok aku,” hardik si tentara, kemudian memukul kepala Ibrahim hingga luka dan berdarah. Setelah itu ia mengalungkan tali ke leher Ibrahim dan menyeretnya. Beberapa orang dari kota yang terletak di tempat kejadian itu kebetulan lewat. Menyaksikan hal ini mereka berhenti dan berseru :
“Hai orang bodoh, orang ini adalah Ibrahim bin Ad-ham, sahabat Allah!...
Si serdadu cepat-cepat berlutut di depan Ibrahim bin Ad-ham, memohon agar ia dimaafkan.
“Engkau mengatakan bahwa engkau adalah seorang hamba.” Si serdadu mencoba membela  diri.
“Siapakah orang yang bukan hamba?” tanya Ibrahim.
“Aku telah melukai kepalamu tetapi engkau malah mendoakan keselamatanku.”
“Aku mendoakan agar engkau memperoleh berkah karena perlakuanmu terhadap diriku,” jawab Ibrahim. “Imbalan terhadap diriku karena perlakuanmu itu adalah surga dan aku tidak tega jika imbalan untukmu adalah neraka.”
“Mengapakah engkau menunjukan pemakaman ketika aku menanyakan jalan ke perkampungan?” tanya si serdadu.
Ibrahim mejawab : “Karena semakin lama, pemakaman semakin penuh sedangkan kota semakin kosong.
oooOOOooo
Suatu hari Ibrahim bertemu dengan seorang yang sedang mabuk. Mulutnya berbau busuk. Segera Ibrahim mengambil air dan dibasuhnya mulut si pemabuk itu sambil berkata kepada dirinya sendiri :
“Apakah akan kubiarkan mulut yang pernah mengucapkan nama Allah di dalam keadaan kotor. Itu namanya tidak memuliakan Allah.”
Ketika si pemabuk siuman, orang-orang berkata kepadanya : “Pertapa dari Khurasan telah membasuh mulutmu.”
Si pemabuk menjawab : “Sejak saat ini aku bertaubat!.”
Setelah bertaubat demikian, Ibrahim di dalam mimpinya mendengar sebuah seruan kepadanya :
“Engkau telah membasuh sebuah mulut demi Allah dan Aku telah membasuh hatimu.”
oooOOOooo
Rajah berkisah : Ketika aku dan Ibrahim sedang menumpang sebuah perahu, tiba-tiba angin topan datang menerpa dan bumi menjadi kelam. Aku berteriak : “Perahu kita akan tenggelam!.”
“Tetapi dari langit ku dengar suara: Jangan kuatirkan perahu akan tenggelam karena Ibrahim bin Ad-ham ada beserta kalian.”
Segera setelah itu angin mereda dan bumi yang kelam menjadi terang kembali.
oooOOOooo
Ibrahim menumpang perahu tetapi ia tidak mempunyai uang. Kemudian terdengar sebuah pengumuman : “Setiap orang harus membayar satu dinar.”
Ibrahim segera shalat sunnat dua raka’at dan berdoa :
“Ya Allah, mereka meminta ongkos, tetapi aku tak mempunyai uang.”
Mendadak lautan luas berubah menjadi emas. Ibrahim mangambil segenggam dan memberikannya kepada mereka.
oooOOOooo
Suatu hari Ibrahim duduk di tepi sungai Tigris menjahit jubah tua-nya. Jarumnya terjatuh ke dalam sungai. Seseorang bertanya kepadanya :
“Engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang jaya, tetapi apakah yang telah engkau peroleh sebagai imbalan?”
Sambil menunjuk ke sungai Ibrahim berseru :
“Kembalikanlah jarum ku!.”
Seribu ekor ikan mendongakkan kepala ke permukaan air, masing-masing dengan sebuah jarum emas di mulutnya. Kepada ikan-ikan itu Ibrahim berkata :
“Yang aku inginkan adalah jarumku sendiri.”
Seekor ikan yang kecil dan lemah datang mengantarkan jarum kepunyaan Ibrahim di mulutnya.
“Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang ku peroleh karena meninggalkan kerajaan Balkh. Sedang yang lain-lainnya belum engkau ketahui.
oooOOOooo
Suatu hari Ibrahim pergi ke sebuah sumur. Timba diturunkannya dan ketika diangkat ternyata timba itu penuh dengan kepingan emas. Emas-emas itu ditumpahkannya kembali ke dalam sumur. Kemudian timba diturunkan dan ketika diangkat ternyata penuh pula dengan butiran-butiran mutiara. Dengan jenaka mutiara-mutiara itu ditumpahkannya pula. Kemudian Ibrahim beroda kepada Allah :
“Ya Allah, Engkau menganugerahi ku dengan harta karun. Aku tahu bahwa Engkau Maha Kuasa,tetapi Engkau pun tahu bahwa aku tak ingin terpesona oleh harta benda. Berilah aku air agar aku dapat bersuci.”
oooOOOooo
Ketika Ibrahim menyertai sebuah rombongan yang hendak berziarah ke tanah suci. Mereka berkata: “ Tak seorang pun di antara kita yang mempunyai unta maupun perbekalan.”
“Percayalah bahwa Allah akan menolong kita,” kata Ibrahim. Setelah diam sebentar, ia menambahkan: “Pandanglah pohon-pohon di sana. Jika emas yang kalian inginkan, maka pohon-pohon itu niscaya akan berubah menjadi emas.”
Dan seketika itu juga pohon-pohon akasia itu, dengan kekuasaan Allah Yang Maha Besar, berubah menjadi emas.
oooOOOooo
Ibrahim sedang berjalan dengan sebuah rombongan, mereka tiba di sebuah benteng. Di depan benteng itu banyak terdapat semak belukar.
“Baiklah kita bermalam di sini karena di tempat ini banyak semak belukar sehingga kita dapat membuat api unggun.” Kata mereka.
Mereka pun menghidupkan api dan duduk di sekelilingnya. Semuanya memakan roti kering ketika Ibrahim sedang berdiri dalam shalatnya. Salah seorang di antara mereka berkata :
“Seandainya kita mempunyai daging yang halal untuk kita panggang di atas api ini!.”
Setelah selesai shalat, Ibrahim berkata kepada mereka: “Sudah pasti Allah dapat memberikan daging yang halal kepada kamu sekalian.”
Setelah selesai berkata demikian Ibrahim bangkit dan shalat kembali. Tiba-tiba terdengarlah auman seekor singa yang menyeret keledai liar. Singa itu menghampiri mereka. Keledai itu mereka ambil, mereka panggang untuk kemudian mereka makan sementara si singa duduk memperhatikan segala tingkah mereka.


Tags:
ibrahim bin adham, kisah ibrahim bin adham, kisah teladan ibrahim bin adham, kisah sufi, kisah sufi ibrahim bin adham, riwayat ibrahim bin adham, ibrahim bin adham dari balkh, ibrahim dari balkh, kisah ibrahim raja balkh, kisah petualangan ibrahim bin adham, riwayat singkat ibrahim bin adham.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More